Monday, February 29, 2016

Kaki Kelana

Langkah kecil dari sebuah revolusi diri
Bukan driver dengan makna sesungguhnya tapi dalam artian yang berbeda
Sepenuhnya bukan tentang berlibur dan membuang waktu
Lebih dari itu,
Mengasingkan diri, mengenal orang dan teman baru
Tukang becak, mahasiswa, kernek bus, supir angkut
Pramuniaga hingga turis asing dengan segala keberanian
Kesemuanya bersama cerita mereka
Mengajarkan lebih banyak ilmu
Mengingatkan pahit, asin dan manisnya hidup
Tidak henti-hentinya menyadarkan bahwa duniaku masih teramat sangat kecil
Bahwa Indonesia menakjubkan dengan menerima persamaan dan perbedaan
Bahwa Tuhan menciptakan dan mengatur semesta dengan begitu megahnya
Bahwa langkah besar berawal dari sebuah langkah kecil.

Pada perhentian sementara, kupejamkan mata erat dan menyimpan doaku rapat
Menjaganya hanya antara aku dan Dia
Harapan-harapan yang akan kuingat kelak kali berikutnya kupijakkan kaki kelana

Sincerely,
Oleh Februari yang satuannya terus berlalu.

Saturday, January 30, 2016

Tahun Baru, Perasaan Baru, Awal Perjalanan Baru

Pagi pertama di rumah separuh batu separuh kayu khas orange. Dari balkon atas, semilir angin tiada henti menghempas wajah. Di depan rumah yang kunamakan posko ini, lapangan bola luas membentang. Tak jauh dari sana, rumah ibadah beratap hijau berdinding semen setengah jadi berdiri kokoh. Tak jauh dari sana pula, mobil putih dengan sirine di bagian atas senantiasa terparkir di pusat kesehatan desa. Selebihnya rumah-rumah warga dengan berbagai bentuk, warna dan ukuran menghiasi pinggir jalanan utama. Perjalanan lainnya berawal dari sini.

Siti, semoga tak salah mengingat nama. Seorang wanita paruh baya yang kutemui saat berjalan dari desa ke desa. Dari kejauhan, wanita itu terlihat tertatih-tatih menuruni bukit sambil menjinjing keranjang ukuran sedang. "Mau kemana, nek?", tanyaku ketika ia sampai di jalanan utama. Setelah bertukar cerita, ternyata ia dalam perjalanan menuju rumah sakit di kota yang jaraknya lebih dari 15 km dari rumah yang ia tinggali. Padahal ia juga belum lama tiba di rumah. Perjalanan itu ia tempuh dengan berjalan kaki. Tua, sendiri, jalan kaki. "Dulu terbiasa hanya jalan kaki ke kota, kalau sekarang sudah bisa menumpang kalau ada mobil di pusat kecamatan", jawabnya dengan bahasa daerah ketika kutanyakan keseriusannya.

Pada akhirnya, observasi rumah warga yang belum selesai berujung jalan kaki sepanjang kurang lebih 2 km ke posko. Jalan sepanjang 2 km yang sekali lagi menampar wajah, mengingatkan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Jalan sepanjang 2 km yang mengajarkan untuk selalu ikhlas tak peduli apapun itu. Jalan sepanjang 2 km yang menuntun untuk selalu bekerja keras dan melakukan yang terbaik tak peduli kapanpun itu. Jalan sepanjang 2 km yang kembali menyadarkan bahwa waktu yang paling tepat adalah sekarang.

Kuliah kerja nyata ini mungkin lebih tepat disebut palarian pribadi atau bahkan liburan panjang. Liburan berkualitas dibumbui tridarma pendidikan, penelitian dan pengabdian. Pelarian dari rumitnya hiruk pikuk kota kelahiran, setidaknya selama sebulan lebih di atas gunung bernama Sinoa.

Liburan ini mungkin tidak sebanding dengan wisata ke luar kota atau bahkan keliling dunia. Tidak sebanding dengan perjalanan kompetisi, seminar, workshop atau presentasi delegasi kampus atau negara. Tidak sebanding dengan tugas mahasiswa mata kuliah pemasaran internasional alias pemintal khas Rhenald Kashali apalagi jalan-jalan ala backpacker. Tapi 34 hari rasanya cukup mengajarkan banyak ilmu hidup yang tidak bisa dihargai dengan apapun.

Terima kasih untuk 34 harinya. Sebentar lagi pulang, sebentar lagi jadi orang baru di tahun baru dengan perasaan baru. Bertemu dengan awal perjalanan yang baru lagi. Semoga.

Sedikit mengutip bab The Land of Ice and Fire (Islandia) dalam buku JS Khairen, "Kita pergi jauh untuk menyadari rumah kita yang sebenarnya". Rumah, kekasih hati, tempat kembali.

To love and to be loved unconditionally,
Nn

Friday, December 25, 2015

Waktu Adalah Waktu Dan Ia Bekerja Sebagaimana Mestinya

Jauh dari rutinitas biasanya, dari dosen, manekin, preparat, rumah sakit, puskesmas, modul, laporan, surat hingga skripsi. Juga jauh dari kuliah, rapat, observasi, pleno, arisan hingga reuni. Hanya disini, duduk di sebuah ruangan berdominasi cokelat-putih ukuran 5x6 yang sebagiannya dilapisi wallpaper corak rumput dengan warna lebih gelap dan sebagiannya lagi polos tanpa corak. Sebuah hotel kecil di tengan kota kecil pula yang jaraknya butuh sekitar 60 menit dari sebuah bandara kecil yang bahkan sulit disebut bandar udara.

Perjalanan panjang namun singkat ini membuat saya merenungkan banyak hal. Bahwa saya belum cukup tangguh untuk menjadi self-driver alias supir bagi hidup saya sendiri. Perjalanan akhir tahun yang mengantarkan saya mengenal lebih dekat dengan sebuah kata bernama "keluarga". The big family with the big problems.

Ketika saya menginjak usia 21 tahun, sudah banyak perubahan yang terjadi dalam hidup saya. Terlalu sibuk mencoba banyak hal dan menjadi orang lain untuk mengenal diri saya yang sebenar-benarnya, terlalu sibuk membuktikan bahwa dunia saya masih teramat sangat kecil, dan di saat yang bersamaan tanpa sadar melupakan banyak momen bersama orang-orang yang seharusnya lebih saya kenal.

Merunut sedikit ke belakang, terkadang saya kesal ketika tanpa sengaja duduk depan TV dan menemukan sinetron khas ala Indonesia. Namanya juga sinetron. Alur cerita yang terlalu dramatis dan dibuat-buat. Tapi pada beberapa titik kehidupan saya menyadari satu hal, bahwa sinetron hanyalah cerminan kenyataan. Si antagonis dengan kejahatannya menghalalkan segala cara dan si protagonis yang tidak berdaya. Nyatanya kehidupan saya sangat dekat dengan keduanya. Lebih ironis, film dan drama romantis khas ala barat dan asia yang terkesan alami justru sangat jauh dari kenyataan.

Pada akhirnya, perjalanan ini menyadarkan bahwa 21 tahun seharusnya sudah cukup bagi saya. Cukup dewasa untuk mencari sendiri kebahagiaan dengan mengorbankan diri sendiri demi orang lain. Meski terlalu takut untuk benar-benar menjadi dewasa dan meninggalkan banyak hal menyenangkan. Tapi apa mau dikata ketika konspirasi alam dan semesta yang menuntut. Karena waktu adalah waktu dan ia bekerja sebagaimana mestinya.

From blessed to love,
Nn

Wednesday, April 1, 2015

Suatu Hari

Suatu hari.
Iya. Suatu hari.
Suatu hari akan kubagi rahasiaku ketika aku benar-benar siap untuk membaginya, seperti kamu yang sudah membagi rahasia tentang sejarah ayah dan ibumu.
Suatu hari akan kuceritakan kejamnya seorang gadis di masa lalu, yang mungkin akan membuatmu jijik karena kekejamannya.
Suatu hari akan kudongengkan kisah remaja 18 tahun yang mengalami jungkir balik dalam kehidupannya.
Suatu hari akan kucurahkan rasa terpendam di hari-hari belum-bisa-dibilang-dewasa-dan-bukan-remaja-lagi 20 tahun yang begitu bodohnya membiarkan sekian orang mematahkan hatinya.
Suatu hari akan kulirihkan penyesalan karena berurai air mata untuk seseorang yang bahkan tak pernah memikirkanku.
Suatu hari.
Iya. Suatu hari.

Pernah kudengar seorang teman berkata dan memaki dirinya sendiri dengan kebodohan.
Tapi apa yang lebih bodoh dari tetap bertahan walau tak pernah dijadikan prioritas?
Apa yang lebih bodoh dari jatuh berkali-kali dan berdiri lagi walau tak ada yang mengulurkan tangan?
Apa yang lebih bodoh dari terus menerus mengorbankan perasaan di atas akal?
Dan apa yang lebih bodoh dari menyia-nyiakan orang yang sebenar-benarnya peduli padamu?
Seolah tak pernah belajar bahwa terlalu baik itu beda tipis dengan terlalu bodoh.

Untuk Februari yang menyedihkan dan Maret yang membahagiakan, tanpa bermaksud memilih kasih pada satuan waktu.
Selamat datang, April dan seterusnya. Lembaran kisahku masih terus kuukir hingga suatu hari menjadi buku yang bisa kudongengkan pada siapapun yang ingin didongengkan.
Iya, suatu hari.

Hopeffully,
To love and to be loved unconditionally.

Wednesday, February 18, 2015

Ini Hanya Belokan, Bukan Jalan Buntu

Puluhan menit kutatap wajah yang ada di hadapanku. Ada wajah yang tak terbaca disana. Urat kekecewaan, syukur luar biasa dan bingung yang bercampur menjadi satu kesatuan. Sejak lama perasaan seperti ini terkubur. Namun hari ini bersama kegelapan pukul 01.40 waktu setempat, ia bangkit dan hadir kembali.

Bung Karno pernah bilang, ada suatu masa ketika kau hanya ingin sendiri saja bersama angin menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata. Tapi, pernahkah kau merasa sangat ingin menangis lalu tak bisa meneteskan air mata?...

Karena itu, di suatu sore ku putuskan untuk berlari. Kukenakan setelan kombinasi tosca dan putih ternyamanku dengan harapan bisa memutari lapangan sebanyak mungkin dengan waktu selama mungkin tanpa khawatir perasaanku terusik oleh ketidaknyamanan. Benakku sudah memutuskan untuk fokus hanya pada satu hal, mengumpulkan semua kegundahan di bawah langit sore itu dan membuangnya disana. Kuhabiskan 30 menit 5 putaran penuh tanpa henti dan tibalah akhir dari sebuah “pelarian”.

Sepanjang 30 menit itu, kurenungkan semua yang perlu kurenungkan. Mengingat pengalaman luar biasa menyenangkan yang terjadi selama beberapa hari sebelumnya. Belajar tentang banyak hal. Aku belajar tentang waktu yang akan terus berjalan sebagaimana mestinya. Bahwa tak ada waktu yang paling tepat selain waktu yang kita ciptakan sendiri. Aku belajar memaknai kata demi kata, membantuku memahami setiap detail kehidupan. Belajar mencari tahu apa yang benar-benar aku inginkan. Belajar sedikit tentang jagad raya dan alam semesta yang menyembah Tuhan dengan caranya masing-masing. Aku belajar mencintai Tuhan dan membuktikan sendiri dengan mata hatiku bahwa Tuhan itu ADA dan ESA.

Sepanjang 30 menit itu, kusimpulkan semua yang perlu kusimpulkan. Ironis. Ketika tempatku belajar bukanlah sekolah, perguruan tinggi apalagi tempat ibadah. Melainkan hanyalah sebuah bangunan tua yang didominasi hijau dan hitam. Ya, bukankah belajar bisa dimana saja? Dan lebih ironis, ketika pembuktian-pembuktian sebelumku justru tidak disertai aksi nyata. Lalu untuk apa pembuktian ini?, tanyaku dalam hati. Akankah aku berakhir seperti itu pula? Entah.

Sepanjang 5 putaran penuh itu, kulepaskan semua yang perlu kulepaskan. Menguraikan kebisingan alam pikiranku sendiri. Sebab entah mengapa benakku masih merasa asing dengan istilah diskriminasi atau pengkhianatan ketika di sekelilingku, atau bahkan diriku sendiri, penuh dengan ketidakadilan. Bak orang suci atau neonatus. Mungkin daripada mengutuk diri dengan ketidaksiapan dan usaha yang sama sekali jauh dari kata maksimal, akan lebih mudah mempercayai keberuntungan dan kesempatan yang lebih berpihak pada orang lain.

Sepanjang 5 putaran penuh itu, kuhabiskan seluruh kemampuanku. Menggunakan hampir semua cadangan energi yang kupunya untuk menguras hati yang terlalu lelah bekerja. Menyatu dengan angin yang menghempas wajah dengan lembutnya. Di bawah konspirasi semesta bersama langit yang begitu indah sore itu.

Dan inilah akhir dari pelarian. Mengingatkanku bahwa ini bukan kegagalan pertama dan terakhir, bahwa kegagalan bisa singgah dimana saja dan kepada siapa saja. Terima kasih kepada yang senantiasa mendampingi dan membimbing. Terima kasih yang telah mengingatkan, bahwa semakin kita belajar semakin kita tahu bahwa kita tidak tahu apa-apa. Terima kasih kepada yang lagi-lagi menyadarkan bahwa seorang aku bukanlah apa-apa dan siapa-siapa. Terima kasih yang telah mengingatkan untuk bertanya pada diri sendiri, apakah aku manusia ataukah hanya seonggok daging yang berjalan.

Sore itu, ketika 30 menit 5 putaran penuhku habis, kutitipkan keresahanku pada tanah tempatku berpijak, dan meninggalkannya tepat di garis finish pelarianku. Kutinggalkan lapangan dengan keyakinan bahwa Tuhan sedang tersenyum di atas sana dan berkata, “Santailah, sayang. Ini hanya belokan, bukan jalan buntu”

Monday, December 8, 2014

Potongan Kebab Di Antara Sisa Hujan

Dulu aku suka hujan. Tapi dulu pun aku pernah tak suka hujan. Tidak penting. Karena tidak semua hujan mengingatkanku padamu. Hanya hujan seperti hari ini. Hujan yang mengingatkanku pada potongan kebab yang kau berikan padaku.

Apa kabar kamu disana? Mungkin kau tak pernah tahu potongan kebab itu adalah kebab pertama dan terakhir seumur hidupku. Kebab yang kau berikan sambil menemaniku menunggu di tengah hujan yang tak terlalu deras kala itu. Cita-citaku sederhana. Suatu hari dengan pribadi yang berbeda, kita bertemu lagi dan berbagi kebab di antara sisa hujan yang hinggap di dedaunan atau pinggiran kaca.

Apa kabar kamu disana? Mungkin kau tak pernah ingat kalimat terakhir yang kau ucapkan padaku di hari kelulusan kita. Kau duduk disana dan aku berdiri tak terlalu jauh darimu. Kau memanggil namaku, kemudian aku menoleh dan kau tak mengucapkan apapun setelahnya. Hanya namaku yang tergantung, seperti kisahku yang tergantung oleh diriku sendiri. Ya, hanya olehku sendiri. Karena sejak awal memang hanya ada aku yang sepenuhnya melihatmu dengan rasaku. Bersama diamku.

Apa kabar kamu disana? Kau dengan cita-citamu yang tinggi. Sementara aku dengan diriku yang masih ingat tanggal kelahiranmu, tanggal yang sekaligus menjadi angka kesukaanmu. Aku dengan tulisanku yang bodoh, tidak terangkai dan berantakan. Yang mungkin tidak akan pernah kau baca, atau mungkin kelak akan kau baca sambil tertawa. Aku dengan pikiranku yang tak tahu banyak tentangmu, selain hal-hal kecil yang bahkan tidak penting bagimu. Aku yang terlalu berani menatapmu padahal sepenuhnya sadar kau memiliki dia di sisimu kala itu. Atau aku yang terlalu pengecut dan hanya bisa melihat punggungmu ketika kau menawarkan tumpangan pulang untukku. Berbahaya perempuan pulang sendirian malam-malam, katamu.

Apa kabar kamu disana? Mungkin kau tak ingat tiga pertemuan kita setelah hari kelulusan. Kau datang tiba-tiba bagai angin kencang yang menghantam wajahku dari depan, kau lewat dan membuatku melompat kegirangan di belakangmu seperti anak kecil tanpa kau sadari. Atau hari berikutnya, juga membuat mataku berbinar-binar mencari sosokmu yang kudengar ada di tempat yang sama denganku, tempat pertama kali aku mengenalmu. Lagi-lagi secara tiba-tiba. Atau di hari reuni kita bersama mereka, yang membayar rasa rinduku untuk sementara akan kenangan-kenangan indah yang aku lalui, dengan atau tanpamu.
 
Apa kabar kamu disana? Semoga keinginanmu tercapai, semua keinginan yang pernah kau ceritakan padaku tanpa sadar di sela-sela waktu kita yang hampir tak berjarak, serta obsesimu untuk menikah dini dengan perempuan pilihanmu. Dan polosnya aku yang tertawa saja kala kau meminta bantuanku mencarikan perempuan baik untukmu. Tapi tulus, doaku menyertaimu. Doa yang aku panjatkan di sela-sala hariku ketika mengingatmu. Seperti hari ini. Doa yang aku panjatkan setiap tahun di hari ulang tahunmu, yang sudah dua tahun lebih kulalui tanpamu. Tidak sesulit yang kau pikirkan, rasanya hampir sama seperti hari-hari yang kulalui sebelum bertemu denganmu.

Apa kabar kamu disana? Semoga kau sehat selalu. Doakan aku yang masih terus belajar tentang kehidupan, setelah fase terbalik duniaku. Karena kemudian kusadari setiap aku keluar dari zona nyamanku, akan selalu ada zona yang lebih luas setelahnya. Sekali lagi menyadarkanku bahwa duniaku masih terlalu sempit. Walau cita-citaku sederhana. Suatu hari dengan pribadi yang berbeda, kita bertemu lagi dan berbagi kebab di antara sisa hujan yang hinggap di dedaunan atau pinggiran kaca. Bercerita tentang dunia kita masing-masing.

Seperti lilin yang bahkan tak habis jika kau bakar dengan apimu.
From blessed to love

Monday, July 28, 2014

You Know You're Being Older

You know you're being older..ketika momen tahunan tak lagi sama rasanya. Termasuk lebaran.

You know you're being older..ketika orang-orang yang kau kasihi pun tak lagi sama.

Dialah yang terbiasa kucium jemari kasarnya..
Seterbiasa ia menyadari panas demam di tubuh mungilku.
Seterbiasa ia meniupkan doa-doa tulusnya di sela rambut kepalaku.
Seterbiasa ia memaksaku makan setiap kali datang berkunjung.
Seterbiasa ia memintaku setiap saat menginap di rumah hangatnya.
Seterbiasa ia mengisi harinya di dapur dan ruang belakang.

Ia yang kini meskipun ada di hadapan mataku tetapi masih sangat aku rindukan.

Kini..

Jemari kasarnya masih terbiasa kucium, tetapi hangat darahku tak lagi ia sadari.
Doa-doanya tak lagi terasa di sela rambutku, tetapi pelukannya mengantarkanku mengucap doa dalam hati.
Ia masih memaksaku makan setiap kali kunjunganku, tetapi mengulangnya berkali-kali seolah ia belum melakukannya.
Tak ada lagi pintanya agar aku menginap di rumahnya yang penuh kenangan.
Mata dan ingatannya yang kini rabun seolah memaksanya untuk duduk, diam, menerawang dan sekali-sekali bertanya, "itu siapa?"

Ia lah nenek..
Kini ia tua rentah. Pikun sepikun ia yang tak lagi mengingat nama dan wajah cucu tertuanya.

Tapi mata itu masih sama. Teduh. Hanya saja tak terbaca.
Mata itu bisa saja berkata bahwa ia bahagia, melihat anak cucunya masih bisa berkumpul di hari yang istimewa. Berbagi canda hangat.
Tapi mata itu juga bisa berkata bahwa ia gundah, sebab tak lagi mengenali semua wajah-wajah yang dulu jelas dalam memorinya.

Doaku untukmu selalu terucap bersama mata yang perlahan menutup, lalu membawa doa itu ke dalam. Menyimpannya rapat dalam sebuah ruangan kecil di hati. Untuk nenek yang terkasih, yang selalu kupanggil 'mamak'.

You know you're being older..bersama waktu yang tak pernah meminta izin kita untuk terus berjalan dan berputar.

Jul 29, 2014 9:32:07 AM