Saturday, February 9, 2019

Palpitasi

Tidak semua pengunjung kedai kopi adalah penikmat kopi, apalagi pemuja senja. Memberikan pilihan lain seolah kehilangan identitasnya, atau mungkin sekedar memanjakan. Seperti aku yang bukan penikmat kopi, tapi memesan segelas kopi pada suatu senja. Rasanya benar-benar pahit, bahkan setelah ditambah gula dan krim. Hanya butuh waktu sesaat sampai kafein mulai menggerogoti, membiarkan jantungku seperti hendak meledak.

Mungkin benar-benar pengaruh kopi sore itu. Atau mungkin juga bukan? Sepertinya pikiran dan perasaan yang berkecamuk turut andil di dalamnya. Menyusup melalui kulit, otot, tulang-tulang, sampai ke sel-sel inti tubuh, meningkatkan kontraksi dan irama jantung.

Ibarat komputer yang sedang kacau, situsku dipenuhi serangga-serangga kecil perusak sistem. Rasanya muak melihat terlalu banyak kebaikan yang bersisian dengan keegoisan pun kebodohan. Dadaku sesak membayangkan sakitnya sepasang manusia yang kelak hidup bersama tanpa saling cinta. Perasaanku hancur melihat penyesalan seorang ibu yang merasa telah menghancurkan hidup anaknya sendiri. Bagian terburuknya, hanya bisa diam tidak bisa berbuat apa-apa.

Entah apa yang baru saja terjadi. Langkah kaki yang menggiringku duduk menikmati kopi pahit, ternyata ikut membawaku melanglang buana memikirkan hal yang bukan menjadi urusanku, yang bahkan belum tentu benar adanya. Mempertanyakan segala aspek kehidupan dengan otak-otakku yang mungil.

Bersama hari yang semakin gelap, kubersihkan semua yang ada di atas meja sebelum berjalan meninggalkan kedai. Masih memikirkan hal yang sama, membawa jantung yang sama namun masih dengan irama yang berbeda dari biasanya. Berharap keresahan yang satu ini bisa kutitipkan pada awan dan langit yang akan kujumpai pada penerbangan esok hari.