Tuesday, February 28, 2017

Reply 2000s

Di suatu sore yang mendung, kala matahari dan hujan sedang malu-malunya, tiba-tiba mami menelpon. Saat itu saya baru saja lepas dinas di satu Rumah Sakit dan sedang berkeliaran di Rumah Sakit lain. Mami menyampaikan bahwa salah seorang sahabatnya sedang sakit, kebetulan dirawat di Rumah Sakit tempat saya berada sore itu. Pada akhirnya, kami putuskan untuk menjenguk bersama setelah jam pulang kantor.

Setibanya di kamar perawatan, disambut ibu-ibu kompleks rumah tempat saya tinggal dan sedikit berbasa-basi, mereka lalu kembali sibuk berbagi cerita. Rupanya, mereka sedang bernostalgia tentang bagaimana kehidupan di kompleks jaman dulu. Wajar saja, sejak mami memutuskan kerja kantoran dan beberapa penghuni kompleks pindah rumah, mereka jadi jarang bertemu apalagi berkumpul, seperti sore itu. Entah baru saja atau sudah sejak awal, tapi ibu-ibu banyak membahas tentang anak-anak mereka. Termasuk kami, anak-anak kompleks yang kebetulan ada di kamar. Kami duduk mendengarkan cerita sambil sesekali ikut tertawa dan mengenang sendiri masa-masa kecil kami. Selama ibu-ibu bercerita, terlihat jelas ada kebahagiaan yang memancar dari mata mereka, bahkan yang sedang sakit pun tidak pernah kehilangan senyum.

Tidak lama setelah itu, keluarga kami mendapat undangan reuni warga Gunung Sari, nama kawasan rumah nenek, yang pada akhirnya dihadiri oleh mami dan bapak. Rumah itu pernah ditinggali mami bersama 7 saudaranya saat pertama kali pindah ke kota. Bapak pun pernah tinggal disana di awal pernikahan mereka. Sedikit banyak, kami mengenal para tetangga yang pernah bermukim di kawasan tersebut. Sepulang dari reuni tersebut, mami dan bapak banyak bercerita tentang bagaimana pertemuan dengan orang-orang di masa lalu. Mereka bernostalgia tentang sulitnya kehidupan mereka di jaman dulu. Semisal memetik buah sayur di kebun yang tidak diketahui pemiliknya, saling menjaga rumah ketika ada tetangga seisi rumah yang sedang mudik hingga berbagi makanan pada momen-momen tertentu. Selama mereka bercerita, lagi-lagi terasa aura kebahagaiaan dari suara mereka yang menggebu-gebu. Maka di akhir malam sesi curhat itu, saya putuskan akan menulis tentang ini.

Intermezo. Persahabatan ibu-ibu kompleks dan kerukunan warga Gunung Sari sungguh mengingatkan tentang salah satu drama, Reply series. Satu kata untuk Reply, Hangat. Drama yang mengangkat tema romansa dan keluarga ini berhasil membuat saya jatuh hati pada setiap seri dan episodenya. Membuat kenangan-kenangan yang sudah lama tenggelam kembali menguap ke atas permukaan.

"Anak kompleks yang aslinya besar di kompleks pasti besarnya lebih kusam dibanding anak yang numpang lewat tinggal sebentar di kompleks", kata salah seorang ibu. Teringat, dulunya saya sering ikut kakak atau adik, yang keduanya lelaki, ketika mereka berkelana ke rumah-rumah tetangga untuk sekedar mencari teman bermain atau mencari makanan. Menumpang main kelereng, layangan, yoyo, playstation, tamiya atau mobil-mobilan remote control sebelum bapak akhirnya membelikan mainan yang sama untuk kami. Atau ketika teman lain sedang bermain Boneka Barby yang katanya asli dan hanya dijual di toko resmi. Walau kadang tidak diajak, saya tetap ikutan dan dengan percaya diri membawa boneka saya yang murah meriah dan dibeli di sekolah. Mami bukan tipikal ibu yang baik-baik saja ketika rumah berantakan, dan bapak bukan tipikal ayah yang akan memanjakan anak-anaknya dengan berbagai mainan. Mungkin itulah kenapa kami bersaudara lebih suka bermain di rumah para tetangga, bahkan di tengah hujan maupun teriknya matahari. Pada akhirnya, kami benar-benar tumbuh menjadi anak yang tidak takut cuaca dan tidak takut kusam tentunya. Walau di usia sekarang baru kami sadari bahwa perawatan tubuh juga tidak kalah penting.

Dengan keterbatasan mainan, ini bukan berarti mami dan bapak pelit. Mereka tetap membelikan kami mainan sekadarnya dengan jenis dan jumlah yang masih dalam batas wajar. Suatu hal yang saat ini justru sangat saya syukuri, karena saat ini saya sadari bahwa metode pendidikan yang mereka pakai sejak dulu semata-mata untuk menjadikan kami, anak-anaknya, manusia yang bisa sedikit menghargai hasil kerja orang lain.

Sejak dulu, akhir pekan adalah waktu yang paling dinanti-nantikan. Bukan hanya karena libur sekolah tapi kami sekeluarga juga akan berkumpul di Gunung Sari. Apalagi salah satu rumah tetangga mempunyai segudang permainan. Anak pemilik rumah memang senang mengumpulkan mainan terutama mainan berseri seperti bonus mainan di salah satu restoran makan yang populer kala itu. Pemilik rumah juga bermurah hati sering menyiapkan cemilan saat waktu bermain tiba. Tidak lupa pula rutinitas menginap, entah di rumah nenek atau di rumah tetangga. Senang sekali rasanya ketika kami semua berkumpul di minggu pagi, sambil menunggu mbok-mbok jamu datang lalu kami merengek minta dibelikan. Kemudiaan saat sore hari kami ke lapangan basket di SMK sekitar atau lapangan tennis luas samping rumah nenek. Entah untuk sekedar menggelinding bola, mengibaskan raket, main petak umpet, taplak gunung, kelereng, layangan, gasing, gobak sodor, gebok, lompat tali, ular naga, ular tangga, ludo, halma, monopoli, bekelan, benteng dan lain sebagainya. Kemudian pulang menjelang magrib dalam keadaan kotor, berkeringat, berlumpur, bau atau paling parah dalam kedaan penuh air got. Sungguh masa-masa indah, bebas dan membahagiakan.

Kini waktu telah memaksa kami untuk melangkah maju dan membiarkan masing-masing tumbuh tanpa saling memberi kabar. Itulah kenangan, memori-memori masa kecil yang tidak akan pernah bisa diulang kembali. Meski yang tersisa dari kenangan itu adalah serpihan ingatan, tapi mereka selalu punya tempat tersendiri dan tersimpan di satu sudut ruang kecil bernama hati. Memori yang akan memberikan kehangatan dan kerinduan setiap kali ia hadir. Entah untuk dikenang, untuk dijadikan pelajaran, dan untuk didongengkan kepada siapapun di masa depan.

Selalu ada harapan untuk bertemu orang-orang di masa lalu. Seperti memutar roll film, bersama kami tonton sambil tertawa dan saling menatap memancarkan aura kebahagiaan. Untuk generasi 90s, Reply 2000s.

Sincerely,
Neni.

No comments:

Post a Comment