Sarkasme, itulah fenomena yang sedang terjadi di, well, hampir seluruh Indonesia. Ibarat ekosistem, dari hulu dan pada akhirnya sampai ke hilir juga. Sarkasme yang dengan mudah dilontarkan dengan maksud menyudutkan salah satu pihak tapi berujung pada kebodohan diri sendiri yang ditampakkan secara gamblang. Niat menjatuhkan satu orang, tetapi justru menjatuhkan negara. Hingga lupa diri bahwa kita adalah bangsa yang satu, tumpah darah yang satu.
Teringat masa-masa basic sekitar 4 tahun yang lalu, salah satu (sebut saja) pemateri pernah berkata, "hancurnya suatu bangsa dikarenakan kemiskinan akibat maraknya kaum-kaum kapitalis". Saat itu saya merenung sejenak lalu saat diberi kesempatan saya berkata, "Menurut saya, hancurnya suatu bangsa dan negara bukanlah karena kemiskinan tetapi justru karena kebodohan". Saya ingat salah satu teman saya menimpali, tapi sayang sekali memori saya tidak begitu bagus, pun arah diskusi sudah terlupakan..
Anyway tidak berapa lama, saya menonton film "?". Saya suka sekali percakapan dengan Romo di gereja. Tentang umat kristiani yang menolak seorang Muslim saat ingin mengambil peran sebagai Jesus dalam drama paskah. Yang kemudian menyerah setelah Romo berkata, "Tidak pernah terjadi suatu agama runtuh oleh karena sebuah drama, yang terjadi adalah agama runtuh karena kebodohan"
Kemudian, saat baru-baru saja Sir Obama terpilih sebagai Presiden USA, Pak Jokowi terpilih sebagai 01 Republik Indonesia dan Pak Basuki alias Ahok terangkat menjadi Gubernur DKI Jakarta, tanpa sengaja saya membaca sebuah postingan tentang kelegaan seorang Ibu yang anaknya lahir di tanah Indonesia. Dalam postingan itu, seorang ibu berpesan kepada anaknya untuk bercita-cita setinggi apapun yang ia mau karena ia tahu saat itu, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia, apapun suku agama dan ras yang ia punya, segalanya menjadi mungkin. Kulit hitam bisa memimpin dunia, rakyat biasa bisa menjadi presiden, tionghoa bisa jadi gubernur, dan lain sebagainya. Lucunya, mata saya berkaca-kaca dan hati pun terasa hangat. Begitulah indahnya perdamaian.
Namun kembali ke kondisi sekarang ini, semuanya seperti berbalik arah. Rasisme dan perdebatan yang tidak sehat merajalela, persahabatan menjadi permusuhan, perdamaian menjadi peperangan, segalanya menjadi tidak seimbang. Ketika keyakinan saya diusik, di satu sisi saya harus membela mati-matian tapi di sisi lain ada kegelisahan dan keresahan disana. Tidak ada lagi kehangatan, yang ada hanya keraguan. Menyisakan doa-doa, semoga Indonesia akan baik-baik saja. Dan jangan menyalahkan pilkada, mari sama-sama refleksi diri. Tidak perlu menjadi bodoh dan menjadi awal penyebab hancurnya negara kita sendiri. Tidak perlu melupakan bhineka tunggal ika. Tidak perlu menjelaskan apa yang sudah kamu perbuat untuk negara dan agamamu, cause the one who likes you wouldnt need it and the one who dislike you wouldnt believe it. Haters gonna hate, rite? Mari sama-sama lebih bijak memilih kata-kata, lebih bijak membela dan lebih bijak melawan. After all, mari sama-sama berbuat yang terbaik untuk Indonesia.
Sincerely, yang ilmu amalnya receh.
Nn.
Nn.
No comments:
Post a Comment