Saturday, October 21, 2017

Begitu Salah Begitu Benar

Tuhan punya lebih dari bermilyar-milyar rahasia. Tidak terhingga. Dan di antara sekian banyak hari yang ada, hari ini dipilihNya sebagai salah satu hari perenungan. Dalam perjalanan menuju hotel tempat pernikahan seorang teman berlangsung, bersama supir taksi online yang berkali-kali terabaikan saat ia mulai membuka topik.

Silang menyilang obrolan yang semakin pendek mengisyaratkan kelelahan, pun kejenuhan. Namun jarak menuntut tak ingin disalahkan. Lalu apa yang salah dari pesan singkat yang semakin jarang? Apa yang salah dari groupchat yang isinya hanya rentetan stiker oleh orang yang berbeda-beda? Apa yang salah dari hubungan yang hanya ditopang oleh kuota internet dan kekuatan jaringan? Ya, semua terasa salah. Sepertinya kita jauh dari kata tuntas ketika berbicara tentang komunikasi.

Tidak ada lagi objek tawa.

Tidak ada lagi marah.

Tidak ada lagi gelisah.

Sunyi sekali.

Ternyata, 3 bulan adalah waktu yang singkat namun cukup untuk benar-benar melihat sebuah perubahan.

Mungkin benar saya yang salah karena terlalu gengsi memulai obrolan, terlalu sibuk mengamati dunia orang lain, terlalu submisiv ketika bertemu dominan, terlalu datar, tidak humoris, tidak kreatif, seolah tidak punya gairah hidup sehingga tidak layak masuk hitungan dan tidak layak dijadikan prioritas. Atau mungkin perasaan saya saja yang lagi lagi salah, hanya mendramatisir keadaan. Jika memang bagitu adanya, sungguh sulit menjadi diri sendiri. Kali ini, semua terasa benar.

Saya jadi teringat tulisan Sapardi Djoko dalam bukunya Hujan Bulan Juni, ketika intensitas dan kualitas obrolan Sarwono bersama Pingkan menjadi berkurang. Sekuat tenaga disingkirkan pemikiran bodohnya, dan memilih untuk terus saling percaya. Sesederhana itu.

No comments:

Post a Comment