Jauh dari rutinitas biasanya, dari dosen, manekin, preparat, rumah sakit, puskesmas, modul, laporan, surat hingga skripsi. Juga jauh dari kuliah, rapat, observasi, pleno, arisan hingga reuni. Hanya disini, duduk di sebuah ruangan berdominasi cokelat-putih ukuran 5x6 yang sebagiannya dilapisi wallpaper corak rumput dengan warna lebih gelap dan sebagiannya lagi polos tanpa corak. Sebuah hotel kecil di tengan kota kecil pula yang jaraknya butuh sekitar 60 menit dari sebuah bandara kecil yang bahkan sulit disebut bandar udara.
Perjalanan panjang namun singkat ini membuat saya merenungkan banyak hal. Bahwa saya belum cukup tangguh untuk menjadi self-driver alias supir bagi hidup saya sendiri. Perjalanan akhir tahun yang mengantarkan saya mengenal lebih dekat dengan sebuah kata bernama "keluarga". The big family with the big problems.
Ketika saya menginjak usia 21 tahun, sudah banyak perubahan yang terjadi dalam hidup saya. Terlalu sibuk mencoba banyak hal dan menjadi orang lain untuk mengenal diri saya yang sebenar-benarnya, terlalu sibuk membuktikan bahwa dunia saya masih teramat sangat kecil, dan di saat yang bersamaan tanpa sadar melupakan banyak momen bersama orang-orang yang seharusnya lebih saya kenal.
Merunut sedikit ke belakang, terkadang saya kesal ketika tanpa sengaja duduk depan TV dan menemukan sinetron khas ala Indonesia. Namanya juga sinetron. Alur cerita yang terlalu dramatis dan dibuat-buat. Tapi pada beberapa titik kehidupan saya menyadari satu hal, bahwa sinetron hanyalah cerminan kenyataan. Si antagonis dengan kejahatannya menghalalkan segala cara dan si protagonis yang tidak berdaya. Nyatanya kehidupan saya sangat dekat dengan keduanya. Lebih ironis, film dan drama romantis khas ala barat dan asia yang terkesan alami justru sangat jauh dari kenyataan.
Pada akhirnya, perjalanan ini menyadarkan bahwa 21 tahun seharusnya sudah cukup bagi saya. Cukup dewasa untuk mencari sendiri kebahagiaan dengan mengorbankan diri sendiri demi orang lain. Meski terlalu takut untuk benar-benar menjadi dewasa dan meninggalkan banyak hal menyenangkan. Tapi apa mau dikata ketika konspirasi alam dan semesta yang menuntut. Karena waktu adalah waktu dan ia bekerja sebagaimana mestinya.
From blessed to love,
Nn