Sunday, December 29, 2024

Meski Jenuh Tidak Pantas Diucapkan

Sedikit lagi waktu berganti hari, suara musik pelan yang tidak kukenal cukup menenangkan, menemaniku rehat sejenak di tengah lampu kuning kedai kopi tepi pantai, sudah tidak ada matahari yang bisa dipandang. Coretan demi coretan tentang mikroglia dan radikal bebas telah kubaca dan kuwarnai membuatku jenuh. Dalam rehatku, teringat kabar bahagia yang datang kemarin dari seorang sahabat. Katanya, bulan depan ia akan pergi ke perantauan, mungkin mengejar mimpi yang entah sejak kapan ia temukan, juga mencari mimpi lainnya yang mungkin tak ada di kota ini. I feel so happy for him, but sad at the same time. Perasaan ini sungguh akrab, mungkin seperti tahun 2020 dan 2023 lalu. In fact, sadness can be an important emotion that helps me process my feelings and move on.

Pikiranku juga kembali ke masa saat hariku banyak dihabiskan di kereta rel listrik, waktu yang kuhabiskan paling banyak melihat manusia, waktu paling banyak kuhabiskan menerka-nerka isi pikiran manusia. Meski substansinya telah terlupakan, tapi rasanya seperti baru terjadi kemarin. Sungguh menyenangkan bisa melewati itu dan merasa bertumbuh di perantauan.


Memoriku sudah melompat lompat, mungkin kebanyakan gula. Atau mungkin setiap orang memang punya caranya masing-masing menikmati kejenuhan, meski jenuh itu seperti tidak pantas kuucapkan di tengah tugas yang menumpuk.


Seperti sahabatku yang minggu lalu belum tahu kejutan apa yang ia lewati kemarin, tidak ada pula yang tahu pasti apa yang terjadi besok. Maka hiduplah untuk hari ini.