Monday, December 8, 2014

Potongan Kebab Di Antara Sisa Hujan

Dulu aku suka hujan. Tapi dulu pun aku pernah tak suka hujan. Tidak penting. Karena tidak semua hujan mengingatkanku padamu. Hanya hujan seperti hari ini. Hujan yang mengingatkanku pada potongan kebab yang kau berikan padaku.

Apa kabar kamu disana? Mungkin kau tak pernah tahu potongan kebab itu adalah kebab pertama dan terakhir seumur hidupku. Kebab yang kau berikan sambil menemaniku menunggu di tengah hujan yang tak terlalu deras kala itu. Cita-citaku sederhana. Suatu hari dengan pribadi yang berbeda, kita bertemu lagi dan berbagi kebab di antara sisa hujan yang hinggap di dedaunan atau pinggiran kaca.

Apa kabar kamu disana? Mungkin kau tak pernah ingat kalimat terakhir yang kau ucapkan padaku di hari kelulusan kita. Kau duduk disana dan aku berdiri tak terlalu jauh darimu. Kau memanggil namaku, kemudian aku menoleh dan kau tak mengucapkan apapun setelahnya. Hanya namaku yang tergantung, seperti kisahku yang tergantung oleh diriku sendiri. Ya, hanya olehku sendiri. Karena sejak awal memang hanya ada aku yang sepenuhnya melihatmu dengan rasaku. Bersama diamku.

Apa kabar kamu disana? Kau dengan cita-citamu yang tinggi. Sementara aku dengan diriku yang masih ingat tanggal kelahiranmu, tanggal yang sekaligus menjadi angka kesukaanmu. Aku dengan tulisanku yang bodoh, tidak terangkai dan berantakan. Yang mungkin tidak akan pernah kau baca, atau mungkin kelak akan kau baca sambil tertawa. Aku dengan pikiranku yang tak tahu banyak tentangmu, selain hal-hal kecil yang bahkan tidak penting bagimu. Aku yang terlalu berani menatapmu padahal sepenuhnya sadar kau memiliki dia di sisimu kala itu. Atau aku yang terlalu pengecut dan hanya bisa melihat punggungmu ketika kau menawarkan tumpangan pulang untukku. Berbahaya perempuan pulang sendirian malam-malam, katamu.

Apa kabar kamu disana? Mungkin kau tak ingat tiga pertemuan kita setelah hari kelulusan. Kau datang tiba-tiba bagai angin kencang yang menghantam wajahku dari depan, kau lewat dan membuatku melompat kegirangan di belakangmu seperti anak kecil tanpa kau sadari. Atau hari berikutnya, juga membuat mataku berbinar-binar mencari sosokmu yang kudengar ada di tempat yang sama denganku, tempat pertama kali aku mengenalmu. Lagi-lagi secara tiba-tiba. Atau di hari reuni kita bersama mereka, yang membayar rasa rinduku untuk sementara akan kenangan-kenangan indah yang aku lalui, dengan atau tanpamu.
 
Apa kabar kamu disana? Semoga keinginanmu tercapai, semua keinginan yang pernah kau ceritakan padaku tanpa sadar di sela-sela waktu kita yang hampir tak berjarak, serta obsesimu untuk menikah dini dengan perempuan pilihanmu. Dan polosnya aku yang tertawa saja kala kau meminta bantuanku mencarikan perempuan baik untukmu. Tapi tulus, doaku menyertaimu. Doa yang aku panjatkan di sela-sala hariku ketika mengingatmu. Seperti hari ini. Doa yang aku panjatkan setiap tahun di hari ulang tahunmu, yang sudah dua tahun lebih kulalui tanpamu. Tidak sesulit yang kau pikirkan, rasanya hampir sama seperti hari-hari yang kulalui sebelum bertemu denganmu.

Apa kabar kamu disana? Semoga kau sehat selalu. Doakan aku yang masih terus belajar tentang kehidupan, setelah fase terbalik duniaku. Karena kemudian kusadari setiap aku keluar dari zona nyamanku, akan selalu ada zona yang lebih luas setelahnya. Sekali lagi menyadarkanku bahwa duniaku masih terlalu sempit. Walau cita-citaku sederhana. Suatu hari dengan pribadi yang berbeda, kita bertemu lagi dan berbagi kebab di antara sisa hujan yang hinggap di dedaunan atau pinggiran kaca. Bercerita tentang dunia kita masing-masing.

Seperti lilin yang bahkan tak habis jika kau bakar dengan apimu.
From blessed to love

Monday, July 28, 2014

You Know You're Being Older

You know you're being older..ketika momen tahunan tak lagi sama rasanya. Termasuk lebaran.

You know you're being older..ketika orang-orang yang kau kasihi pun tak lagi sama.

Dialah yang terbiasa kucium jemari kasarnya..
Seterbiasa ia menyadari panas demam di tubuh mungilku.
Seterbiasa ia meniupkan doa-doa tulusnya di sela rambut kepalaku.
Seterbiasa ia memaksaku makan setiap kali datang berkunjung.
Seterbiasa ia memintaku setiap saat menginap di rumah hangatnya.
Seterbiasa ia mengisi harinya di dapur dan ruang belakang.

Ia yang kini meskipun ada di hadapan mataku tetapi masih sangat aku rindukan.

Kini..

Jemari kasarnya masih terbiasa kucium, tetapi hangat darahku tak lagi ia sadari.
Doa-doanya tak lagi terasa di sela rambutku, tetapi pelukannya mengantarkanku mengucap doa dalam hati.
Ia masih memaksaku makan setiap kali kunjunganku, tetapi mengulangnya berkali-kali seolah ia belum melakukannya.
Tak ada lagi pintanya agar aku menginap di rumahnya yang penuh kenangan.
Mata dan ingatannya yang kini rabun seolah memaksanya untuk duduk, diam, menerawang dan sekali-sekali bertanya, "itu siapa?"

Ia lah nenek..
Kini ia tua rentah. Pikun sepikun ia yang tak lagi mengingat nama dan wajah cucu tertuanya.

Tapi mata itu masih sama. Teduh. Hanya saja tak terbaca.
Mata itu bisa saja berkata bahwa ia bahagia, melihat anak cucunya masih bisa berkumpul di hari yang istimewa. Berbagi canda hangat.
Tapi mata itu juga bisa berkata bahwa ia gundah, sebab tak lagi mengenali semua wajah-wajah yang dulu jelas dalam memorinya.

Doaku untukmu selalu terucap bersama mata yang perlahan menutup, lalu membawa doa itu ke dalam. Menyimpannya rapat dalam sebuah ruangan kecil di hati. Untuk nenek yang terkasih, yang selalu kupanggil 'mamak'.

You know you're being older..bersama waktu yang tak pernah meminta izin kita untuk terus berjalan dan berputar.

Jul 29, 2014 9:32:07 AM 

Thursday, July 24, 2014

We Deserve To Love

Energi itu ada, jiwa itu ada..

Kehidupan memang tiada habisnya dibicarakan. Kita banyak belajar dari berbagai kehidupan, milik kita sendiri hingga milik orang lain. Tapi kali ini, energi ini begitu kuatnya memaksa saya untuk kembali menuangkan isi kepala melalui huruf-huruf yang akan terangkai membentuk susunan kata dan kalimat yang tidak semua orang bisa pahami, bahkan saya sendiri. Welcome home:)

Bung Karno pernah bilang, "Ada saatnya dalam hidupmu engkau hanya ingin sendiri saja bersama angin menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata"..

Dan pencarian ini berakhir pada beberapa kesimpulan yang kembali menampar membangunkan kita, bahwa setiap orang punya masalahnya sendiri dan tergantung masing-masing individu menyikapi masalah mereka.

Ada yang menyikapi dengan tenang, menjalani hidup seolah tidak terjadi apa-apa. Menipu sekian banyak sepasang mata manusia dengan senyum yang terukir manis di bibirnya..

Ada yang menyikapi dengan berontak. Merasa bahwa semesta begitu tidak adil, menganggap bahwa Tuhan adalah sutradara yang dengan mudahnya mempermainkan garis tangan kehidupan manusia..

Dan ada yang menyikapi dengan meluapkan isi hati yang telah lama terkubur dalam dan tersimpan di sudut ruang terkecil. Melalui berbagai cara yang entah dianggap positif atau bahkan menimbulkan pro dan kontra..mengusik kehidupan jiwa lain.

Whatever.

Ketika masih ada orang yang mencampuri kehidupan kita, dengan cara apapun, be positive! Bukankah mereka adalah orang-orang yang masih peduli? Meskipun caranya berbeda. Karena ketiadaan seorangpun yang peduli akan mendatangkan kesunyian dan saat itulah kita dengan segala kemampuan kita mengizinkan iblis manapun mengetuk pintu hati kita, memasuki kehidupan kita, rumah jiwa kita.

What I belive is.. Dengan cara apapun kita menyikapi, semuanya akan baik-baik saja selama kita masih mengingat Allah, Sang Empunya Masalah, Semesta, Kehidupan bahkan Jiwa.

"Dont Trust Anyone"..
Sayangnya kebahagiaan dan cinta datangnya dari sebuah kata bernama "TRUST". Hanya ada dua kemungkinan seseorang tidak mempercayai orang lain. Terlalu bahagia dan damai melebihi apapun di dunia ini, atau tidak akan pernah bahagia sama sekali.

Semoga saja kita termasuk manusia-manusia yang diberi cobaan agar diri kita menjadi lebih kuat. Membuat diri kita pantas melanjutkan kehidupan. And that's how life works.

Sebesar apapun masalah yang sekarang kita hadapi, berhentilah menganggap bahwa diri kita adalah satu-satunya pemilik masalah, satu-satunya yang paling tersakiti, satu-satunya yang mencoba survive..

Ada anon bijak yang pernah bilang, stop sayin "God, I have a big problem" and lets start sayin "Problem, I have a big GOD".

WE DESERVE TO BE HAPPY.
WE DESERVE TO LOVE.


Sincerly,
From blessed to love.

Friday, February 28, 2014

Another part of me, wanna say Hello?

Manusia cenderung bertanya ketika diberi cobaan dan musibah, "Tuhan, kenapa Engkau berikan cobaan ini kepadaku?". Tapi kenapa kita tidak pernah bertanya ketika kita dilimpahi kebahagiaan, berkah, anugrah, nikmat dan rahmatNya, "Tuhan, kenapa Engkau limpahkan kebahagiaan ini kepadaku?". Saya rasa ini patut kita renungkan. Ini bukan hal yang baru, saya pun pernah melaluinya dan tidak menutup kemungkinan akan saya lalui kembali.

Ada yang tidak butuh dan tidak perlu lagi kata bijak? Saya tidak akan memberi kata bijak disini. Ada yang berpendapat kalo teori tentang 'usaha sama dengan hasil' itu cuma omong kosong? Silahkan berpikir seperti itu. Saya tidak pernah meminta siapapun untuk percaya karena saya pun perlu usaha keras untuk mempercayai orang lain. Ada yang tidak percaya dengan keberuntungan? Bagus lah. Karena sebagian orang justru memaksakan diri mereka untuk percaya dan sebagiannya lagi percaya hanya sebagai pembenaran.

Mungkin tinggal ucapan maaf dan terima kasih yang akan saya katakan. Maaf karena saya bukan superhero dan hanya manusia biasa. Maafkan jika tertanam dendam di hati siapapun itu. Terima kasih. Terima kasih kepada yang telah mengajarkan saya arti dari banyak hal, yang mengajarkan saya untuk tetap teguh dan meluruskan niat, yang membukakan saya kesempatan sehingga saya bisa kembali menulis dan menuangkan isi pikiran saya kesini. Dan yang saya percaya, semua ini terjadi atas izin Allah.

Sunday, February 23, 2014

Seperti Sabar Yang Tidak Akan Pernah Ada Batasnya

Kamu pernah dengar kalo air mata itu sumber kekuatan? Mungkin itulah air mata yang keluar ketika hati sudah terlalu letih bersabar dan mulut yang tak tau lagi harus berkata apa. Menyisakan doa yang setiap saat ada dalam sujud.

Kamu kira marah, kata-kata kasar maupun sindiran itu bukti kesabaran yang melampaui batas? Katanya sabar itu ada batasnya? Lah kalo berbatas lantas marah ya bukan sabar lagi namanya. Entahlah. Yang aku tahu, ketika air mata itu sudah jatuh dalam kesendiriannya, hati hanya bisa meminta satu hal...istirahat.

Hati ini bukannya letih sehabis bermain kesana kemari karena ia bukan pemain hati. Tapi hati ini sudah bekerja keras melindungi perasaan orang-orang yang seharusnya ia lindungi. Bekerja keras menutup mata dan telinga atas semua ketidakadilan dan kemunafikan. Dan dalam waktu bersamaan bekerja keras membuka mata dan telinga atas semua berkah yang datangnya dari Sang Pemilik Semesta.

Lalu setelah habis masa istirahatmu yang hanya sejenak dengan setetes air mata yang penuh berkah itu, maka lanjutkan kerja kerasmu dengan tekad yang lebih kuat, sampai tiba saatnya kamu kembali tertatih lagi lalu bangun lagi dan seterusnya tanpa batas. Seperti sabar yang tidak akan pernah ada batasnya..

Monday, September 3, 2012

Karena saya hanya perlu terus bertanya

Tidak banyak orang yang bisa mengenali diri mereka sendiri. Sangat membingungkan ketika kadang kau menjadi orang yang paling mengenal dirimu sendiri, dan terkadang pula menjadi orang asing bagi dirimu sendiri.

Kenyataan bahwa saya baru saja menemukan sisi negatif dari diri saya adalah salah satu penyesalan sekaligus rasa syukur yang luar biasa. Sudah seharusnya manusia itu belajar dari kesalahan dan kesulitan. Tapi ketika kesalahan itu terjadi berulang-ulang tanpa sempat saya cegah, membuat semuanya menjadi sangat melelahkan. Seolah-olah kita tidak bisa benar-benar belajar.

Saya kemudian bertanya-tanya, ada apa dengan saya? Mengapa mengontrol diri sendiri menjadi begitu sulit? Tapi tidak peduli seberapa banyak pertanyaan yang saya buat, semuanya hanya berakhir pada jawaban dimana saya tidak tahu apa-apa. Selain bertanya.

Tuesday, August 21, 2012

Ied

Shalat Ied




Otw Bone
Nyekar alm.kakek










Lil monsters