Friday, December 25, 2015

Waktu Adalah Waktu Dan Ia Bekerja Sebagaimana Mestinya

Jauh dari rutinitas biasanya, dari dosen, manekin, preparat, rumah sakit, puskesmas, modul, laporan, surat hingga skripsi. Juga jauh dari kuliah, rapat, observasi, pleno, arisan hingga reuni. Hanya disini, duduk di sebuah ruangan berdominasi cokelat-putih ukuran 5x6 yang sebagiannya dilapisi wallpaper corak rumput dengan warna lebih gelap dan sebagiannya lagi polos tanpa corak. Sebuah hotel kecil di tengan kota kecil pula yang jaraknya butuh sekitar 60 menit dari sebuah bandara kecil yang bahkan sulit disebut bandar udara.

Perjalanan panjang namun singkat ini membuat saya merenungkan banyak hal. Bahwa saya belum cukup tangguh untuk menjadi self-driver alias supir bagi hidup saya sendiri. Perjalanan akhir tahun yang mengantarkan saya mengenal lebih dekat dengan sebuah kata bernama "keluarga". The big family with the big problems.

Ketika saya menginjak usia 21 tahun, sudah banyak perubahan yang terjadi dalam hidup saya. Terlalu sibuk mencoba banyak hal dan menjadi orang lain untuk mengenal diri saya yang sebenar-benarnya, terlalu sibuk membuktikan bahwa dunia saya masih teramat sangat kecil, dan di saat yang bersamaan tanpa sadar melupakan banyak momen bersama orang-orang yang seharusnya lebih saya kenal.

Merunut sedikit ke belakang, terkadang saya kesal ketika tanpa sengaja duduk depan TV dan menemukan sinetron khas ala Indonesia. Namanya juga sinetron. Alur cerita yang terlalu dramatis dan dibuat-buat. Tapi pada beberapa titik kehidupan saya menyadari satu hal, bahwa sinetron hanyalah cerminan kenyataan. Si antagonis dengan kejahatannya menghalalkan segala cara dan si protagonis yang tidak berdaya. Nyatanya kehidupan saya sangat dekat dengan keduanya. Lebih ironis, film dan drama romantis khas ala barat dan asia yang terkesan alami justru sangat jauh dari kenyataan.

Pada akhirnya, perjalanan ini menyadarkan bahwa 21 tahun seharusnya sudah cukup bagi saya. Cukup dewasa untuk mencari sendiri kebahagiaan dengan mengorbankan diri sendiri demi orang lain. Meski terlalu takut untuk benar-benar menjadi dewasa dan meninggalkan banyak hal menyenangkan. Tapi apa mau dikata ketika konspirasi alam dan semesta yang menuntut. Karena waktu adalah waktu dan ia bekerja sebagaimana mestinya.

From blessed to love,
Nn

Wednesday, April 1, 2015

Suatu Hari

Suatu hari.
Iya. Suatu hari.
Suatu hari akan kubagi rahasiaku ketika aku benar-benar siap untuk membaginya, seperti kamu yang sudah membagi rahasia tentang sejarah ayah dan ibumu.
Suatu hari akan kuceritakan kejamnya seorang gadis di masa lalu, yang mungkin akan membuatmu jijik karena kekejamannya.
Suatu hari akan kudongengkan kisah remaja 18 tahun yang mengalami jungkir balik dalam kehidupannya.
Suatu hari akan kucurahkan rasa terpendam di hari-hari belum-bisa-dibilang-dewasa-dan-bukan-remaja-lagi 20 tahun yang begitu bodohnya membiarkan sekian orang mematahkan hatinya.
Suatu hari akan kulirihkan penyesalan karena berurai air mata untuk seseorang yang bahkan tak pernah memikirkanku.
Suatu hari.
Iya. Suatu hari.

Pernah kudengar seorang teman berkata dan memaki dirinya sendiri dengan kebodohan.
Tapi apa yang lebih bodoh dari tetap bertahan walau tak pernah dijadikan prioritas?
Apa yang lebih bodoh dari jatuh berkali-kali dan berdiri lagi walau tak ada yang mengulurkan tangan?
Apa yang lebih bodoh dari terus menerus mengorbankan perasaan di atas akal?
Dan apa yang lebih bodoh dari menyia-nyiakan orang yang sebenar-benarnya peduli padamu?
Seolah tak pernah belajar bahwa terlalu baik itu beda tipis dengan terlalu bodoh.

Untuk Februari yang menyedihkan dan Maret yang membahagiakan, tanpa bermaksud memilih kasih pada satuan waktu.
Selamat datang, April dan seterusnya. Lembaran kisahku masih terus kuukir hingga suatu hari menjadi buku yang bisa kudongengkan pada siapapun yang ingin didongengkan.
Iya, suatu hari.

Hopeffully,
To love and to be loved unconditionally.

Wednesday, February 18, 2015

Ini Hanya Belokan, Bukan Jalan Buntu

Puluhan menit kutatap wajah yang ada di hadapanku. Ada wajah yang tak terbaca disana. Urat kekecewaan, syukur luar biasa dan bingung yang bercampur menjadi satu kesatuan. Sejak lama perasaan seperti ini terkubur. Namun hari ini bersama kegelapan pukul 01.40 waktu setempat, ia bangkit dan hadir kembali.

Bung Karno pernah bilang, ada suatu masa ketika kau hanya ingin sendiri saja bersama angin menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata. Tapi, pernahkah kau merasa sangat ingin menangis lalu tak bisa meneteskan air mata?...

Karena itu, di suatu sore ku putuskan untuk berlari. Kukenakan setelan kombinasi tosca dan putih ternyamanku dengan harapan bisa memutari lapangan sebanyak mungkin dengan waktu selama mungkin tanpa khawatir perasaanku terusik oleh ketidaknyamanan. Benakku sudah memutuskan untuk fokus hanya pada satu hal, mengumpulkan semua kegundahan di bawah langit sore itu dan membuangnya disana. Kuhabiskan 30 menit 5 putaran penuh tanpa henti dan tibalah akhir dari sebuah “pelarian”.

Sepanjang 30 menit itu, kurenungkan semua yang perlu kurenungkan. Mengingat pengalaman luar biasa menyenangkan yang terjadi selama beberapa hari sebelumnya. Belajar tentang banyak hal. Aku belajar tentang waktu yang akan terus berjalan sebagaimana mestinya. Bahwa tak ada waktu yang paling tepat selain waktu yang kita ciptakan sendiri. Aku belajar memaknai kata demi kata, membantuku memahami setiap detail kehidupan. Belajar mencari tahu apa yang benar-benar aku inginkan. Belajar sedikit tentang jagad raya dan alam semesta yang menyembah Tuhan dengan caranya masing-masing. Aku belajar mencintai Tuhan dan membuktikan sendiri dengan mata hatiku bahwa Tuhan itu ADA dan ESA.

Sepanjang 30 menit itu, kusimpulkan semua yang perlu kusimpulkan. Ironis. Ketika tempatku belajar bukanlah sekolah, perguruan tinggi apalagi tempat ibadah. Melainkan hanyalah sebuah bangunan tua yang didominasi hijau dan hitam. Ya, bukankah belajar bisa dimana saja? Dan lebih ironis, ketika pembuktian-pembuktian sebelumku justru tidak disertai aksi nyata. Lalu untuk apa pembuktian ini?, tanyaku dalam hati. Akankah aku berakhir seperti itu pula? Entah.

Sepanjang 5 putaran penuh itu, kulepaskan semua yang perlu kulepaskan. Menguraikan kebisingan alam pikiranku sendiri. Sebab entah mengapa benakku masih merasa asing dengan istilah diskriminasi atau pengkhianatan ketika di sekelilingku, atau bahkan diriku sendiri, penuh dengan ketidakadilan. Bak orang suci atau neonatus. Mungkin daripada mengutuk diri dengan ketidaksiapan dan usaha yang sama sekali jauh dari kata maksimal, akan lebih mudah mempercayai keberuntungan dan kesempatan yang lebih berpihak pada orang lain.

Sepanjang 5 putaran penuh itu, kuhabiskan seluruh kemampuanku. Menggunakan hampir semua cadangan energi yang kupunya untuk menguras hati yang terlalu lelah bekerja. Menyatu dengan angin yang menghempas wajah dengan lembutnya. Di bawah konspirasi semesta bersama langit yang begitu indah sore itu.

Dan inilah akhir dari pelarian. Mengingatkanku bahwa ini bukan kegagalan pertama dan terakhir, bahwa kegagalan bisa singgah dimana saja dan kepada siapa saja. Terima kasih kepada yang senantiasa mendampingi dan membimbing. Terima kasih yang telah mengingatkan, bahwa semakin kita belajar semakin kita tahu bahwa kita tidak tahu apa-apa. Terima kasih kepada yang lagi-lagi menyadarkan bahwa seorang aku bukanlah apa-apa dan siapa-siapa. Terima kasih yang telah mengingatkan untuk bertanya pada diri sendiri, apakah aku manusia ataukah hanya seonggok daging yang berjalan.

Sore itu, ketika 30 menit 5 putaran penuhku habis, kutitipkan keresahanku pada tanah tempatku berpijak, dan meninggalkannya tepat di garis finish pelarianku. Kutinggalkan lapangan dengan keyakinan bahwa Tuhan sedang tersenyum di atas sana dan berkata, “Santailah, sayang. Ini hanya belokan, bukan jalan buntu”