Saturday, October 21, 2017

Begitu Salah Begitu Benar

Tuhan punya lebih dari bermilyar-milyar rahasia. Tidak terhingga. Dan di antara sekian banyak hari yang ada, hari ini dipilihNya sebagai salah satu hari perenungan. Dalam perjalanan menuju hotel tempat pernikahan seorang teman berlangsung, bersama supir taksi online yang berkali-kali terabaikan saat ia mulai membuka topik.

Silang menyilang obrolan yang semakin pendek mengisyaratkan kelelahan, pun kejenuhan. Namun jarak menuntut tak ingin disalahkan. Lalu apa yang salah dari pesan singkat yang semakin jarang? Apa yang salah dari groupchat yang isinya hanya rentetan stiker oleh orang yang berbeda-beda? Apa yang salah dari hubungan yang hanya ditopang oleh kuota internet dan kekuatan jaringan? Ya, semua terasa salah. Sepertinya kita jauh dari kata tuntas ketika berbicara tentang komunikasi.

Tidak ada lagi objek tawa.

Tidak ada lagi marah.

Tidak ada lagi gelisah.

Sunyi sekali.

Ternyata, 3 bulan adalah waktu yang singkat namun cukup untuk benar-benar melihat sebuah perubahan.

Mungkin benar saya yang salah karena terlalu gengsi memulai obrolan, terlalu sibuk mengamati dunia orang lain, terlalu submisiv ketika bertemu dominan, terlalu datar, tidak humoris, tidak kreatif, seolah tidak punya gairah hidup sehingga tidak layak masuk hitungan dan tidak layak dijadikan prioritas. Atau mungkin perasaan saya saja yang lagi lagi salah, hanya mendramatisir keadaan. Jika memang bagitu adanya, sungguh sulit menjadi diri sendiri. Kali ini, semua terasa benar.

Saya jadi teringat tulisan Sapardi Djoko dalam bukunya Hujan Bulan Juni, ketika intensitas dan kualitas obrolan Sarwono bersama Pingkan menjadi berkurang. Sekuat tenaga disingkirkan pemikiran bodohnya, dan memilih untuk terus saling percaya. Sesederhana itu.

Saturday, May 13, 2017

Tanya Hati

Banyak yang bilang politik itu kotor, manipulatif, penuh dosa. Dengan alasan itu pula sebelum masuk kuliah dulu, saya sudah menjauhkan Ilmu Politik dari list fakultas/jurusan yang akan saya pilih. Tanpa sadar dan dengan bodohnya, memilih kedokteran yang justru menempatkan salah satu kaki di neraka. Setidaknya sekarang saya tidak lagi anti politik. Saya senang ketika diajak diskusi tentang pandangan politik, baik yang terjadi di Indonesia maupun dunia. Saya percaya politik sama pentingnya dengan ilmu lain yang diajarkan di perkuliahan dulu (dan kini). Atau, mungkin sesederhana saya yang tidak bisa membayangkan tatanan negara tanpa politik. Apapun itu, dengan keterbatasan ilmu dan preferensi terhadap politik, ketika menyangkut pertukaran opini saya akan tetap menimbrung. Walau lebih sering terpancing daripada membuka topik. Lebih sering sok tahu daripada benar-benar tahu.

Salah satu hal yang tidak saya senangi, ketika saya berbuat salah, akan ada orang-orang yang justru lebih senang mengungkit kesalahan-kesalahan saya yang lain, bahkan kesalahan yang sudah lama berlalu. Saya tahu mereka tidak sepenuhnya berniat membuat saya merasa tidak dimaafkan, melainkan sekedar membuat saya semakin menyesali perbuatan saya, memaksa saya untuk tidak lagi berbuat salah atau setidaknya tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sebagaimana kesalahan untuk dijadikan sebuah pelajaran. Seperti halnya dengan pilkada ini. Berbicara tentang pesta demokrasi ibukota beberapa waktu lalu, yakin dan percaya saya bukan satu-satunya yang berujung kesal, bukan satu-satunya yang senang beropini tapi justru jatuh sampai ke titik terjenuh. Bagaimana tidak, masalah yang berawal jauh sebelum pilkada ini sudah berlarut-larut hingga beberapa waktu ke depan, bahkan mengungkit tragedi Mei 1998, mengungkit luka lama dan ketakutan yang tersimpan jauh dalam lubuk hati segelintir orang tertentu yang merasakan sendiri tragedi tersebut. Lagi-lagi kembali ke masa lalu, mengingatkan kita untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.

Baiklah, sejarah memang penting menjadi self reminder bagi kita terhadap penyesalan maupun rasa syukur terhadap masa lalu. Sejarah membuat kita belajar tentang kehidupan, baik dari diri kita maupun orang lain. Ibarat sudah terlanjur basah, mari kita sedikit merunut ke masa lalu. Kisah ini dimulai oleh oknum-oknum yang menggunakan Agama sebagai senjata politik. Kemudian oknum oposisi terpancing membela/melawan, yang dianggap oleh banyak orang sebagai perlawanan terhadap sebuah Agama. Ada dua kata kunci yang bisa saya ambil; Agama dan Politik. Karena keduanya bukan keahlian saya, maka saya tidak punya hak menyampaikan apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan. Tapi terlepas dari keterbatasan ilmu, saya meyakini pekerjaan paling mulia adalah dakwah, menyiarkan Islam. Saya percaya ada banyak cara dalam menyiarkan Islam tanpa harus memaki secara terang-terangan orang lain, apalagi orang asing, sebagai kaum kafir. Pun saya percaya ada banyak momen yang bisa digunakan untuk menyebarkan Islam tanpa perlu dikait-kaitkan dengan politik tak sehat. Tapi penyimpangan-penyimpangan terhadap penyebaran suatu ajaran tetap tidak bisa dijadikan alasan untuk menyinggung sebuah Agama yang sama sekali tidak kita yakini/ketahui, dengan atau tanpa niat menjatuhkan. Ini berlaku untuk semua keyakinan yang diakui, beda lagi ceritanya yang tidak diakui secara hukum. Sekali ini, maafkan jika saya salah.

Saya adalah muslim dan akan memilih yang juga muslim sebagai pemimpin saya. Jika diberi kemerdekaan, tentunya. Setidaknya itu yang agama saya perintahkan. Saya cukup beruntung lahir dan dibesarkan di sekeliling orang-orang yang sebagian besar mempunyai keyakinan yang sama. Meskipun dengan taraf keyakinan yang berbeda-beda. Tapi keberuntungan itu tidak lantas memaksa saya memeluk Islam. Ada proses yang perlu dilalui sampai saya yakin bahwa Islam adalah ajaran yang paling benar. Intermezo.

Hasil akhir dari kisah ini adalah beberapa “kubu” yang saling menebar benih-benih kebencian. Benih-benih yang tidak sehat untuk hati dan pikiran. Saya sudah selesai dengan kebhinekaan, sudah selesai dengan unity in diversity dan slogan pemersatu bangsa lainnya ketika kita tetap saling menyerang tiada henti. Yang satu memaki kafir, yang lain memaki intoleran. Yang satu diam memilih netral dan dianggap apati terhadap negara, yang lain lagi merasa sebagai minoritas seolah olah menjadi satu-satunya korban. Yang sana menghargai hukum, yang sini baru merasa hukum tidak adil. Tanpa sadar sudah banyak orang yang merasakan hilangnya keadilan negeri ini jauh sebelum kisah ini dimulai. Pada akhirnya, sarkasme yang dilontarkan bukan lagi untuk menyampaikan opini tapi terkesan mengikuti tren yang ada, seolah-olah kita adalah yang paling benar. Lalu yang mana sesungguhnya yang paling benar?

Akhir kata, saya jadi teringat obrolan dengan teman saya ketika kami sama-sama mencari kebenaran tentang satu hal dan sama-sama menemui jalan buntu, pada akhirnya ia hanya berkata “cuma hati kita yang bisa menjawab”.

Tuesday, March 28, 2017

Tentang Maret dan Feminisme

Tanggal 8 Maret diperingati sebagai International Woman's Day. Tahun ini WHO sendiri mengangkat tema "End Female Genital Mutilation", tapi tulisan kali ini tidak akan membahas itu. Seperti beberapa tahun terakhir ini, tema sosial yang paling panas dibicarakan tidak jauh seputar feminisme. Bukan hanya kaum perempuan sendiri, tapi para lelaki pun banyak meluapkan keresahannya tentang bagaimana seharusnya perempuan diberi kebebasan dalam memilih jalan hidupnya sendiri. Persoalan hidup dimana, berteman dengan siapa, belajar apa, menikah kapan hingga memutuskan hidup sendiri tetap merupakan pilihan hidup yang juga bebas dimiliki perempuan. Kampanye sudah dilakukan dimana-mana. Via media elektronik, media massa, film, radio bahkan membuat aksi berani dengan turun langsung ke lapangan. Tapi ada satu hal yang menarik dari isu ini. Adalah perspektif perempuan terhadap dirinya sendiri.

Berangkat dari batasan Feminisme menurut KBBI adalah gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria. Belakangan ini saya menghabiskan kuota internet dengan menonton salah satu youtube channel milik WNI asal manado-halmahera yang menikah dengan WNA. Di salah satu videonya, dia banyak bercuap tentang pilihannya untuk tetap bekerja di samping mengurus sesuatu yang menjadi tanggung jawab utamanya-keluarga. Sampai pada kesimpulan bahwa rumah tangga adalah sebuah tim, dan tim membutuhkan kerjasama untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan butuhkan. Mungkin seperti itulah gambaran feminisme. Cerita macam ini sudah sering terdengar atau bahkan berada sangat dekat dengan kehidupan kita. Tapi di comment section ada ada saja segelintir orang yang menganggap bahwa pilihan istri untuk bekerja sementara suami sudah berpenghasilan lebih dari cukup adalah kebodohan, bahwa kodrat seorang perempuan adalah menjadi full-time wife/mom. Lucunya, yang beranggapan seperti itu sebagian besar justru berasal dari kaum perempuan. Lalu kemana feminisme?

Kemudian ada Beauty and The Beast yang rilis bulan ini. Film yang mengangkat isu feminisme justru tidak detail menceritakan perjuangan seorang perempuan dalam menuntut kesetaraan. Twistnya ketika Belle diminta menikah dengan Gaston tapi ia menolak dan lebih memilih si buruk rupa, dianggap sebagai salah satu bentuk feminisme. Tapi penikmat disney versi animasi pasti sudah tahu ini, dan sangat tepat sasaran ketika isu tersebut belum mewabah. Sementara di era sekarang, feminisme tidak hanya berotasi pada penolakan perjodohan ala siti nurbaya atau keberanian perempuan menikah dengan laki-laki pilihan hatinya. Belle seperti menjadi simbol bahwa perempuan lebih banyak mengikuti kata hati dibanding logika. Lalu kemana feminisme? Pada akhirnya, saya tidak menemukan faedah dari film ini. Tidak ada pesan yang benar-benar bisa saya ambil selain "biar jelek asal tajir". Pun kebaikan hati ala prince charming tokoh disney tidak sepenuhnya digambarkan melalui si buruk rupa. Sampai sampai di salah satu scene terbaik (versi saya) Belle harus teriak, "Well you should learn to control your temper!!".

Saya adalah korban genderisasi. Korban dari sekelompok orang yang mempunyai prinsip bahwa pemimpin haruslah datang dari kaum laki-laki. Meski dalam skala yang lebih kecil, cukup membuat saya mengerti rasanya diblackmail dengan alasan "kamu adalah perempuan". But I am not going to play the victim. Hal itu tidak menjadikan saya sebagai pendukung feminisme sepenuhnya. Yang membuat saya geram adalah pelaku blackmail yang (lagi-lagi) datangnya juga dari kaum perempuan sendiri. Belum lagi dengan maraknya pemerkosaan, isu yang mencuat bukan cara berpikir pria, melainkan perilaku berpakaian wanita. Puncaknya ketika Aceh memaksa perempuan memakai pakaian tertutup dan Paris yang memaksa perempuan melepas burkininya. Ayolah, please stop telling woman how to wear! Berhenti mengatur cara bersikap seorang wanita, berhenti membuat lolucon "karena wanita ingin dimengerti" atau "karena perempuan selalu benar" dan berhenti memperlakukan perempuan sebagai objek. Ujung dari semua ini, marilah kita memperlakukan orang lain-perempuan atau laki-laki, selayaknya manusia ingin diperlakukan.

Pada tulisan yang tidak jelas alurnya ini, akhirnya saya sadar bahwa pejuang feminisme harus bekerja ekstra. Di samping mengubah perspektif tentang perempuan di mata laki-laki, juga berjuang memperluas wawasan sesama kaum perempuan. Perempuan seharusnya lebih percaya akan dirinya sendiri dan ketika waktunya tiba tidak lagi menggantungkan hidupnya pada manusia lain, melainkan hanya pada Allah SWT.

Kabarnya tahun ini juga akan rilis film Kartini dan Wonder Woman, semoga ada angin segar yang bisa menjernihkan perspektif kita tentang perempuan dan laki-laki yang sebenarnya.

Sincerely,
Nn.

Source: insight, kbbi, youtube, magdalene, who, google

Tuesday, February 28, 2017

Reply 2000s

Di suatu sore yang mendung, kala matahari dan hujan sedang malu-malunya, tiba-tiba mami menelpon. Saat itu saya baru saja lepas dinas di satu Rumah Sakit dan sedang berkeliaran di Rumah Sakit lain. Mami menyampaikan bahwa salah seorang sahabatnya sedang sakit, kebetulan dirawat di Rumah Sakit tempat saya berada sore itu. Pada akhirnya, kami putuskan untuk menjenguk bersama setelah jam pulang kantor.

Setibanya di kamar perawatan, disambut ibu-ibu kompleks rumah tempat saya tinggal dan sedikit berbasa-basi, mereka lalu kembali sibuk berbagi cerita. Rupanya, mereka sedang bernostalgia tentang bagaimana kehidupan di kompleks jaman dulu. Wajar saja, sejak mami memutuskan kerja kantoran dan beberapa penghuni kompleks pindah rumah, mereka jadi jarang bertemu apalagi berkumpul, seperti sore itu. Entah baru saja atau sudah sejak awal, tapi ibu-ibu banyak membahas tentang anak-anak mereka. Termasuk kami, anak-anak kompleks yang kebetulan ada di kamar. Kami duduk mendengarkan cerita sambil sesekali ikut tertawa dan mengenang sendiri masa-masa kecil kami. Selama ibu-ibu bercerita, terlihat jelas ada kebahagiaan yang memancar dari mata mereka, bahkan yang sedang sakit pun tidak pernah kehilangan senyum.

Tidak lama setelah itu, keluarga kami mendapat undangan reuni warga Gunung Sari, nama kawasan rumah nenek, yang pada akhirnya dihadiri oleh mami dan bapak. Rumah itu pernah ditinggali mami bersama 7 saudaranya saat pertama kali pindah ke kota. Bapak pun pernah tinggal disana di awal pernikahan mereka. Sedikit banyak, kami mengenal para tetangga yang pernah bermukim di kawasan tersebut. Sepulang dari reuni tersebut, mami dan bapak banyak bercerita tentang bagaimana pertemuan dengan orang-orang di masa lalu. Mereka bernostalgia tentang sulitnya kehidupan mereka di jaman dulu. Semisal memetik buah sayur di kebun yang tidak diketahui pemiliknya, saling menjaga rumah ketika ada tetangga seisi rumah yang sedang mudik hingga berbagi makanan pada momen-momen tertentu. Selama mereka bercerita, lagi-lagi terasa aura kebahagaiaan dari suara mereka yang menggebu-gebu. Maka di akhir malam sesi curhat itu, saya putuskan akan menulis tentang ini.

Intermezo. Persahabatan ibu-ibu kompleks dan kerukunan warga Gunung Sari sungguh mengingatkan tentang salah satu drama, Reply series. Satu kata untuk Reply, Hangat. Drama yang mengangkat tema romansa dan keluarga ini berhasil membuat saya jatuh hati pada setiap seri dan episodenya. Membuat kenangan-kenangan yang sudah lama tenggelam kembali menguap ke atas permukaan.

"Anak kompleks yang aslinya besar di kompleks pasti besarnya lebih kusam dibanding anak yang numpang lewat tinggal sebentar di kompleks", kata salah seorang ibu. Teringat, dulunya saya sering ikut kakak atau adik, yang keduanya lelaki, ketika mereka berkelana ke rumah-rumah tetangga untuk sekedar mencari teman bermain atau mencari makanan. Menumpang main kelereng, layangan, yoyo, playstation, tamiya atau mobil-mobilan remote control sebelum bapak akhirnya membelikan mainan yang sama untuk kami. Atau ketika teman lain sedang bermain Boneka Barby yang katanya asli dan hanya dijual di toko resmi. Walau kadang tidak diajak, saya tetap ikutan dan dengan percaya diri membawa boneka saya yang murah meriah dan dibeli di sekolah. Mami bukan tipikal ibu yang baik-baik saja ketika rumah berantakan, dan bapak bukan tipikal ayah yang akan memanjakan anak-anaknya dengan berbagai mainan. Mungkin itulah kenapa kami bersaudara lebih suka bermain di rumah para tetangga, bahkan di tengah hujan maupun teriknya matahari. Pada akhirnya, kami benar-benar tumbuh menjadi anak yang tidak takut cuaca dan tidak takut kusam tentunya. Walau di usia sekarang baru kami sadari bahwa perawatan tubuh juga tidak kalah penting.

Dengan keterbatasan mainan, ini bukan berarti mami dan bapak pelit. Mereka tetap membelikan kami mainan sekadarnya dengan jenis dan jumlah yang masih dalam batas wajar. Suatu hal yang saat ini justru sangat saya syukuri, karena saat ini saya sadari bahwa metode pendidikan yang mereka pakai sejak dulu semata-mata untuk menjadikan kami, anak-anaknya, manusia yang bisa sedikit menghargai hasil kerja orang lain.

Sejak dulu, akhir pekan adalah waktu yang paling dinanti-nantikan. Bukan hanya karena libur sekolah tapi kami sekeluarga juga akan berkumpul di Gunung Sari. Apalagi salah satu rumah tetangga mempunyai segudang permainan. Anak pemilik rumah memang senang mengumpulkan mainan terutama mainan berseri seperti bonus mainan di salah satu restoran makan yang populer kala itu. Pemilik rumah juga bermurah hati sering menyiapkan cemilan saat waktu bermain tiba. Tidak lupa pula rutinitas menginap, entah di rumah nenek atau di rumah tetangga. Senang sekali rasanya ketika kami semua berkumpul di minggu pagi, sambil menunggu mbok-mbok jamu datang lalu kami merengek minta dibelikan. Kemudiaan saat sore hari kami ke lapangan basket di SMK sekitar atau lapangan tennis luas samping rumah nenek. Entah untuk sekedar menggelinding bola, mengibaskan raket, main petak umpet, taplak gunung, kelereng, layangan, gasing, gobak sodor, gebok, lompat tali, ular naga, ular tangga, ludo, halma, monopoli, bekelan, benteng dan lain sebagainya. Kemudian pulang menjelang magrib dalam keadaan kotor, berkeringat, berlumpur, bau atau paling parah dalam kedaan penuh air got. Sungguh masa-masa indah, bebas dan membahagiakan.

Kini waktu telah memaksa kami untuk melangkah maju dan membiarkan masing-masing tumbuh tanpa saling memberi kabar. Itulah kenangan, memori-memori masa kecil yang tidak akan pernah bisa diulang kembali. Meski yang tersisa dari kenangan itu adalah serpihan ingatan, tapi mereka selalu punya tempat tersendiri dan tersimpan di satu sudut ruang kecil bernama hati. Memori yang akan memberikan kehangatan dan kerinduan setiap kali ia hadir. Entah untuk dikenang, untuk dijadikan pelajaran, dan untuk didongengkan kepada siapapun di masa depan.

Selalu ada harapan untuk bertemu orang-orang di masa lalu. Seperti memutar roll film, bersama kami tonton sambil tertawa dan saling menatap memancarkan aura kebahagiaan. Untuk generasi 90s, Reply 2000s.

Sincerely,
Neni.

Sunday, January 22, 2017

Sinis Boleh, Lupa Diri Jangan

Sarkasme, itulah fenomena yang sedang terjadi di, well, hampir seluruh Indonesia. Ibarat ekosistem, dari hulu dan pada akhirnya sampai ke hilir juga. Sarkasme yang dengan mudah dilontarkan dengan maksud menyudutkan salah satu pihak tapi berujung pada kebodohan diri sendiri yang ditampakkan secara gamblang. Niat menjatuhkan satu orang, tetapi justru menjatuhkan negara. Hingga lupa diri bahwa kita adalah bangsa yang satu, tumpah darah yang satu.

Teringat masa-masa basic sekitar 4 tahun yang lalu, salah satu (sebut saja) pemateri pernah berkata, "hancurnya suatu bangsa dikarenakan kemiskinan akibat maraknya kaum-kaum kapitalis". Saat itu saya merenung sejenak lalu saat diberi kesempatan saya berkata, "Menurut saya, hancurnya suatu bangsa dan negara bukanlah karena kemiskinan tetapi justru karena kebodohan". Saya ingat salah satu teman saya menimpali, tapi sayang sekali memori saya tidak begitu bagus, pun arah diskusi sudah terlupakan..

Anyway tidak berapa lama, saya menonton film "?". Saya suka sekali percakapan dengan Romo di gereja. Tentang umat kristiani yang menolak seorang Muslim saat ingin mengambil peran sebagai Jesus dalam drama paskah. Yang kemudian menyerah setelah Romo berkata, "Tidak pernah terjadi suatu agama runtuh oleh karena sebuah drama, yang terjadi adalah agama runtuh karena kebodohan"

Kemudian, saat baru-baru saja Sir Obama terpilih sebagai Presiden USA, Pak Jokowi terpilih sebagai 01 Republik Indonesia dan Pak Basuki alias Ahok terangkat menjadi Gubernur DKI Jakarta, tanpa sengaja saya membaca sebuah postingan tentang kelegaan seorang Ibu yang anaknya lahir di tanah Indonesia. Dalam postingan itu, seorang ibu berpesan kepada anaknya untuk bercita-cita setinggi apapun yang ia mau karena ia tahu saat itu, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia, apapun suku agama dan ras yang ia punya, segalanya menjadi mungkin. Kulit hitam bisa memimpin dunia, rakyat biasa bisa menjadi presiden, tionghoa bisa jadi gubernur, dan lain sebagainya. Lucunya, mata saya berkaca-kaca dan hati pun terasa hangat. Begitulah indahnya perdamaian.

Namun kembali ke kondisi sekarang ini, semuanya seperti berbalik arah. Rasisme dan perdebatan yang tidak sehat merajalela, persahabatan menjadi permusuhan, perdamaian menjadi peperangan, segalanya menjadi tidak seimbang. Ketika keyakinan saya diusik, di satu sisi saya harus membela mati-matian tapi di sisi lain ada kegelisahan dan keresahan disana. Tidak ada lagi kehangatan, yang ada hanya keraguan. Menyisakan doa-doa, semoga Indonesia akan baik-baik saja. Dan jangan menyalahkan pilkada, mari sama-sama refleksi diri. Tidak perlu menjadi bodoh dan menjadi awal penyebab hancurnya negara kita sendiri. Tidak perlu melupakan bhineka tunggal ika. Tidak perlu menjelaskan apa yang sudah kamu perbuat untuk negara dan agamamu, cause the one who likes you wouldnt need it and the one who dislike you wouldnt believe it. Haters gonna hate, rite? Mari sama-sama lebih bijak memilih kata-kata, lebih bijak membela dan lebih bijak melawan. After all, mari sama-sama berbuat yang terbaik untuk Indonesia.

Sincerely, yang ilmu amalnya receh.
Nn.

Monday, October 3, 2016

Meminta Maaf, Wujud Kemenangan Melawan Arogansi

Suatu ketika dari dunia tanpa batas..
"Jangan meremukkan hati yang diserahkan kepadamu dengan sukarela. Kau tak pernah tahu sulitnya membuka diri yang pernah terluka", kata seorang dari dunia itu. Kalimatnya secara tiba-tiba mengingatkanku pada hatimu yang (mungkin) pernah ku lukai. Jika ini belum terlambat, izinkan ku meminta maaf.

Maaf karena tidak membalas pesan-pesan singkat darimu, hingga kau lelah membanjiri kotak pesanku dengan kata-kata yang sekedar menanyakan kabar. Atau membalasnya dengan cara yang tidak seharusnya kulakukan. Tanpa tahu apakah sulit bagimu menekan tombol 'kirim' pada waktu itu. Betapa baiknya kau, dan betapa bodohnya aku.

Maaf karena tidak memberimu sedikit waktu, tidak membiarkanku terbiasa dengan caramu, tidak mengangkat panggilanmu saat teman-temanku hampir tak berjarak denganku. Terlalu malas menjelaskan kepada mereka ketika ditanya, "Siapa yang menelpon?". Tanpa tahu apakah sulit bagimu mencari-cari waktu untuk sekedar mendengar suaraku.

Maaf karena tidak berterima kasih saat kau nyanyikan lagu dan memainkan keyboard lalu mengirimnya melalui pesan suara di blackberryku kala itu. Tanpa tahu apakah lagu itu benar-benar kau nyanyikan untukku atau kau kirimkan pula kepada perempuan lain? Tapi suaramu bagus, sungguh! Tidak seperti suaraku yang sulit dijelaskan.

Maaf karena mengabaikanmu ketika kau coba temui berkali-kali. Atau mengabaikan isyarat yang kau berikan melalui beberapa orang yang sama-sama kita kenali. Tanpa tahu apakah ada tembok yang telah coba kau runtuhkan.

Maaf karena memasang afek datar saat kutahu lagi-lagi kau melakukan sesuatu untukku. Tanpa tahu apakah ada perjuangan panjang yang sudah kau lalui untuk sekedar menyelamatkanku dari keteledoranku sendiri.

Dan maaf tidak bisa menyampaikan langsung padamu, karena waktu yang telah berlalu membawa kita kembali pada titik keasingan satu sama lain. Pada akhirnya, tanpa sadar kau mengajarkanku cara menghargai tanpa benar benar memberi harga.

Mengingat sedikit kata Adhitya Mulya dalam Sabtu Bersama Bapak. Meminta maaf adalah salah satu wujud kemenangan melawan arogansi, kan? Tulus, aku berdoa untuk kebahagiaanmu.

Kita hanya hidup di dunia yang berbeda, dengan kearogansianku kala itu memasuki duniamu atau membiarkanmu masuk ke dalam duniaku.

Sincerely,
To love and to be loved unconditionally.

Friday, April 29, 2016

Doa Di Suatu Akhir Malam

Suatu malam, terlibat dalam lingkaran pemikiran tentang bagaimana seharusnya pengambil keputusan menentukan sebuah kebijakan.

Hanya menyampaikan sedikit ide dan menuangkan isi kepala yang justru menguras hati dan cukup banyak ATP. Hingga air mata tak bisa terbendung, karena kompleksnya suatu runtutan pertempuran.

Di akhir malam itu, aku hanya bisa berdoa. Semoga ini bukanlah suatu pembenaran atas keyakinan dan tenggelamnya seseorang dalam dunia retorika atau gugurnya kaum dalam perang silat lidah. Semoga tidak ada konsep yang terbalik bahkan setelah dihempas lalu dipungut atau diputar sedemikian rupa.

Semoga tiada orang lain yang diagungkan seperti tuhan hingga harus mengorbankan insan yang terlanjur terdorong berenang di lautan buaya demi sebuah sayembara revolusi diri. Semoga tidak ada yang bermaksud mengikat tangan manusia yang berusaha meruntuhkan tembok besar yang sedang dibangun disekitarnya.

Karena jika iya, maka selama ini aku hanya memandang cermin retak yang bahkan puing-puing kacanya sudah jatuh dan tak akan bisa disusun kembali. Dan karena pertanggung-jawaban tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Semoga.

Jangan lupa bahagia.
Nn.