Saturday, May 13, 2017

Tanya Hati

Banyak yang bilang politik itu kotor, manipulatif, penuh dosa. Dengan alasan itu pula sebelum masuk kuliah dulu, saya sudah menjauhkan Ilmu Politik dari list fakultas/jurusan yang akan saya pilih. Tanpa sadar dan dengan bodohnya, memilih kedokteran yang justru menempatkan salah satu kaki di neraka. Setidaknya sekarang saya tidak lagi anti politik. Saya senang ketika diajak diskusi tentang pandangan politik, baik yang terjadi di Indonesia maupun dunia. Saya percaya politik sama pentingnya dengan ilmu lain yang diajarkan di perkuliahan dulu (dan kini). Atau, mungkin sesederhana saya yang tidak bisa membayangkan tatanan negara tanpa politik. Apapun itu, dengan keterbatasan ilmu dan preferensi terhadap politik, ketika menyangkut pertukaran opini saya akan tetap menimbrung. Walau lebih sering terpancing daripada membuka topik. Lebih sering sok tahu daripada benar-benar tahu.

Salah satu hal yang tidak saya senangi, ketika saya berbuat salah, akan ada orang-orang yang justru lebih senang mengungkit kesalahan-kesalahan saya yang lain, bahkan kesalahan yang sudah lama berlalu. Saya tahu mereka tidak sepenuhnya berniat membuat saya merasa tidak dimaafkan, melainkan sekedar membuat saya semakin menyesali perbuatan saya, memaksa saya untuk tidak lagi berbuat salah atau setidaknya tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sebagaimana kesalahan untuk dijadikan sebuah pelajaran. Seperti halnya dengan pilkada ini. Berbicara tentang pesta demokrasi ibukota beberapa waktu lalu, yakin dan percaya saya bukan satu-satunya yang berujung kesal, bukan satu-satunya yang senang beropini tapi justru jatuh sampai ke titik terjenuh. Bagaimana tidak, masalah yang berawal jauh sebelum pilkada ini sudah berlarut-larut hingga beberapa waktu ke depan, bahkan mengungkit tragedi Mei 1998, mengungkit luka lama dan ketakutan yang tersimpan jauh dalam lubuk hati segelintir orang tertentu yang merasakan sendiri tragedi tersebut. Lagi-lagi kembali ke masa lalu, mengingatkan kita untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.

Baiklah, sejarah memang penting menjadi self reminder bagi kita terhadap penyesalan maupun rasa syukur terhadap masa lalu. Sejarah membuat kita belajar tentang kehidupan, baik dari diri kita maupun orang lain. Ibarat sudah terlanjur basah, mari kita sedikit merunut ke masa lalu. Kisah ini dimulai oleh oknum-oknum yang menggunakan Agama sebagai senjata politik. Kemudian oknum oposisi terpancing membela/melawan, yang dianggap oleh banyak orang sebagai perlawanan terhadap sebuah Agama. Ada dua kata kunci yang bisa saya ambil; Agama dan Politik. Karena keduanya bukan keahlian saya, maka saya tidak punya hak menyampaikan apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan. Tapi terlepas dari keterbatasan ilmu, saya meyakini pekerjaan paling mulia adalah dakwah, menyiarkan Islam. Saya percaya ada banyak cara dalam menyiarkan Islam tanpa harus memaki secara terang-terangan orang lain, apalagi orang asing, sebagai kaum kafir. Pun saya percaya ada banyak momen yang bisa digunakan untuk menyebarkan Islam tanpa perlu dikait-kaitkan dengan politik tak sehat. Tapi penyimpangan-penyimpangan terhadap penyebaran suatu ajaran tetap tidak bisa dijadikan alasan untuk menyinggung sebuah Agama yang sama sekali tidak kita yakini/ketahui, dengan atau tanpa niat menjatuhkan. Ini berlaku untuk semua keyakinan yang diakui, beda lagi ceritanya yang tidak diakui secara hukum. Sekali ini, maafkan jika saya salah.

Saya adalah muslim dan akan memilih yang juga muslim sebagai pemimpin saya. Jika diberi kemerdekaan, tentunya. Setidaknya itu yang agama saya perintahkan. Saya cukup beruntung lahir dan dibesarkan di sekeliling orang-orang yang sebagian besar mempunyai keyakinan yang sama. Meskipun dengan taraf keyakinan yang berbeda-beda. Tapi keberuntungan itu tidak lantas memaksa saya memeluk Islam. Ada proses yang perlu dilalui sampai saya yakin bahwa Islam adalah ajaran yang paling benar. Intermezo.

Hasil akhir dari kisah ini adalah beberapa “kubu” yang saling menebar benih-benih kebencian. Benih-benih yang tidak sehat untuk hati dan pikiran. Saya sudah selesai dengan kebhinekaan, sudah selesai dengan unity in diversity dan slogan pemersatu bangsa lainnya ketika kita tetap saling menyerang tiada henti. Yang satu memaki kafir, yang lain memaki intoleran. Yang satu diam memilih netral dan dianggap apati terhadap negara, yang lain lagi merasa sebagai minoritas seolah olah menjadi satu-satunya korban. Yang sana menghargai hukum, yang sini baru merasa hukum tidak adil. Tanpa sadar sudah banyak orang yang merasakan hilangnya keadilan negeri ini jauh sebelum kisah ini dimulai. Pada akhirnya, sarkasme yang dilontarkan bukan lagi untuk menyampaikan opini tapi terkesan mengikuti tren yang ada, seolah-olah kita adalah yang paling benar. Lalu yang mana sesungguhnya yang paling benar?

Akhir kata, saya jadi teringat obrolan dengan teman saya ketika kami sama-sama mencari kebenaran tentang satu hal dan sama-sama menemui jalan buntu, pada akhirnya ia hanya berkata “cuma hati kita yang bisa menjawab”.