Tuesday, July 16, 2019

Kalkulasi Alam

Semua berawal dari kegelisahan di suatu malam, ditemani redup lampu kedai khas eropa timur dan iringan musik musisi lokal, sekali lagi menyadarkan diri saya dari jelmaan yang bukan diri saya. Malam itu, saya menikmati waktu rehat di ibukota, keluar rumah sambil bertekad mengerjakan cicilan borang yang wajib diselesaikan selama menjalani program pemerintah yang sedang saya tekuni saat ini. Namun ternyata alam punya caranya sendiri membawa saya kembali pada masa lalu. Jika bukan karena portal yang sedang bermasalah, mungkin saya masih berenang dalam arus kenyamanan, gemerlap kota serta kekhawatiran akan putusnya rantai undangan dan momen penting orang-orang terkasih. Tanpa sadar sedikit lagi menenggelamkan.

Ketika dulu masih menggantungkan sepenuh jiwa raga pada keluarga, saya merasa tidak punya apa-apa. Sampai pada satu titik, tersadarkan bahwa ternyata kita semua terlahir bersama satuan yang membuat kita berkecukupan.

“Dari mereka saya belajar bahwa dengan berbagi, manusia mencukupkan dirinya”,

Benar saja. Adalah waktu, substansi dari setiap insan yang tidak dapat dikurang, pun ditambah, tapi bisa dibagi. Sungguh kalkulasi alam yang indah. Kutipan dari tulisan salah satu sejawat ini menampar saya untuk ribuan kalinya. Sejenak berhenti bernapas, merasa malu tidak lain kepada diri sendiri. Menyesal akan pilihan hidup lain yang tidak berani saya ambil di masa lalu, dan mungkin tidak pula berani saya ambil di masa depan.

Lalu pertanyaan yang terlintas saat ini, sudah berapa banyak waktu yang kita bagi kepada yang benar-benar membutuhkan? Sudahkah kita menjadi versi terbaik diri kita di masa kini? Apakah hari yang terlewatkan di perantauan atas nama tugas negara, sudah cukup memenuhi harapan dan janji kita atas sumpah kemanusiaan yang sudah kita lafaskan? Ah, bulir-bulir sudah sampai pelupuk mata. Semoga nurani kita bisa menjawab.

Saturday, February 9, 2019

Palpitasi

Tidak semua pengunjung kedai kopi adalah penikmat kopi, apalagi pemuja senja. Memberikan pilihan lain seolah kehilangan identitasnya, atau mungkin sekedar memanjakan. Seperti aku yang bukan penikmat kopi, tapi memesan segelas kopi pada suatu senja. Rasanya benar-benar pahit, bahkan setelah ditambah gula dan krim. Hanya butuh waktu sesaat sampai kafein mulai menggerogoti, membiarkan jantungku seperti hendak meledak.

Mungkin benar-benar pengaruh kopi sore itu. Atau mungkin juga bukan? Sepertinya pikiran dan perasaan yang berkecamuk turut andil di dalamnya. Menyusup melalui kulit, otot, tulang-tulang, sampai ke sel-sel inti tubuh, meningkatkan kontraksi dan irama jantung.

Ibarat komputer yang sedang kacau, situsku dipenuhi serangga-serangga kecil perusak sistem. Rasanya muak melihat terlalu banyak kebaikan yang bersisian dengan keegoisan pun kebodohan. Dadaku sesak membayangkan sakitnya sepasang manusia yang kelak hidup bersama tanpa saling cinta. Perasaanku hancur melihat penyesalan seorang ibu yang merasa telah menghancurkan hidup anaknya sendiri. Bagian terburuknya, hanya bisa diam tidak bisa berbuat apa-apa.

Entah apa yang baru saja terjadi. Langkah kaki yang menggiringku duduk menikmati kopi pahit, ternyata ikut membawaku melanglang buana memikirkan hal yang bukan menjadi urusanku, yang bahkan belum tentu benar adanya. Mempertanyakan segala aspek kehidupan dengan otak-otakku yang mungil.

Bersama hari yang semakin gelap, kubersihkan semua yang ada di atas meja sebelum berjalan meninggalkan kedai. Masih memikirkan hal yang sama, membawa jantung yang sama namun masih dengan irama yang berbeda dari biasanya. Berharap keresahan yang satu ini bisa kutitipkan pada awan dan langit yang akan kujumpai pada penerbangan esok hari.

Saturday, December 15, 2018

Versi Terbaik 2018

Dulu,
Dulu sekali, tidak pernah terbayang sedikit pun akan berdiri seperti hari ini.
Sampai tiba waktunya dihantam batu besar dengan begitu kerasnya.
Menyadarkan bahwa Tuhan punya rencana lain.

Dulu pun,
Ketika memasuki gerbang kehidupan yang baru, semesta seolah membuka mata, hati dan telinga.
Bahwa bertahan dengan niat yang tidak baik hanya akan membawa diri sendiri ke dalam liang kehancuran.
Bahwa sendiri tidak akan pernah bisa.
Bahwa uluran tangan lain lah yang mampu membangkitkan di masa-masa tersulit sekali pun.

Untuk itu, kita hari ini dan kita yang akan datang bukan lah siapa-siapa tanpa mereka.
Guru-guru kehidupan yang bertebaran di sekitar kita.
Yang senantiasa mengasihi dalam diam.

Terima kasih
Terima kasih
Terima kasih
Meski benar bahwa ucapan terima kasih tidak akan pernah cukup untuk membalas semua kasih itu.

Thursday, February 8, 2018

Saya Memanggilnya Mama

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama memeluk saya sambil membisikkan doa-doa di sela rambut saya

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama memegang kepala saya sambil berkata, "Panas badanmu, nak"

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama memasakkan saya makanan, walau sekedar mi instan dan telur daun bawang kecap

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama meminta saya menginap bersamanya

Saya sudah lupa kapan terakhir kali saya pamit pulang saat rutin berkunjung ke rumahnya

Saya sudah lupa.

Saya melupakan banyak hal, dan seiring berjalannya waktu mama pun melupakan banyak hal. Demensia mulai menggerogoti mama. Penyakit tua menyebalkan!

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama menyibukkan diri di dapur, meski sadar tenaganya tak sekuat dulu

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama minta ditemani wudhu untuk solat, meski ia sudah solat

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama menyuruh saya makan berulang kali, meski seisi rumah sudah makan dan tidak tersisa apapun di meja makan

Saya sudah lupa kapan terakhir kali pulang tanpa pamit, supaya mama tak lagi menahan saya untuk tetap tinggal

Sampai pada akhirnya, ia tak lagi sibuk di dapur, tak lagi minta ditemani wudhu, tak lagi menyuruh makan, tak lagi menahan pulang, tak lagi mengingat saya, tak lagi mengingat cucu-cucunya...

Tak ada lagi senyum polos yang biasa ia berikan ketika cucu-cucunya bertanya, "kita kenalja, mak?"

Tak ada lagi yang berulang kali menanyakan, "dari manako?", "sama siapako?", atau paling sering "mauko kemana?" saat melihat orang datang dan pergi silih berganti

Saya mungkin sudah lupa kapan tepatnya semua kenangan itu terjadi. Tapi raut wajah, gerak dan suaranya masih terekam jelas dalam memori. Membungkus hangat tubuh ketika ingatan itu hadir di waktu-waktu tak terduga

Ah, mama. Belum sehari neni sudah rindu. Kemarin sore mama meninggal dunia. Nenek dari ibu saya menutup di usia 86 tahun. Iya, saya memanggilnya mama.

Maafkan cucumu yang satu ini memilih menghindari jangkauanmu daripada menelan mentah-mentah saat anak mantumu memanggil "bu dokter", meski sadar ada doa-doa yang terselip disana

Maafkan cucumu yang satu ini tak ada di sampingmu di sisa-sisa harimu, meski jadwal koas sedang tak sesibuk biasanya

Maafkan cucumu yang satu ini masih mengurus sekolah sana sini, sampai-sampai tak bisa mengantarmu ke tempat peristirahatan terakhirmu hari ini

Ah, mama. Sungguh neni rindu. Efek setengah kaplet asam mefenamat yang semalam sy telan pasti sudah hilang. Karena nyeri di kepala karena cucuran air mata sepertinya mulai terasa kembali.

Sekali lagi, maafkan cucumu yang satu ini. Semoga kau tenang disana, ma.

Mama, neni rindu.

Wednesday, January 10, 2018

Lets Talk!

HAPPY NEW YEAR 2018!

Tidak seperti tulisan selayaknya postingan tahun baru yang membahas momen satu tahun ke belakang, tulisan kali ini akan merunut lebih jauh ke belakang.

Berawal dari pemilihan umum wakil rakyat yang pertama kali dilakukan dengan aturan penetapan melalui suara terbanyak. Saat itu tahun 2009. Berbagai latar belakang hadir sebagai calon yang merasa layak dipilih oleh rakyat, menghabiskan begitu banyak rupiah saat perekonomian negara belum sepenuhnya stabil, mungkin dengan harapan bisa menaikkan sedikit derajatnya di mata masyarakat. Ironisnya, akhir pesta rakyat ini diiringi oleh banyaknya calon yang tidak bisa menerima kekalahan sebagai suatu kenyataan.

Kemudian saya teringat di tahun kedua saya di jenjang pre medical. Pada salah satu sesi perkuliahan dalam blok neuropsikiatri, dosen saya berkata bahwa kelak di tahun 2020, mental disorder bisa menjadi salah satu penyebab kematian terbanyak di Indonesia, bahkan seluruh dunia. Awalnya sedikit membingungkan, tapi perlahan saya mulai mengerti. Pada akhirnya, beliau menjadi orang pertama yang membuka mata saya lebar-lebar tentang pentingnya kesehatan jiwa.

Ada suatu masa ketika sedang belajar tentang psikiatri, saat itu tahun pertama saya dipanggil dokter muda, saya merasa bahwa semua orang punya masalah kejiwaan. Pemikiran liar saya bahkan menerawang, bagaimana seandainya kita yang merasa waras ini justru gila yang sebenarnya dan mereka yang kita anggap sakit adalah yang sebenar-benarnya waras. Benar, kita semua punya masalah. Tapi tidak serta merta membuat kita dengan mudah mendiagnosis diri sendiri. Hanya karena tidak bisa tidur selama beberapa hari, bukan berarti insomnia. Hanya karena gemas melihat barang berantakan, bukan berarti OCD. Hanya karena mood yang gampang berubah, bukan berarti bipolar. Saya bertemu dengan orang-orang kuat yang berjuang melawan sisi lain dari diri mereka sendiri. Berjuang untuk hidup mereka masing-masing, bahkan hidup orang di sekitarnya. Bagi mereka, insomnia maupun OCD dan bipolar tidak sesederhana itu. Gangguan jiwa yang butuh terapi tidak sesederhana itu.

Kehadiran netflix series 13 Reasons Why dan berita kematian seorang idol Korea Selatan di penghujung tahun kemarin sedikit banyak mempengaruhi stigma generasi muda tentang mental disorder. Menghadirkan pertanyaan baru ketika terlalu banyak alasan seseorang untuk mengakhiri hidupnya, sementara tidak ada satu pun alasan untuk bertahan. Bahkan eksistensi orang terdekat pun tidak bisa menjadi sebuah jaminan. Jeritan hati dan teriakan minta tolong yang mereka keluarkan justru tersampaikan saat yang tersisa hanya ingatan tentang mereka.

Funny when you are dead how people start listening.

Rentetan memori dan peristiwa inilah yang menjadi alasan kenapa tulisan ini hadir. Mungkin memang sekarang saatnya semua orang sadar bahwa Gangguan Jiwa itu ADA dan NYATA. Mereka yang mempunyai gangguan jiwa bukan berarti aneh. Mencari pertolongan ke psikiater bukan berarti gila. They just need help. Sama seperti orang sakit pada umumnya. Sama seperti kita, ketika merasa pusing berputar lalu mencari pertolongan ke neurolog. Sama seperti kita, ketika merasa demam berhari-hari lalu mencari pertolongan ke internis. Sama seperti kita, ketika merasa sedih lalu mencari keluarga, teman, sahabat, pacar atau bahkan media sosial hanya untuk sekedar berbagi kegelisahan. They just need help. Just like us.

High hopes. When you let it go, go out and start again.

Seiring berjalannya waktu, semoga mata hati dan pikiran kita lebih terbuka dengan keadaan di sekitar. Meluangkan waktu untuk sekedar berbicara. Mencari uluran tangan untuk saling menggenggam. Berpegang teguh pada satu hal yang bisa membuat kita bertahan dari sekian banyak keburukan yang mungkin terjadi. Berpegang teguh pada satu hal bernama harapan. Dan yang paling utama, melibatkan Tuhan di setiap langkah yang kita ambil.

Well. If people who struggling with depression only need ONE reason to keep alive, be that one!
And let's talk!

Sincerely,

Nn

Saturday, October 21, 2017

Begitu Salah Begitu Benar

Tuhan punya lebih dari bermilyar-milyar rahasia. Tidak terhingga. Dan di antara sekian banyak hari yang ada, hari ini dipilihNya sebagai salah satu hari perenungan. Dalam perjalanan menuju hotel tempat pernikahan seorang teman berlangsung, bersama supir taksi online yang berkali-kali terabaikan saat ia mulai membuka topik.

Silang menyilang obrolan yang semakin pendek mengisyaratkan kelelahan, pun kejenuhan. Namun jarak menuntut tak ingin disalahkan. Lalu apa yang salah dari pesan singkat yang semakin jarang? Apa yang salah dari groupchat yang isinya hanya rentetan stiker oleh orang yang berbeda-beda? Apa yang salah dari hubungan yang hanya ditopang oleh kuota internet dan kekuatan jaringan? Ya, semua terasa salah. Sepertinya kita jauh dari kata tuntas ketika berbicara tentang komunikasi.

Tidak ada lagi objek tawa.

Tidak ada lagi marah.

Tidak ada lagi gelisah.

Sunyi sekali.

Ternyata, 3 bulan adalah waktu yang singkat namun cukup untuk benar-benar melihat sebuah perubahan.

Mungkin benar saya yang salah karena terlalu gengsi memulai obrolan, terlalu sibuk mengamati dunia orang lain, terlalu submisiv ketika bertemu dominan, terlalu datar, tidak humoris, tidak kreatif, seolah tidak punya gairah hidup sehingga tidak layak masuk hitungan dan tidak layak dijadikan prioritas. Atau mungkin perasaan saya saja yang lagi lagi salah, hanya mendramatisir keadaan. Jika memang bagitu adanya, sungguh sulit menjadi diri sendiri. Kali ini, semua terasa benar.

Saya jadi teringat tulisan Sapardi Djoko dalam bukunya Hujan Bulan Juni, ketika intensitas dan kualitas obrolan Sarwono bersama Pingkan menjadi berkurang. Sekuat tenaga disingkirkan pemikiran bodohnya, dan memilih untuk terus saling percaya. Sesederhana itu.

Saturday, May 13, 2017

Tanya Hati

Banyak yang bilang politik itu kotor, manipulatif, penuh dosa. Dengan alasan itu pula sebelum masuk kuliah dulu, saya sudah menjauhkan Ilmu Politik dari list fakultas/jurusan yang akan saya pilih. Tanpa sadar dan dengan bodohnya, memilih kedokteran yang justru menempatkan salah satu kaki di neraka. Setidaknya sekarang saya tidak lagi anti politik. Saya senang ketika diajak diskusi tentang pandangan politik, baik yang terjadi di Indonesia maupun dunia. Saya percaya politik sama pentingnya dengan ilmu lain yang diajarkan di perkuliahan dulu (dan kini). Atau, mungkin sesederhana saya yang tidak bisa membayangkan tatanan negara tanpa politik. Apapun itu, dengan keterbatasan ilmu dan preferensi terhadap politik, ketika menyangkut pertukaran opini saya akan tetap menimbrung. Walau lebih sering terpancing daripada membuka topik. Lebih sering sok tahu daripada benar-benar tahu.

Salah satu hal yang tidak saya senangi, ketika saya berbuat salah, akan ada orang-orang yang justru lebih senang mengungkit kesalahan-kesalahan saya yang lain, bahkan kesalahan yang sudah lama berlalu. Saya tahu mereka tidak sepenuhnya berniat membuat saya merasa tidak dimaafkan, melainkan sekedar membuat saya semakin menyesali perbuatan saya, memaksa saya untuk tidak lagi berbuat salah atau setidaknya tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sebagaimana kesalahan untuk dijadikan sebuah pelajaran. Seperti halnya dengan pilkada ini. Berbicara tentang pesta demokrasi ibukota beberapa waktu lalu, yakin dan percaya saya bukan satu-satunya yang berujung kesal, bukan satu-satunya yang senang beropini tapi justru jatuh sampai ke titik terjenuh. Bagaimana tidak, masalah yang berawal jauh sebelum pilkada ini sudah berlarut-larut hingga beberapa waktu ke depan, bahkan mengungkit tragedi Mei 1998, mengungkit luka lama dan ketakutan yang tersimpan jauh dalam lubuk hati segelintir orang tertentu yang merasakan sendiri tragedi tersebut. Lagi-lagi kembali ke masa lalu, mengingatkan kita untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.

Baiklah, sejarah memang penting menjadi self reminder bagi kita terhadap penyesalan maupun rasa syukur terhadap masa lalu. Sejarah membuat kita belajar tentang kehidupan, baik dari diri kita maupun orang lain. Ibarat sudah terlanjur basah, mari kita sedikit merunut ke masa lalu. Kisah ini dimulai oleh oknum-oknum yang menggunakan Agama sebagai senjata politik. Kemudian oknum oposisi terpancing membela/melawan, yang dianggap oleh banyak orang sebagai perlawanan terhadap sebuah Agama. Ada dua kata kunci yang bisa saya ambil; Agama dan Politik. Karena keduanya bukan keahlian saya, maka saya tidak punya hak menyampaikan apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan. Tapi terlepas dari keterbatasan ilmu, saya meyakini pekerjaan paling mulia adalah dakwah, menyiarkan Islam. Saya percaya ada banyak cara dalam menyiarkan Islam tanpa harus memaki secara terang-terangan orang lain, apalagi orang asing, sebagai kaum kafir. Pun saya percaya ada banyak momen yang bisa digunakan untuk menyebarkan Islam tanpa perlu dikait-kaitkan dengan politik tak sehat. Tapi penyimpangan-penyimpangan terhadap penyebaran suatu ajaran tetap tidak bisa dijadikan alasan untuk menyinggung sebuah Agama yang sama sekali tidak kita yakini/ketahui, dengan atau tanpa niat menjatuhkan. Ini berlaku untuk semua keyakinan yang diakui, beda lagi ceritanya yang tidak diakui secara hukum. Sekali ini, maafkan jika saya salah.

Saya adalah muslim dan akan memilih yang juga muslim sebagai pemimpin saya. Jika diberi kemerdekaan, tentunya. Setidaknya itu yang agama saya perintahkan. Saya cukup beruntung lahir dan dibesarkan di sekeliling orang-orang yang sebagian besar mempunyai keyakinan yang sama. Meskipun dengan taraf keyakinan yang berbeda-beda. Tapi keberuntungan itu tidak lantas memaksa saya memeluk Islam. Ada proses yang perlu dilalui sampai saya yakin bahwa Islam adalah ajaran yang paling benar. Intermezo.

Hasil akhir dari kisah ini adalah beberapa “kubu” yang saling menebar benih-benih kebencian. Benih-benih yang tidak sehat untuk hati dan pikiran. Saya sudah selesai dengan kebhinekaan, sudah selesai dengan unity in diversity dan slogan pemersatu bangsa lainnya ketika kita tetap saling menyerang tiada henti. Yang satu memaki kafir, yang lain memaki intoleran. Yang satu diam memilih netral dan dianggap apati terhadap negara, yang lain lagi merasa sebagai minoritas seolah olah menjadi satu-satunya korban. Yang sana menghargai hukum, yang sini baru merasa hukum tidak adil. Tanpa sadar sudah banyak orang yang merasakan hilangnya keadilan negeri ini jauh sebelum kisah ini dimulai. Pada akhirnya, sarkasme yang dilontarkan bukan lagi untuk menyampaikan opini tapi terkesan mengikuti tren yang ada, seolah-olah kita adalah yang paling benar. Lalu yang mana sesungguhnya yang paling benar?

Akhir kata, saya jadi teringat obrolan dengan teman saya ketika kami sama-sama mencari kebenaran tentang satu hal dan sama-sama menemui jalan buntu, pada akhirnya ia hanya berkata “cuma hati kita yang bisa menjawab”.