HAPPY NEW YEAR 2018!
Tidak seperti tulisan selayaknya postingan tahun baru yang membahas momen satu tahun ke belakang, tulisan kali ini akan merunut lebih jauh ke belakang.
Berawal dari pemilihan umum wakil rakyat yang pertama kali dilakukan dengan aturan penetapan melalui suara terbanyak. Saat itu tahun 2009. Berbagai latar belakang hadir sebagai calon yang merasa layak dipilih oleh rakyat, menghabiskan begitu banyak rupiah saat perekonomian negara belum sepenuhnya stabil, mungkin dengan harapan bisa menaikkan sedikit derajatnya di mata masyarakat. Ironisnya, akhir pesta rakyat ini diiringi oleh banyaknya calon yang tidak bisa menerima kekalahan sebagai suatu kenyataan.
Tidak seperti tulisan selayaknya postingan tahun baru yang membahas momen satu tahun ke belakang, tulisan kali ini akan merunut lebih jauh ke belakang.
Berawal dari pemilihan umum wakil rakyat yang pertama kali dilakukan dengan aturan penetapan melalui suara terbanyak. Saat itu tahun 2009. Berbagai latar belakang hadir sebagai calon yang merasa layak dipilih oleh rakyat, menghabiskan begitu banyak rupiah saat perekonomian negara belum sepenuhnya stabil, mungkin dengan harapan bisa menaikkan sedikit derajatnya di mata masyarakat. Ironisnya, akhir pesta rakyat ini diiringi oleh banyaknya calon yang tidak bisa menerima kekalahan sebagai suatu kenyataan.
Kemudian saya teringat di tahun kedua saya di jenjang pre medical. Pada salah satu sesi perkuliahan dalam blok neuropsikiatri, dosen saya berkata bahwa kelak di tahun 2020, mental disorder bisa menjadi salah satu penyebab kematian terbanyak di Indonesia, bahkan seluruh dunia. Awalnya sedikit membingungkan, tapi perlahan saya mulai mengerti. Pada akhirnya, beliau menjadi orang pertama yang membuka mata saya lebar-lebar tentang pentingnya kesehatan jiwa.
Ada suatu masa ketika sedang belajar tentang psikiatri, saat itu tahun pertama saya dipanggil dokter muda, saya merasa bahwa semua orang punya masalah kejiwaan. Pemikiran liar saya bahkan menerawang, bagaimana seandainya kita yang merasa waras ini justru gila yang sebenarnya dan mereka yang kita anggap sakit adalah yang sebenar-benarnya waras. Benar, kita semua punya masalah. Tapi tidak serta merta membuat kita dengan mudah mendiagnosis diri sendiri. Hanya karena tidak bisa tidur selama beberapa hari, bukan berarti insomnia. Hanya karena gemas melihat barang berantakan, bukan berarti OCD. Hanya karena mood yang gampang berubah, bukan berarti bipolar. Saya bertemu dengan orang-orang kuat yang berjuang melawan sisi lain dari diri mereka sendiri. Berjuang untuk hidup mereka masing-masing, bahkan hidup orang di sekitarnya. Bagi mereka, insomnia maupun OCD dan bipolar tidak sesederhana itu. Gangguan jiwa yang butuh terapi tidak sesederhana itu.
Kehadiran netflix series 13 Reasons Why dan berita kematian seorang idol Korea Selatan di penghujung tahun kemarin sedikit banyak mempengaruhi stigma generasi muda tentang mental disorder. Menghadirkan pertanyaan baru ketika terlalu banyak alasan seseorang untuk mengakhiri hidupnya, sementara tidak ada satu pun alasan untuk bertahan. Bahkan eksistensi orang terdekat pun tidak bisa menjadi sebuah jaminan. Jeritan hati dan teriakan minta tolong yang mereka keluarkan justru tersampaikan saat yang tersisa hanya ingatan tentang mereka.
Funny when you are dead how people start listening.
Rentetan memori dan peristiwa inilah yang menjadi alasan kenapa tulisan ini hadir. Mungkin memang sekarang saatnya semua orang sadar bahwa Gangguan Jiwa itu ADA dan NYATA. Mereka yang mempunyai gangguan jiwa bukan berarti aneh. Mencari pertolongan ke psikiater bukan berarti gila. They just need help. Sama seperti orang sakit pada umumnya. Sama seperti kita, ketika merasa pusing berputar lalu mencari pertolongan ke neurolog. Sama seperti kita, ketika merasa demam berhari-hari lalu mencari pertolongan ke internis. Sama seperti kita, ketika merasa sedih lalu mencari keluarga, teman, sahabat, pacar atau bahkan media sosial hanya untuk sekedar berbagi kegelisahan. They just need help. Just like us.
High hopes. When you let it go, go out and start again.
Seiring berjalannya waktu, semoga mata hati dan pikiran kita lebih terbuka dengan keadaan di sekitar. Meluangkan waktu untuk sekedar berbicara. Mencari uluran tangan untuk saling menggenggam. Berpegang teguh pada satu hal yang bisa membuat kita bertahan dari sekian banyak keburukan yang mungkin terjadi. Berpegang teguh pada satu hal bernama harapan. Dan yang paling utama, melibatkan Tuhan di setiap langkah yang kita ambil.
Well. If people who struggling with depression only need ONE reason to keep alive, be that one!
And let's talk!
Sincerely,
Nn
Ada suatu masa ketika sedang belajar tentang psikiatri, saat itu tahun pertama saya dipanggil dokter muda, saya merasa bahwa semua orang punya masalah kejiwaan. Pemikiran liar saya bahkan menerawang, bagaimana seandainya kita yang merasa waras ini justru gila yang sebenarnya dan mereka yang kita anggap sakit adalah yang sebenar-benarnya waras. Benar, kita semua punya masalah. Tapi tidak serta merta membuat kita dengan mudah mendiagnosis diri sendiri. Hanya karena tidak bisa tidur selama beberapa hari, bukan berarti insomnia. Hanya karena gemas melihat barang berantakan, bukan berarti OCD. Hanya karena mood yang gampang berubah, bukan berarti bipolar. Saya bertemu dengan orang-orang kuat yang berjuang melawan sisi lain dari diri mereka sendiri. Berjuang untuk hidup mereka masing-masing, bahkan hidup orang di sekitarnya. Bagi mereka, insomnia maupun OCD dan bipolar tidak sesederhana itu. Gangguan jiwa yang butuh terapi tidak sesederhana itu.
Kehadiran netflix series 13 Reasons Why dan berita kematian seorang idol Korea Selatan di penghujung tahun kemarin sedikit banyak mempengaruhi stigma generasi muda tentang mental disorder. Menghadirkan pertanyaan baru ketika terlalu banyak alasan seseorang untuk mengakhiri hidupnya, sementara tidak ada satu pun alasan untuk bertahan. Bahkan eksistensi orang terdekat pun tidak bisa menjadi sebuah jaminan. Jeritan hati dan teriakan minta tolong yang mereka keluarkan justru tersampaikan saat yang tersisa hanya ingatan tentang mereka.
Funny when you are dead how people start listening.
Rentetan memori dan peristiwa inilah yang menjadi alasan kenapa tulisan ini hadir. Mungkin memang sekarang saatnya semua orang sadar bahwa Gangguan Jiwa itu ADA dan NYATA. Mereka yang mempunyai gangguan jiwa bukan berarti aneh. Mencari pertolongan ke psikiater bukan berarti gila. They just need help. Sama seperti orang sakit pada umumnya. Sama seperti kita, ketika merasa pusing berputar lalu mencari pertolongan ke neurolog. Sama seperti kita, ketika merasa demam berhari-hari lalu mencari pertolongan ke internis. Sama seperti kita, ketika merasa sedih lalu mencari keluarga, teman, sahabat, pacar atau bahkan media sosial hanya untuk sekedar berbagi kegelisahan. They just need help. Just like us.
High hopes. When you let it go, go out and start again.
Seiring berjalannya waktu, semoga mata hati dan pikiran kita lebih terbuka dengan keadaan di sekitar. Meluangkan waktu untuk sekedar berbicara. Mencari uluran tangan untuk saling menggenggam. Berpegang teguh pada satu hal yang bisa membuat kita bertahan dari sekian banyak keburukan yang mungkin terjadi. Berpegang teguh pada satu hal bernama harapan. Dan yang paling utama, melibatkan Tuhan di setiap langkah yang kita ambil.
Well. If people who struggling with depression only need ONE reason to keep alive, be that one!
And let's talk!
Sincerely,
Nn
No comments:
Post a Comment