Wednesday, April 1, 2015

Suatu Hari

Suatu hari.
Iya. Suatu hari.
Suatu hari akan kubagi rahasiaku ketika aku benar-benar siap untuk membaginya, seperti kamu yang sudah membagi rahasia tentang sejarah ayah dan ibumu.
Suatu hari akan kuceritakan kejamnya seorang gadis di masa lalu, yang mungkin akan membuatmu jijik karena kekejamannya.
Suatu hari akan kudongengkan kisah remaja 18 tahun yang mengalami jungkir balik dalam kehidupannya.
Suatu hari akan kucurahkan rasa terpendam di hari-hari belum-bisa-dibilang-dewasa-dan-bukan-remaja-lagi 20 tahun yang begitu bodohnya membiarkan sekian orang mematahkan hatinya.
Suatu hari akan kulirihkan penyesalan karena berurai air mata untuk seseorang yang bahkan tak pernah memikirkanku.
Suatu hari.
Iya. Suatu hari.

Pernah kudengar seorang teman berkata dan memaki dirinya sendiri dengan kebodohan.
Tapi apa yang lebih bodoh dari tetap bertahan walau tak pernah dijadikan prioritas?
Apa yang lebih bodoh dari jatuh berkali-kali dan berdiri lagi walau tak ada yang mengulurkan tangan?
Apa yang lebih bodoh dari terus menerus mengorbankan perasaan di atas akal?
Dan apa yang lebih bodoh dari menyia-nyiakan orang yang sebenar-benarnya peduli padamu?
Seolah tak pernah belajar bahwa terlalu baik itu beda tipis dengan terlalu bodoh.

Untuk Februari yang menyedihkan dan Maret yang membahagiakan, tanpa bermaksud memilih kasih pada satuan waktu.
Selamat datang, April dan seterusnya. Lembaran kisahku masih terus kuukir hingga suatu hari menjadi buku yang bisa kudongengkan pada siapapun yang ingin didongengkan.
Iya, suatu hari.

Hopeffully,
To love and to be loved unconditionally.