Tanggal 8 Maret diperingati sebagai International Woman's Day. Tahun ini WHO sendiri mengangkat tema "End Female Genital Mutilation", tapi tulisan kali ini tidak akan membahas itu. Seperti beberapa tahun terakhir ini, tema sosial yang paling panas dibicarakan tidak jauh seputar feminisme. Bukan hanya kaum perempuan sendiri, tapi para lelaki pun banyak meluapkan keresahannya tentang bagaimana seharusnya perempuan diberi kebebasan dalam memilih jalan hidupnya sendiri. Persoalan hidup dimana, berteman dengan siapa, belajar apa, menikah kapan hingga memutuskan hidup sendiri tetap merupakan pilihan hidup yang juga bebas dimiliki perempuan. Kampanye sudah dilakukan dimana-mana. Via media elektronik, media massa, film, radio bahkan membuat aksi berani dengan turun langsung ke lapangan. Tapi ada satu hal yang menarik dari isu ini. Adalah perspektif perempuan terhadap dirinya sendiri.
Berangkat dari batasan Feminisme menurut KBBI adalah gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria. Belakangan ini saya menghabiskan kuota internet dengan menonton salah satu youtube channel milik WNI asal manado-halmahera yang menikah dengan WNA. Di salah satu videonya, dia banyak bercuap tentang pilihannya untuk tetap bekerja di samping mengurus sesuatu yang menjadi tanggung jawab utamanya-keluarga. Sampai pada kesimpulan bahwa rumah tangga adalah sebuah tim, dan tim membutuhkan kerjasama untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan butuhkan. Mungkin seperti itulah gambaran feminisme. Cerita macam ini sudah sering terdengar atau bahkan berada sangat dekat dengan kehidupan kita. Tapi di comment section ada ada saja segelintir orang yang menganggap bahwa pilihan istri untuk bekerja sementara suami sudah berpenghasilan lebih dari cukup adalah kebodohan, bahwa kodrat seorang perempuan adalah menjadi full-time wife/mom. Lucunya, yang beranggapan seperti itu sebagian besar justru berasal dari kaum perempuan. Lalu kemana feminisme?
Kemudian ada Beauty and The Beast yang rilis bulan ini. Film yang mengangkat isu feminisme justru tidak detail menceritakan perjuangan seorang perempuan dalam menuntut kesetaraan. Twistnya ketika Belle diminta menikah dengan Gaston tapi ia menolak dan lebih memilih si buruk rupa, dianggap sebagai salah satu bentuk feminisme. Tapi penikmat disney versi animasi pasti sudah tahu ini, dan sangat tepat sasaran ketika isu tersebut belum mewabah. Sementara di era sekarang, feminisme tidak hanya berotasi pada penolakan perjodohan ala siti nurbaya atau keberanian perempuan menikah dengan laki-laki pilihan hatinya. Belle seperti menjadi simbol bahwa perempuan lebih banyak mengikuti kata hati dibanding logika. Lalu kemana feminisme? Pada akhirnya, saya tidak menemukan faedah dari film ini. Tidak ada pesan yang benar-benar bisa saya ambil selain "biar jelek asal tajir". Pun kebaikan hati ala prince charming tokoh disney tidak sepenuhnya digambarkan melalui si buruk rupa. Sampai sampai di salah satu scene terbaik (versi saya) Belle harus teriak, "Well you should learn to control your temper!!".
Saya adalah korban genderisasi. Korban dari sekelompok orang yang mempunyai prinsip bahwa pemimpin haruslah datang dari kaum laki-laki. Meski dalam skala yang lebih kecil, cukup membuat saya mengerti rasanya diblackmail dengan alasan "kamu adalah perempuan". But I am not going to play the victim. Hal itu tidak menjadikan saya sebagai pendukung feminisme sepenuhnya. Yang membuat saya geram adalah pelaku blackmail yang (lagi-lagi) datangnya juga dari kaum perempuan sendiri. Belum lagi dengan maraknya pemerkosaan, isu yang mencuat bukan cara berpikir pria, melainkan perilaku berpakaian wanita. Puncaknya ketika Aceh memaksa perempuan memakai pakaian tertutup dan Paris yang memaksa perempuan melepas burkininya. Ayolah, please stop telling woman how to wear! Berhenti mengatur cara bersikap seorang wanita, berhenti membuat lolucon "karena wanita ingin dimengerti" atau "karena perempuan selalu benar" dan berhenti memperlakukan perempuan sebagai objek. Ujung dari semua ini, marilah kita memperlakukan orang lain-perempuan atau laki-laki, selayaknya manusia ingin diperlakukan.
Pada tulisan yang tidak jelas alurnya ini, akhirnya saya sadar bahwa pejuang feminisme harus bekerja ekstra. Di samping mengubah perspektif tentang perempuan di mata laki-laki, juga berjuang memperluas wawasan sesama kaum perempuan. Perempuan seharusnya lebih percaya akan dirinya sendiri dan ketika waktunya tiba tidak lagi menggantungkan hidupnya pada manusia lain, melainkan hanya pada Allah SWT.
Kabarnya tahun ini juga akan rilis film Kartini dan Wonder Woman, semoga ada angin segar yang bisa menjernihkan perspektif kita tentang perempuan dan laki-laki yang sebenarnya.
Sincerely,
Nn.
Source: insight, kbbi, youtube, magdalene, who, google