Kamis, 28 April 2011

Puncak Gunung Bulusaraung!!!

Sebelum ini, rasanya belum pernah saya mendaki gunung yang benar-benar gunung. Palingan bukit-bukit yang dua atau mungkin tiga kali lebih pendek dari gunung. Tapi kali saya berhasil menginjakkan kaki di puncak Gunung Bulusaraung yang ketinggiannya kurang lebih 1353 mdpl, bersama 16 orang lainnya pas 22-24 April lalu☻

Sebenarnya untuk sampai kesana sudah disediakan jalur utama biar para pendaki tidak terlalu susah manjat. Tapi katanya biar lebih 'menantang', jadinya kami tidak langsung masuk ke jalur utama itu. Kami buka jalur baru, lewat jalanan yang terjal abis-abisan. Apalagi disana lagi musim hujan dan jalanannya itu beceknya innalillah, bikin pendakian kami makin bahaya. Sampe kak Furqan sm Dika yang nyaris mati gara-gara jatuh ketimpa batu yang menggelinding dari atas. Termasuk saya yang kepeleset dan lebih sering nyesot ketimbang jalan kaki.

Sejujurnya saya tidak menghitung jarak dari pos satu ke pos lainnya, tapi perjalanan itu jelas bikin tenaga betul-betul terkuras. Berjam-jam mendaki gunung lewati lembah-halah- dengan persediaan air yang semakin menipis, akhirnya kami hampir sampai di pos 8. Sempat heran sih, kenapa dari pos 2 tau tau sudah hampir pos 8? Kata kak Darwin, "karena kita nda lewat jalur utama". Syukurlah, pikirku. Ya iyalah jalan makin singkat siapa yang tidak bersyukur. Setelah itu kami terus berjalan. Jalan jalan jalan dan jalan, lagi-lagi saya yang semakin bingung bertanya sebenernya pos 8 lari kemana? Perasaan dari tadi hampir terus ya kalo gini kapan sampainya? Dan tahukah anda apa yang terjadi? Jeng jeng jeng jeng kami tiba di pos 3 HAHA!! Kali ini bukan cuma saya yang heran, semuanya juga heran. Tadi katanya hampir pos 8 kenapa sekarang sampainya di pos 3? Gusti.. terima kasih karena ternyata daritadi kami itu salah jalur alias KESASAR! *gubrak-_-

Justify FullKami pun sepakat ngikutin jalur utama. Selain mencegah salah jalan lagi, sepertinya memang cuma itu satu-satunya jalur untuk bisa sampai ke puncak. Dengan persediaan air yang akhirnya habis, tenggorokan yang kering-kerontang dan urat-urat kaki yang nyaris putus, kami kembali berjalan mengejar waktu sebelum langit gelap. Kami putuskan untuk fokus pada waktu dan mengabaikan semua rasa lelah kami. Selama perjalanan kami sempat berpapasan dengan rombongan pendaki lain, saling senyum dan bertegur sapa. Ini juga salah satu yang menarik dari mendaki gunung. Tidak peduli siapa, semua yang kita temui akan jadi seperti saudara seperti teman seperjuangan. Singkat cerita sampailah di pos 8. Saya tidak tahu kata yang tepat untuk menjelaskan panorama yang semesta berikan saat itu. Saya sempat mengambil beberapa foto pakai kameranya Oli, tapi sayang sekali sepertinya memorinya rusak sebelum semua fotonya dipindahkan. Cuma ada beberapa foto lain yang tersisa.

Selanjutnya kami terus berjalan dan tiba lah di pos 9, pos akhir sebelum puncak alhamdulillah. Ternyata banyak pendaki lain yang camp disana, entah sudah berapa lama. Pos ini memang tempatnya camp buat para pendaki, karena keadaan puncak katanya sangat tidak memungkinkan untuk membangun tenda. Kami pun putuskan camp disana. Saya dan beberapa anggota lain langsung nyari sumber mata air yang letaknya tidak jauh dari pos 9, untuk mengisi persediaan air sekaligus membasahi tenggorokan yang dehidrasi. Menuruni pendakian dengan batu-batu besar dan akhirnya ketemu. Melihat mata air itu, rasanya seperti hidup kembali. Mengalir jernih. Surgaaaaa!

Selangkah lagi kami sampai di pos 10, yang artinya puncak Gunung Bulusaraung. Pikirku waktu itu, mendaki Gunung Bulusaraung tapi tidak sampai puncaknya ya sama saja bohong. Rugi! Maka dari itulah sehabis bangun tenda, makan dan istirahat sebentar, saya putuskan ikut naik ke puncak. Kali ini jalurnya lepih pendek tapi juga jauh lebih terjal dengan batu-batu besar seukuran badan manusia. Hampir 85 derajat lah. Biarpun begitu..see? Saya tidak menyesal sama sekali. Malahan takjub subhanallah aroma anginnya saja sejuuuuk sekali. Sejauh mata memandang semuanya.......yah semesta memang punya alam yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Capek yang daritadi menggerogoti badan rasanya seperti hilang dalam sekejap. Sebentar saya menikmati ciptaan Tuhan yang satu itu, tidak lama kemudian pemandangan mulai ketutup kabut karena langit sebentar lagi mulai gelap. Begitu puas akhirnya kami kembali turun ke camp. Kali ini hujan datang lebih cepat dan memaksa kami masuk tenda lebih cepat pula. Tidak ada api unggun, tidak ada kopi atau teh panas dan tidak ada ngobrol panjang seperti saat camp di kaki gunung sebelum mulai mendaki. Hujan memaksa kami tidur, sekaligus menjaga stamina kami. Keesokan harinya, kami semua turun lebih pagi. Kembali mengejar waktu.
 
Terima kasih untuk 3 harinya. Untuk pengalamannya. Untuk semua yang saya dapat selama pendakian. Sekarang saya tau kenapa kata orang naik gunung itu nagih. Kenapa naik gunung bisa bikin diri kita yang asli keluar, bisa bikin orang yang biasanya baik jadi egois atau yang biasanya egois jadi setia kawan. Kata Monkey To Millionare, "Thank you, thank you for makin' these life feel so grounded"

1 komentar: