Suatu hari.
Iya. Suatu hari.
Suatu hari akan kubagi rahasiaku ketika aku benar-benar siap untuk membaginya, seperti kamu yang sudah membagi rahasia tentang sejarah ayah dan ibumu.
Suatu hari akan kuceritakan kejamnya seorang gadis di masa lalu, yang mungkin akan membuatmu jijik karena kekejamannya.
Suatu hari akan kudongengkan kisah remaja 18 tahun yang mengalami jungkir balik dalam kehidupannya.
Suatu hari akan kucurahkan rasa terpendam di hari-hari belum-bisa-dibilang-dewasa-dan-bukan-remaja-lagi 20 tahun yang begitu bodohnya membiarkan sekian orang mematahkan hatinya.
Suatu hari akan kulirihkan penyesalan karena berurai air mata untuk seseorang yang bahkan tak pernah memikirkanku.
Suatu hari.
Iya. Suatu hari.
Pernah kudengar seorang teman berkata dan memaki dirinya sendiri dengan kebodohan.
Tapi apa yang lebih bodoh dari tetap bertahan walau tak pernah dijadikan prioritas?
Apa yang lebih bodoh dari jatuh berkali-kali dan berdiri lagi walau tak ada yang mengulurkan tangan?
Apa yang lebih bodoh dari terus menerus mengorbankan perasaan di atas akal?
Dan apa yang lebih bodoh dari menyia-nyiakan orang yang sebenar-benarnya peduli padamu?
Seolah tak pernah belajar bahwa terlalu baik itu beda tipis dengan terlalu bodoh.
Untuk Februari yang menyedihkan dan Maret yang membahagiakan, tanpa bermaksud memilih kasih pada satuan waktu.
Selamat datang, April dan seterusnya. Lembaran kisahku masih terus kuukir hingga suatu hari menjadi buku yang bisa kudongengkan pada siapapun yang ingin didongengkan.
Iya, suatu hari.
Hopeffully,
To love and to be loved unconditionally.
Wednesday, April 1, 2015
Wednesday, February 18, 2015
Ini Hanya Belokan, Bukan Jalan Buntu
Puluhan menit kutatap wajah yang ada di hadapanku. Ada wajah yang tak terbaca disana. Urat kekecewaan, syukur luar biasa dan bingung yang bercampur menjadi satu kesatuan. Sejak lama perasaan seperti ini terkubur. Namun hari ini bersama kegelapan pukul 01.40 waktu setempat, ia bangkit dan hadir kembali.
Bung Karno pernah bilang, ada suatu masa ketika kau hanya ingin sendiri saja bersama angin menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata. Tapi, pernahkah kau merasa sangat ingin menangis lalu tak bisa meneteskan air mata?...
Karena itu, di suatu sore ku putuskan untuk berlari. Kukenakan setelan kombinasi tosca dan putih ternyamanku dengan harapan bisa memutari lapangan sebanyak mungkin dengan waktu selama mungkin tanpa khawatir perasaanku terusik oleh ketidaknyamanan. Benakku sudah memutuskan untuk fokus hanya pada satu hal, mengumpulkan semua kegundahan di bawah langit sore itu dan membuangnya disana. Kuhabiskan 30 menit 5 putaran penuh tanpa henti dan tibalah akhir dari sebuah “pelarian”.
Sepanjang 30 menit itu, kurenungkan semua yang perlu kurenungkan. Mengingat pengalaman luar biasa menyenangkan yang terjadi selama beberapa hari sebelumnya. Belajar tentang banyak hal. Aku belajar tentang waktu yang akan terus berjalan sebagaimana mestinya. Bahwa tak ada waktu yang paling tepat selain waktu yang kita ciptakan sendiri. Aku belajar memaknai kata demi kata, membantuku memahami setiap detail kehidupan. Belajar mencari tahu apa yang benar-benar aku inginkan. Belajar sedikit tentang jagad raya dan alam semesta yang menyembah Tuhan dengan caranya masing-masing. Aku belajar mencintai Tuhan dan membuktikan sendiri dengan mata hatiku bahwa Tuhan itu ADA dan ESA.
Sepanjang 30 menit itu, kusimpulkan semua yang perlu kusimpulkan. Ironis. Ketika tempatku belajar bukanlah sekolah, perguruan tinggi apalagi tempat ibadah. Melainkan hanyalah sebuah bangunan tua yang didominasi hijau dan hitam. Ya, bukankah belajar bisa dimana saja? Dan lebih ironis, ketika pembuktian-pembuktian sebelumku justru tidak disertai aksi nyata. Lalu untuk apa pembuktian ini?, tanyaku dalam hati. Akankah aku berakhir seperti itu pula? Entah.
Sepanjang 5 putaran penuh itu, kulepaskan semua yang perlu kulepaskan. Menguraikan kebisingan alam pikiranku sendiri. Sebab entah mengapa benakku masih merasa asing dengan istilah diskriminasi atau pengkhianatan ketika di sekelilingku, atau bahkan diriku sendiri, penuh dengan ketidakadilan. Bak orang suci atau neonatus. Mungkin daripada mengutuk diri dengan ketidaksiapan dan usaha yang sama sekali jauh dari kata maksimal, akan lebih mudah mempercayai keberuntungan dan kesempatan yang lebih berpihak pada orang lain.
Sepanjang 5 putaran penuh itu, kuhabiskan seluruh kemampuanku. Menggunakan hampir semua cadangan energi yang kupunya untuk menguras hati yang terlalu lelah bekerja. Menyatu dengan angin yang menghempas wajah dengan lembutnya. Di bawah konspirasi semesta bersama langit yang begitu indah sore itu.
Dan inilah akhir dari pelarian. Mengingatkanku bahwa ini bukan kegagalan pertama dan terakhir, bahwa kegagalan bisa singgah dimana saja dan kepada siapa saja. Terima kasih kepada yang senantiasa mendampingi dan membimbing. Terima kasih yang telah mengingatkan, bahwa semakin kita belajar semakin kita tahu bahwa kita tidak tahu apa-apa. Terima kasih kepada yang lagi-lagi menyadarkan bahwa seorang aku bukanlah apa-apa dan siapa-siapa. Terima kasih yang telah mengingatkan untuk bertanya pada diri sendiri, apakah aku manusia ataukah hanya seonggok daging yang berjalan.
Bung Karno pernah bilang, ada suatu masa ketika kau hanya ingin sendiri saja bersama angin menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata. Tapi, pernahkah kau merasa sangat ingin menangis lalu tak bisa meneteskan air mata?...
Karena itu, di suatu sore ku putuskan untuk berlari. Kukenakan setelan kombinasi tosca dan putih ternyamanku dengan harapan bisa memutari lapangan sebanyak mungkin dengan waktu selama mungkin tanpa khawatir perasaanku terusik oleh ketidaknyamanan. Benakku sudah memutuskan untuk fokus hanya pada satu hal, mengumpulkan semua kegundahan di bawah langit sore itu dan membuangnya disana. Kuhabiskan 30 menit 5 putaran penuh tanpa henti dan tibalah akhir dari sebuah “pelarian”.
Sepanjang 30 menit itu, kurenungkan semua yang perlu kurenungkan. Mengingat pengalaman luar biasa menyenangkan yang terjadi selama beberapa hari sebelumnya. Belajar tentang banyak hal. Aku belajar tentang waktu yang akan terus berjalan sebagaimana mestinya. Bahwa tak ada waktu yang paling tepat selain waktu yang kita ciptakan sendiri. Aku belajar memaknai kata demi kata, membantuku memahami setiap detail kehidupan. Belajar mencari tahu apa yang benar-benar aku inginkan. Belajar sedikit tentang jagad raya dan alam semesta yang menyembah Tuhan dengan caranya masing-masing. Aku belajar mencintai Tuhan dan membuktikan sendiri dengan mata hatiku bahwa Tuhan itu ADA dan ESA.
Sepanjang 30 menit itu, kusimpulkan semua yang perlu kusimpulkan. Ironis. Ketika tempatku belajar bukanlah sekolah, perguruan tinggi apalagi tempat ibadah. Melainkan hanyalah sebuah bangunan tua yang didominasi hijau dan hitam. Ya, bukankah belajar bisa dimana saja? Dan lebih ironis, ketika pembuktian-pembuktian sebelumku justru tidak disertai aksi nyata. Lalu untuk apa pembuktian ini?, tanyaku dalam hati. Akankah aku berakhir seperti itu pula? Entah.
Sepanjang 5 putaran penuh itu, kulepaskan semua yang perlu kulepaskan. Menguraikan kebisingan alam pikiranku sendiri. Sebab entah mengapa benakku masih merasa asing dengan istilah diskriminasi atau pengkhianatan ketika di sekelilingku, atau bahkan diriku sendiri, penuh dengan ketidakadilan. Bak orang suci atau neonatus. Mungkin daripada mengutuk diri dengan ketidaksiapan dan usaha yang sama sekali jauh dari kata maksimal, akan lebih mudah mempercayai keberuntungan dan kesempatan yang lebih berpihak pada orang lain.
Sepanjang 5 putaran penuh itu, kuhabiskan seluruh kemampuanku. Menggunakan hampir semua cadangan energi yang kupunya untuk menguras hati yang terlalu lelah bekerja. Menyatu dengan angin yang menghempas wajah dengan lembutnya. Di bawah konspirasi semesta bersama langit yang begitu indah sore itu.
Dan inilah akhir dari pelarian. Mengingatkanku bahwa ini bukan kegagalan pertama dan terakhir, bahwa kegagalan bisa singgah dimana saja dan kepada siapa saja. Terima kasih kepada yang senantiasa mendampingi dan membimbing. Terima kasih yang telah mengingatkan, bahwa semakin kita belajar semakin kita tahu bahwa kita tidak tahu apa-apa. Terima kasih kepada yang lagi-lagi menyadarkan bahwa seorang aku bukanlah apa-apa dan siapa-siapa. Terima kasih yang telah mengingatkan untuk bertanya pada diri sendiri, apakah aku manusia ataukah hanya seonggok daging yang berjalan.
Sore itu, ketika 30 menit 5 putaran penuhku habis, kutitipkan keresahanku pada tanah tempatku berpijak, dan meninggalkannya tepat di garis finish pelarianku. Kutinggalkan lapangan dengan keyakinan bahwa Tuhan sedang tersenyum di atas sana dan berkata, “Santailah, sayang. Ini hanya belokan, bukan jalan buntu”
Monday, December 8, 2014
Potongan Kebab Di Antara Sisa Hujan
Dulu aku suka hujan. Tapi dulu pun aku pernah tak suka hujan. Tidak penting. Karena tidak semua hujan mengingatkanku padamu. Hanya hujan seperti hari ini. Hujan yang mengingatkanku pada potongan kebab yang kau berikan padaku.
Apa kabar kamu disana? Mungkin kau tak pernah tahu potongan kebab itu adalah kebab pertama dan terakhir seumur hidupku. Kebab yang kau berikan sambil menemaniku menunggu di tengah hujan yang tak terlalu deras kala itu. Cita-citaku sederhana. Suatu hari dengan pribadi yang berbeda, kita bertemu lagi dan berbagi kebab di antara sisa hujan yang hinggap di dedaunan atau pinggiran kaca.
Apa kabar kamu disana? Mungkin kau tak pernah ingat kalimat terakhir yang kau ucapkan padaku di hari kelulusan kita. Kau duduk disana dan aku berdiri tak terlalu jauh darimu. Kau memanggil namaku, kemudian aku menoleh dan kau tak mengucapkan apapun setelahnya. Hanya namaku yang tergantung, seperti kisahku yang tergantung oleh diriku sendiri. Ya, hanya olehku sendiri. Karena sejak awal memang hanya ada aku yang sepenuhnya melihatmu dengan rasaku. Bersama diamku.
Apa kabar kamu disana? Kau dengan cita-citamu yang tinggi. Sementara aku dengan diriku yang masih ingat tanggal kelahiranmu, tanggal yang sekaligus menjadi angka kesukaanmu. Aku dengan tulisanku yang bodoh, tidak terangkai dan berantakan. Yang mungkin tidak akan pernah kau baca, atau mungkin kelak akan kau baca sambil tertawa. Aku dengan pikiranku yang tak tahu banyak tentangmu, selain hal-hal kecil yang bahkan tidak penting bagimu. Aku yang terlalu berani menatapmu padahal sepenuhnya sadar kau memiliki dia di sisimu kala itu. Atau aku yang terlalu pengecut dan hanya bisa melihat punggungmu ketika kau menawarkan tumpangan pulang untukku. Berbahaya perempuan pulang sendirian malam-malam, katamu.
Apa kabar kamu disana? Mungkin kau tak ingat tiga pertemuan kita setelah hari kelulusan. Kau datang tiba-tiba bagai angin kencang yang menghantam wajahku dari depan, kau lewat dan membuatku melompat kegirangan di belakangmu seperti anak kecil tanpa kau sadari. Atau hari berikutnya, juga membuat mataku berbinar-binar mencari sosokmu yang kudengar ada di tempat yang sama denganku, tempat pertama kali aku mengenalmu. Lagi-lagi secara tiba-tiba. Atau di hari reuni kita bersama mereka, yang membayar rasa rinduku untuk sementara akan kenangan-kenangan indah yang aku lalui, dengan atau tanpamu.
Apa kabar kamu disana? Semoga keinginanmu tercapai, semua keinginan yang pernah kau ceritakan padaku tanpa sadar di sela-sela waktu kita yang hampir tak berjarak, serta obsesimu untuk menikah dini dengan perempuan pilihanmu. Dan polosnya aku yang tertawa saja kala kau meminta bantuanku mencarikan perempuan baik untukmu. Tapi tulus, doaku menyertaimu. Doa yang aku panjatkan di sela-sala hariku ketika mengingatmu. Seperti hari ini. Doa yang aku panjatkan setiap tahun di hari ulang tahunmu, yang sudah dua tahun lebih kulalui tanpamu. Tidak sesulit yang kau pikirkan, rasanya hampir sama seperti hari-hari yang kulalui sebelum bertemu denganmu.
Apa kabar kamu disana? Semoga kau sehat selalu. Doakan aku yang masih terus belajar tentang kehidupan, setelah fase terbalik duniaku. Karena kemudian kusadari setiap aku keluar dari zona nyamanku, akan selalu ada zona yang lebih luas setelahnya. Sekali lagi menyadarkanku bahwa duniaku masih terlalu sempit. Walau cita-citaku sederhana. Suatu hari dengan pribadi yang berbeda, kita
bertemu lagi dan berbagi kebab di antara sisa hujan yang hinggap di
dedaunan atau pinggiran kaca. Bercerita tentang dunia kita masing-masing.
Seperti lilin yang bahkan tak habis jika kau bakar dengan apimu.
From blessed to love
Monday, July 28, 2014
You Know You're Being Older
You know you're being older..ketika momen tahunan tak lagi sama rasanya. Termasuk lebaran.
You know you're being older..ketika orang-orang yang kau kasihi pun tak lagi sama.
Dialah yang terbiasa kucium jemari kasarnya..
Seterbiasa ia menyadari panas demam di tubuh mungilku.
Seterbiasa ia meniupkan doa-doa tulusnya di sela rambut kepalaku.
Seterbiasa ia memaksaku makan setiap kali datang berkunjung.
Seterbiasa ia memintaku setiap saat menginap di rumah hangatnya.
Seterbiasa ia mengisi harinya di dapur dan ruang belakang.
Ia yang kini meskipun ada di hadapan mataku tetapi masih sangat aku rindukan.
Kini..
Jemari kasarnya masih terbiasa kucium, tetapi hangat darahku tak lagi ia sadari.
Doa-doanya tak lagi terasa di sela rambutku, tetapi pelukannya mengantarkanku mengucap doa dalam hati.
Ia masih memaksaku makan setiap kali kunjunganku, tetapi mengulangnya berkali-kali seolah ia belum melakukannya.
Tak ada lagi pintanya agar aku menginap di rumahnya yang penuh kenangan.
Mata dan ingatannya yang kini rabun seolah memaksanya untuk duduk, diam, menerawang dan sekali-sekali bertanya, "itu siapa?"
Ia lah nenek..
Kini ia tua rentah. Pikun sepikun ia yang tak lagi mengingat nama dan wajah cucu tertuanya.
Tapi mata itu masih sama. Teduh. Hanya saja tak terbaca.
Mata itu bisa saja berkata bahwa ia bahagia, melihat anak cucunya masih bisa berkumpul di hari yang istimewa. Berbagi canda hangat.
Tapi mata itu juga bisa berkata bahwa ia gundah, sebab tak lagi mengenali semua wajah-wajah yang dulu jelas dalam memorinya.
Doaku untukmu selalu terucap bersama mata yang perlahan menutup, lalu membawa doa itu ke dalam. Menyimpannya rapat dalam sebuah ruangan kecil di hati. Untuk nenek yang terkasih, yang selalu kupanggil 'mamak'.
You know you're being older..bersama waktu yang tak pernah meminta izin kita untuk terus berjalan dan berputar.
Jul 29, 2014 9:32:07 AM
Thursday, July 24, 2014
We Deserve To Love
Energi itu ada, jiwa itu ada..
Kehidupan memang tiada habisnya dibicarakan. Kita banyak belajar dari berbagai kehidupan, milik kita sendiri hingga milik orang lain. Tapi kali ini, energi ini begitu kuatnya memaksa saya untuk kembali menuangkan isi kepala melalui huruf-huruf yang akan terangkai membentuk susunan kata dan kalimat yang tidak semua orang bisa pahami, bahkan saya sendiri. Welcome home:)
Bung Karno pernah bilang, "Ada saatnya dalam hidupmu engkau hanya ingin sendiri saja bersama angin menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata"..
Dan pencarian ini berakhir pada beberapa kesimpulan yang kembali menampar membangunkan kita, bahwa setiap orang punya masalahnya sendiri dan tergantung masing-masing individu menyikapi masalah mereka.
Ada yang menyikapi dengan tenang, menjalani hidup seolah tidak terjadi apa-apa. Menipu sekian banyak sepasang mata manusia dengan senyum yang terukir manis di bibirnya..
Ada yang menyikapi dengan berontak. Merasa bahwa semesta begitu tidak adil, menganggap bahwa Tuhan adalah sutradara yang dengan mudahnya mempermainkan garis tangan kehidupan manusia..
Dan ada yang menyikapi dengan meluapkan isi hati yang telah lama terkubur dalam dan tersimpan di sudut ruang terkecil. Melalui berbagai cara yang entah dianggap positif atau bahkan menimbulkan pro dan kontra..mengusik kehidupan jiwa lain.
Whatever.
Ketika masih ada orang yang mencampuri kehidupan kita, dengan cara apapun, be positive! Bukankah mereka adalah orang-orang yang masih peduli? Meskipun caranya berbeda. Karena ketiadaan seorangpun yang peduli akan mendatangkan kesunyian dan saat itulah kita dengan segala kemampuan kita mengizinkan iblis manapun mengetuk pintu hati kita, memasuki kehidupan kita, rumah jiwa kita.
What I belive is.. Dengan cara apapun kita menyikapi, semuanya akan baik-baik saja selama kita masih mengingat Allah, Sang Empunya Masalah, Semesta, Kehidupan bahkan Jiwa.
"Dont Trust Anyone"..
Sayangnya kebahagiaan dan cinta datangnya dari sebuah kata bernama "TRUST". Hanya ada dua kemungkinan seseorang tidak mempercayai orang lain. Terlalu bahagia dan damai melebihi apapun di dunia ini, atau tidak akan pernah bahagia sama sekali.
Semoga saja kita termasuk manusia-manusia yang diberi cobaan agar diri kita menjadi lebih kuat. Membuat diri kita pantas melanjutkan kehidupan. And that's how life works.
Sebesar apapun masalah yang sekarang kita hadapi, berhentilah menganggap bahwa diri kita adalah satu-satunya pemilik masalah, satu-satunya yang paling tersakiti, satu-satunya yang mencoba survive..
Ada anon bijak yang pernah bilang, stop sayin "God, I have a big problem" and lets start sayin "Problem, I have a big GOD".
WE DESERVE TO BE HAPPY.
WE DESERVE TO LOVE.
Sincerly,
From blessed to love.
Kehidupan memang tiada habisnya dibicarakan. Kita banyak belajar dari berbagai kehidupan, milik kita sendiri hingga milik orang lain. Tapi kali ini, energi ini begitu kuatnya memaksa saya untuk kembali menuangkan isi kepala melalui huruf-huruf yang akan terangkai membentuk susunan kata dan kalimat yang tidak semua orang bisa pahami, bahkan saya sendiri. Welcome home:)
Bung Karno pernah bilang, "Ada saatnya dalam hidupmu engkau hanya ingin sendiri saja bersama angin menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata"..
Dan pencarian ini berakhir pada beberapa kesimpulan yang kembali menampar membangunkan kita, bahwa setiap orang punya masalahnya sendiri dan tergantung masing-masing individu menyikapi masalah mereka.
Ada yang menyikapi dengan tenang, menjalani hidup seolah tidak terjadi apa-apa. Menipu sekian banyak sepasang mata manusia dengan senyum yang terukir manis di bibirnya..
Ada yang menyikapi dengan berontak. Merasa bahwa semesta begitu tidak adil, menganggap bahwa Tuhan adalah sutradara yang dengan mudahnya mempermainkan garis tangan kehidupan manusia..
Dan ada yang menyikapi dengan meluapkan isi hati yang telah lama terkubur dalam dan tersimpan di sudut ruang terkecil. Melalui berbagai cara yang entah dianggap positif atau bahkan menimbulkan pro dan kontra..mengusik kehidupan jiwa lain.
Whatever.
Ketika masih ada orang yang mencampuri kehidupan kita, dengan cara apapun, be positive! Bukankah mereka adalah orang-orang yang masih peduli? Meskipun caranya berbeda. Karena ketiadaan seorangpun yang peduli akan mendatangkan kesunyian dan saat itulah kita dengan segala kemampuan kita mengizinkan iblis manapun mengetuk pintu hati kita, memasuki kehidupan kita, rumah jiwa kita.
What I belive is.. Dengan cara apapun kita menyikapi, semuanya akan baik-baik saja selama kita masih mengingat Allah, Sang Empunya Masalah, Semesta, Kehidupan bahkan Jiwa.
"Dont Trust Anyone"..
Sayangnya kebahagiaan dan cinta datangnya dari sebuah kata bernama "TRUST". Hanya ada dua kemungkinan seseorang tidak mempercayai orang lain. Terlalu bahagia dan damai melebihi apapun di dunia ini, atau tidak akan pernah bahagia sama sekali.
Semoga saja kita termasuk manusia-manusia yang diberi cobaan agar diri kita menjadi lebih kuat. Membuat diri kita pantas melanjutkan kehidupan. And that's how life works.
Sebesar apapun masalah yang sekarang kita hadapi, berhentilah menganggap bahwa diri kita adalah satu-satunya pemilik masalah, satu-satunya yang paling tersakiti, satu-satunya yang mencoba survive..
Ada anon bijak yang pernah bilang, stop sayin "God, I have a big problem" and lets start sayin "Problem, I have a big GOD".
WE DESERVE TO BE HAPPY.
WE DESERVE TO LOVE.
Sincerly,
From blessed to love.
Friday, February 28, 2014
Another part of me, wanna say Hello?
Manusia cenderung bertanya ketika diberi cobaan dan musibah, "Tuhan, kenapa Engkau berikan cobaan ini kepadaku?". Tapi kenapa kita tidak pernah bertanya ketika kita dilimpahi kebahagiaan, berkah, anugrah, nikmat dan rahmatNya, "Tuhan, kenapa Engkau limpahkan kebahagiaan ini kepadaku?". Saya rasa ini patut kita renungkan. Ini bukan hal yang baru, saya pun pernah melaluinya dan tidak menutup kemungkinan akan saya lalui kembali.
Ada yang tidak butuh dan tidak perlu lagi kata bijak? Saya tidak akan memberi kata bijak disini. Ada yang berpendapat kalo teori tentang 'usaha sama dengan hasil' itu cuma omong kosong? Silahkan berpikir seperti itu. Saya tidak pernah meminta siapapun untuk percaya karena saya pun perlu usaha keras untuk mempercayai orang lain. Ada yang tidak percaya dengan keberuntungan? Bagus lah. Karena sebagian orang justru memaksakan diri mereka untuk percaya dan sebagiannya lagi percaya hanya sebagai pembenaran.
Mungkin tinggal ucapan maaf dan terima kasih yang akan saya katakan. Maaf karena saya bukan superhero dan hanya manusia biasa. Maafkan jika tertanam dendam di hati siapapun itu. Terima kasih. Terima kasih kepada yang telah mengajarkan saya arti dari banyak hal, yang mengajarkan saya untuk tetap teguh dan meluruskan niat, yang membukakan saya kesempatan sehingga saya bisa kembali menulis dan menuangkan isi pikiran saya kesini. Dan yang saya percaya, semua ini terjadi atas izin Allah.
Sunday, February 23, 2014
Seperti Sabar Yang Tidak Akan Pernah Ada Batasnya
Kamu pernah dengar kalo air mata itu sumber kekuatan? Mungkin itulah air mata yang keluar ketika hati sudah terlalu letih bersabar dan mulut yang tak tau lagi harus berkata apa. Menyisakan doa yang setiap saat ada dalam sujud.
Kamu kira marah, kata-kata kasar maupun sindiran itu bukti kesabaran yang melampaui batas? Katanya sabar itu ada batasnya? Lah kalo berbatas lantas marah ya bukan sabar lagi namanya. Entahlah. Yang aku tahu, ketika air mata itu sudah jatuh dalam kesendiriannya, hati hanya bisa meminta satu hal...istirahat.
Hati ini bukannya letih sehabis bermain kesana kemari karena ia bukan pemain hati. Tapi hati ini sudah bekerja keras melindungi perasaan orang-orang yang seharusnya ia lindungi. Bekerja keras menutup mata dan telinga atas semua ketidakadilan dan kemunafikan. Dan dalam waktu bersamaan bekerja keras membuka mata dan telinga atas semua berkah yang datangnya dari Sang Pemilik Semesta.
Lalu setelah habis masa istirahatmu yang hanya sejenak dengan setetes air mata yang penuh berkah itu, maka lanjutkan kerja kerasmu dengan tekad yang lebih kuat, sampai tiba saatnya kamu kembali tertatih lagi lalu bangun lagi dan seterusnya tanpa batas. Seperti sabar yang tidak akan pernah ada batasnya..
Kamu kira marah, kata-kata kasar maupun sindiran itu bukti kesabaran yang melampaui batas? Katanya sabar itu ada batasnya? Lah kalo berbatas lantas marah ya bukan sabar lagi namanya. Entahlah. Yang aku tahu, ketika air mata itu sudah jatuh dalam kesendiriannya, hati hanya bisa meminta satu hal...istirahat.
Hati ini bukannya letih sehabis bermain kesana kemari karena ia bukan pemain hati. Tapi hati ini sudah bekerja keras melindungi perasaan orang-orang yang seharusnya ia lindungi. Bekerja keras menutup mata dan telinga atas semua ketidakadilan dan kemunafikan. Dan dalam waktu bersamaan bekerja keras membuka mata dan telinga atas semua berkah yang datangnya dari Sang Pemilik Semesta.
Lalu setelah habis masa istirahatmu yang hanya sejenak dengan setetes air mata yang penuh berkah itu, maka lanjutkan kerja kerasmu dengan tekad yang lebih kuat, sampai tiba saatnya kamu kembali tertatih lagi lalu bangun lagi dan seterusnya tanpa batas. Seperti sabar yang tidak akan pernah ada batasnya..
Subscribe to:
Posts (Atom)