Puluhan menit kutatap wajah yang ada di hadapanku. Ada wajah yang tak terbaca disana. Urat kekecewaan, syukur luar biasa dan bingung yang bercampur menjadi satu kesatuan. Sejak lama perasaan seperti ini terkubur. Namun hari ini bersama kegelapan pukul 01.40 waktu setempat, ia bangkit dan hadir kembali.
Bung Karno pernah bilang, ada suatu masa ketika kau hanya ingin sendiri saja bersama angin menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata. Tapi, pernahkah kau merasa sangat ingin menangis lalu tak bisa meneteskan air mata?...
Karena itu, di suatu sore ku putuskan untuk berlari. Kukenakan setelan kombinasi tosca dan putih ternyamanku dengan harapan bisa memutari lapangan sebanyak mungkin dengan waktu selama mungkin tanpa khawatir perasaanku terusik oleh ketidaknyamanan. Benakku sudah memutuskan untuk fokus hanya pada satu hal, mengumpulkan semua kegundahan di bawah langit sore itu dan membuangnya disana. Kuhabiskan 30 menit 5 putaran penuh tanpa henti dan tibalah akhir dari sebuah “pelarian”.
Sepanjang 30 menit itu, kurenungkan semua yang perlu kurenungkan. Mengingat pengalaman luar biasa menyenangkan yang terjadi selama beberapa hari sebelumnya. Belajar tentang banyak hal. Aku belajar tentang waktu yang akan terus berjalan sebagaimana mestinya. Bahwa tak ada waktu yang paling tepat selain waktu yang kita ciptakan sendiri. Aku belajar memaknai kata demi kata, membantuku memahami setiap detail kehidupan. Belajar mencari tahu apa yang benar-benar aku inginkan. Belajar sedikit tentang jagad raya dan alam semesta yang menyembah Tuhan dengan caranya masing-masing. Aku belajar mencintai Tuhan dan membuktikan sendiri dengan mata hatiku bahwa Tuhan itu ADA dan ESA.
Sepanjang 30 menit itu, kusimpulkan semua yang perlu kusimpulkan. Ironis. Ketika tempatku belajar bukanlah sekolah, perguruan tinggi apalagi tempat ibadah. Melainkan hanyalah sebuah bangunan tua yang didominasi hijau dan hitam. Ya, bukankah belajar bisa dimana saja? Dan lebih ironis, ketika pembuktian-pembuktian sebelumku justru tidak disertai aksi nyata. Lalu untuk apa pembuktian ini?, tanyaku dalam hati. Akankah aku berakhir seperti itu pula? Entah.
Sepanjang 5 putaran penuh itu, kulepaskan semua yang perlu kulepaskan. Menguraikan kebisingan alam pikiranku sendiri. Sebab entah mengapa benakku masih merasa asing dengan istilah diskriminasi atau pengkhianatan ketika di sekelilingku, atau bahkan diriku sendiri, penuh dengan ketidakadilan. Bak orang suci atau neonatus. Mungkin daripada mengutuk diri dengan ketidaksiapan dan usaha yang sama sekali jauh dari kata maksimal, akan lebih mudah mempercayai keberuntungan dan kesempatan yang lebih berpihak pada orang lain.
Sepanjang 5 putaran penuh itu, kuhabiskan seluruh kemampuanku. Menggunakan hampir semua cadangan energi yang kupunya untuk menguras hati yang terlalu lelah bekerja. Menyatu dengan angin yang menghempas wajah dengan lembutnya. Di bawah konspirasi semesta bersama langit yang begitu indah sore itu.
Dan inilah akhir dari pelarian. Mengingatkanku bahwa ini bukan kegagalan pertama dan terakhir, bahwa kegagalan bisa singgah dimana saja dan kepada siapa saja. Terima kasih kepada yang senantiasa mendampingi dan membimbing. Terima kasih yang telah mengingatkan, bahwa semakin kita belajar semakin kita tahu bahwa kita tidak tahu apa-apa. Terima kasih kepada yang lagi-lagi menyadarkan bahwa seorang aku bukanlah apa-apa dan siapa-siapa. Terima kasih yang telah mengingatkan untuk bertanya pada diri sendiri, apakah aku manusia ataukah hanya seonggok daging yang berjalan.
Bung Karno pernah bilang, ada suatu masa ketika kau hanya ingin sendiri saja bersama angin menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata. Tapi, pernahkah kau merasa sangat ingin menangis lalu tak bisa meneteskan air mata?...
Karena itu, di suatu sore ku putuskan untuk berlari. Kukenakan setelan kombinasi tosca dan putih ternyamanku dengan harapan bisa memutari lapangan sebanyak mungkin dengan waktu selama mungkin tanpa khawatir perasaanku terusik oleh ketidaknyamanan. Benakku sudah memutuskan untuk fokus hanya pada satu hal, mengumpulkan semua kegundahan di bawah langit sore itu dan membuangnya disana. Kuhabiskan 30 menit 5 putaran penuh tanpa henti dan tibalah akhir dari sebuah “pelarian”.
Sepanjang 30 menit itu, kurenungkan semua yang perlu kurenungkan. Mengingat pengalaman luar biasa menyenangkan yang terjadi selama beberapa hari sebelumnya. Belajar tentang banyak hal. Aku belajar tentang waktu yang akan terus berjalan sebagaimana mestinya. Bahwa tak ada waktu yang paling tepat selain waktu yang kita ciptakan sendiri. Aku belajar memaknai kata demi kata, membantuku memahami setiap detail kehidupan. Belajar mencari tahu apa yang benar-benar aku inginkan. Belajar sedikit tentang jagad raya dan alam semesta yang menyembah Tuhan dengan caranya masing-masing. Aku belajar mencintai Tuhan dan membuktikan sendiri dengan mata hatiku bahwa Tuhan itu ADA dan ESA.
Sepanjang 30 menit itu, kusimpulkan semua yang perlu kusimpulkan. Ironis. Ketika tempatku belajar bukanlah sekolah, perguruan tinggi apalagi tempat ibadah. Melainkan hanyalah sebuah bangunan tua yang didominasi hijau dan hitam. Ya, bukankah belajar bisa dimana saja? Dan lebih ironis, ketika pembuktian-pembuktian sebelumku justru tidak disertai aksi nyata. Lalu untuk apa pembuktian ini?, tanyaku dalam hati. Akankah aku berakhir seperti itu pula? Entah.
Sepanjang 5 putaran penuh itu, kulepaskan semua yang perlu kulepaskan. Menguraikan kebisingan alam pikiranku sendiri. Sebab entah mengapa benakku masih merasa asing dengan istilah diskriminasi atau pengkhianatan ketika di sekelilingku, atau bahkan diriku sendiri, penuh dengan ketidakadilan. Bak orang suci atau neonatus. Mungkin daripada mengutuk diri dengan ketidaksiapan dan usaha yang sama sekali jauh dari kata maksimal, akan lebih mudah mempercayai keberuntungan dan kesempatan yang lebih berpihak pada orang lain.
Sepanjang 5 putaran penuh itu, kuhabiskan seluruh kemampuanku. Menggunakan hampir semua cadangan energi yang kupunya untuk menguras hati yang terlalu lelah bekerja. Menyatu dengan angin yang menghempas wajah dengan lembutnya. Di bawah konspirasi semesta bersama langit yang begitu indah sore itu.
Dan inilah akhir dari pelarian. Mengingatkanku bahwa ini bukan kegagalan pertama dan terakhir, bahwa kegagalan bisa singgah dimana saja dan kepada siapa saja. Terima kasih kepada yang senantiasa mendampingi dan membimbing. Terima kasih yang telah mengingatkan, bahwa semakin kita belajar semakin kita tahu bahwa kita tidak tahu apa-apa. Terima kasih kepada yang lagi-lagi menyadarkan bahwa seorang aku bukanlah apa-apa dan siapa-siapa. Terima kasih yang telah mengingatkan untuk bertanya pada diri sendiri, apakah aku manusia ataukah hanya seonggok daging yang berjalan.
Sore itu, ketika 30 menit 5 putaran penuhku habis, kutitipkan keresahanku pada tanah tempatku berpijak, dan meninggalkannya tepat di garis finish pelarianku. Kutinggalkan lapangan dengan keyakinan bahwa Tuhan sedang tersenyum di atas sana dan berkata, “Santailah, sayang. Ini hanya belokan, bukan jalan buntu”