Saturday, January 30, 2016

Tahun Baru, Perasaan Baru, Awal Perjalanan Baru

Pagi pertama di rumah separuh batu separuh kayu khas orange. Dari balkon atas, semilir angin tiada henti menghempas wajah. Di depan rumah yang kunamakan posko ini, lapangan bola luas membentang. Tak jauh dari sana, rumah ibadah beratap hijau berdinding semen setengah jadi berdiri kokoh. Tak jauh dari sana pula, mobil putih dengan sirine di bagian atas senantiasa terparkir di pusat kesehatan desa. Selebihnya rumah-rumah warga dengan berbagai bentuk, warna dan ukuran menghiasi pinggir jalanan utama. Perjalanan lainnya berawal dari sini.

Siti, semoga tak salah mengingat nama. Seorang wanita paruh baya yang kutemui saat berjalan dari desa ke desa. Dari kejauhan, wanita itu terlihat tertatih-tatih menuruni bukit sambil menjinjing keranjang ukuran sedang. "Mau kemana, nek?", tanyaku ketika ia sampai di jalanan utama. Setelah bertukar cerita, ternyata ia dalam perjalanan menuju rumah sakit di kota yang jaraknya lebih dari 15 km dari rumah yang ia tinggali. Padahal ia juga belum lama tiba di rumah. Perjalanan itu ia tempuh dengan berjalan kaki. Tua, sendiri, jalan kaki. "Dulu terbiasa hanya jalan kaki ke kota, kalau sekarang sudah bisa menumpang kalau ada mobil di pusat kecamatan", jawabnya dengan bahasa daerah ketika kutanyakan keseriusannya.

Pada akhirnya, observasi rumah warga yang belum selesai berujung jalan kaki sepanjang kurang lebih 2 km ke posko. Jalan sepanjang 2 km yang sekali lagi menampar wajah, mengingatkan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Jalan sepanjang 2 km yang mengajarkan untuk selalu ikhlas tak peduli apapun itu. Jalan sepanjang 2 km yang menuntun untuk selalu bekerja keras dan melakukan yang terbaik tak peduli kapanpun itu. Jalan sepanjang 2 km yang kembali menyadarkan bahwa waktu yang paling tepat adalah sekarang.

Kuliah kerja nyata ini mungkin lebih tepat disebut palarian pribadi atau bahkan liburan panjang. Liburan berkualitas dibumbui tridarma pendidikan, penelitian dan pengabdian. Pelarian dari rumitnya hiruk pikuk kota kelahiran, setidaknya selama sebulan lebih di atas gunung bernama Sinoa.

Liburan ini mungkin tidak sebanding dengan wisata ke luar kota atau bahkan keliling dunia. Tidak sebanding dengan perjalanan kompetisi, seminar, workshop atau presentasi delegasi kampus atau negara. Tidak sebanding dengan tugas mahasiswa mata kuliah pemasaran internasional alias pemintal khas Rhenald Kashali apalagi jalan-jalan ala backpacker. Tapi 34 hari rasanya cukup mengajarkan banyak ilmu hidup yang tidak bisa dihargai dengan apapun.

Terima kasih untuk 34 harinya. Sebentar lagi pulang, sebentar lagi jadi orang baru di tahun baru dengan perasaan baru. Bertemu dengan awal perjalanan yang baru lagi. Semoga.

Sedikit mengutip bab The Land of Ice and Fire (Islandia) dalam buku JS Khairen, "Kita pergi jauh untuk menyadari rumah kita yang sebenarnya". Rumah, kekasih hati, tempat kembali.

To love and to be loved unconditionally,
Nn

No comments:

Post a Comment