Dulu aku suka hujan. Tapi dulu pun aku pernah tak suka hujan. Tidak penting. Karena tidak semua hujan mengingatkanku padamu. Hanya hujan seperti hari ini. Hujan yang mengingatkanku pada potongan kebab yang kau berikan padaku.
Apa kabar kamu disana? Mungkin kau tak pernah tahu potongan kebab itu adalah kebab pertama dan terakhir seumur hidupku. Kebab yang kau berikan sambil menemaniku menunggu di tengah hujan yang tak terlalu deras kala itu. Cita-citaku sederhana. Suatu hari dengan pribadi yang berbeda, kita bertemu lagi dan berbagi kebab di antara sisa hujan yang hinggap di dedaunan atau pinggiran kaca.
Apa kabar kamu disana? Mungkin kau tak pernah ingat kalimat terakhir yang kau ucapkan padaku di hari kelulusan kita. Kau duduk disana dan aku berdiri tak terlalu jauh darimu. Kau memanggil namaku, kemudian aku menoleh dan kau tak mengucapkan apapun setelahnya. Hanya namaku yang tergantung, seperti kisahku yang tergantung oleh diriku sendiri. Ya, hanya olehku sendiri. Karena sejak awal memang hanya ada aku yang sepenuhnya melihatmu dengan rasaku. Bersama diamku.
Apa kabar kamu disana? Kau dengan cita-citamu yang tinggi. Sementara aku dengan diriku yang masih ingat tanggal kelahiranmu, tanggal yang sekaligus menjadi angka kesukaanmu. Aku dengan tulisanku yang bodoh, tidak terangkai dan berantakan. Yang mungkin tidak akan pernah kau baca, atau mungkin kelak akan kau baca sambil tertawa. Aku dengan pikiranku yang tak tahu banyak tentangmu, selain hal-hal kecil yang bahkan tidak penting bagimu. Aku yang terlalu berani menatapmu padahal sepenuhnya sadar kau memiliki dia di sisimu kala itu. Atau aku yang terlalu pengecut dan hanya bisa melihat punggungmu ketika kau menawarkan tumpangan pulang untukku. Berbahaya perempuan pulang sendirian malam-malam, katamu.
Apa kabar kamu disana? Mungkin kau tak ingat tiga pertemuan kita setelah hari kelulusan. Kau datang tiba-tiba bagai angin kencang yang menghantam wajahku dari depan, kau lewat dan membuatku melompat kegirangan di belakangmu seperti anak kecil tanpa kau sadari. Atau hari berikutnya, juga membuat mataku berbinar-binar mencari sosokmu yang kudengar ada di tempat yang sama denganku, tempat pertama kali aku mengenalmu. Lagi-lagi secara tiba-tiba. Atau di hari reuni kita bersama mereka, yang membayar rasa rinduku untuk sementara akan kenangan-kenangan indah yang aku lalui, dengan atau tanpamu.
Apa kabar kamu disana? Semoga keinginanmu tercapai, semua keinginan yang pernah kau ceritakan padaku tanpa sadar di sela-sela waktu kita yang hampir tak berjarak, serta obsesimu untuk menikah dini dengan perempuan pilihanmu. Dan polosnya aku yang tertawa saja kala kau meminta bantuanku mencarikan perempuan baik untukmu. Tapi tulus, doaku menyertaimu. Doa yang aku panjatkan di sela-sala hariku ketika mengingatmu. Seperti hari ini. Doa yang aku panjatkan setiap tahun di hari ulang tahunmu, yang sudah dua tahun lebih kulalui tanpamu. Tidak sesulit yang kau pikirkan, rasanya hampir sama seperti hari-hari yang kulalui sebelum bertemu denganmu.
Apa kabar kamu disana? Semoga kau sehat selalu. Doakan aku yang masih terus belajar tentang kehidupan, setelah fase terbalik duniaku. Karena kemudian kusadari setiap aku keluar dari zona nyamanku, akan selalu ada zona yang lebih luas setelahnya. Sekali lagi menyadarkanku bahwa duniaku masih terlalu sempit. Walau cita-citaku sederhana. Suatu hari dengan pribadi yang berbeda, kita
bertemu lagi dan berbagi kebab di antara sisa hujan yang hinggap di
dedaunan atau pinggiran kaca. Bercerita tentang dunia kita masing-masing.
Seperti lilin yang bahkan tak habis jika kau bakar dengan apimu.
From blessed to love
No comments:
Post a Comment