Saturday, December 15, 2018

Versi Terbaik 2018

Dulu,
Dulu sekali, tidak pernah terbayang sedikit pun akan berdiri seperti hari ini.
Sampai tiba waktunya dihantam batu besar dengan begitu kerasnya.
Menyadarkan bahwa Tuhan punya rencana lain.

Dulu pun,
Ketika memasuki gerbang kehidupan yang baru, semesta seolah membuka mata, hati dan telinga.
Bahwa bertahan dengan niat yang tidak baik hanya akan membawa diri sendiri ke dalam liang kehancuran.
Bahwa sendiri tidak akan pernah bisa.
Bahwa uluran tangan lain lah yang mampu membangkitkan di masa-masa tersulit sekali pun.

Untuk itu, kita hari ini dan kita yang akan datang bukan lah siapa-siapa tanpa mereka.
Guru-guru kehidupan yang bertebaran di sekitar kita.
Yang senantiasa mengasihi dalam diam.

Terima kasih
Terima kasih
Terima kasih
Meski benar bahwa ucapan terima kasih tidak akan pernah cukup untuk membalas semua kasih itu.

Thursday, February 8, 2018

Saya Memanggilnya Mama

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama memeluk saya sambil membisikkan doa-doa di sela rambut saya

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama memegang kepala saya sambil berkata, "Panas badanmu, nak"

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama memasakkan saya makanan, walau sekedar mi instan dan telur daun bawang kecap

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama meminta saya menginap bersamanya

Saya sudah lupa kapan terakhir kali saya pamit pulang saat rutin berkunjung ke rumahnya

Saya sudah lupa.

Saya melupakan banyak hal, dan seiring berjalannya waktu mama pun melupakan banyak hal. Demensia mulai menggerogoti mama. Penyakit tua menyebalkan!

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama menyibukkan diri di dapur, meski sadar tenaganya tak sekuat dulu

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama minta ditemani wudhu untuk solat, meski ia sudah solat

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama menyuruh saya makan berulang kali, meski seisi rumah sudah makan dan tidak tersisa apapun di meja makan

Saya sudah lupa kapan terakhir kali pulang tanpa pamit, supaya mama tak lagi menahan saya untuk tetap tinggal

Sampai pada akhirnya, ia tak lagi sibuk di dapur, tak lagi minta ditemani wudhu, tak lagi menyuruh makan, tak lagi menahan pulang, tak lagi mengingat saya, tak lagi mengingat cucu-cucunya...

Tak ada lagi senyum polos yang biasa ia berikan ketika cucu-cucunya bertanya, "kita kenalja, mak?"

Tak ada lagi yang berulang kali menanyakan, "dari manako?", "sama siapako?", atau paling sering "mauko kemana?" saat melihat orang datang dan pergi silih berganti

Saya mungkin sudah lupa kapan tepatnya semua kenangan itu terjadi. Tapi raut wajah, gerak dan suaranya masih terekam jelas dalam memori. Membungkus hangat tubuh ketika ingatan itu hadir di waktu-waktu tak terduga

Ah, mama. Belum sehari neni sudah rindu. Kemarin sore mama meninggal dunia. Nenek dari ibu saya menutup di usia 86 tahun. Iya, saya memanggilnya mama.

Maafkan cucumu yang satu ini memilih menghindari jangkauanmu daripada menelan mentah-mentah saat anak mantumu memanggil "bu dokter", meski sadar ada doa-doa yang terselip disana

Maafkan cucumu yang satu ini tak ada di sampingmu di sisa-sisa harimu, meski jadwal koas sedang tak sesibuk biasanya

Maafkan cucumu yang satu ini masih mengurus sekolah sana sini, sampai-sampai tak bisa mengantarmu ke tempat peristirahatan terakhirmu hari ini

Ah, mama. Sungguh neni rindu. Efek setengah kaplet asam mefenamat yang semalam sy telan pasti sudah hilang. Karena nyeri di kepala karena cucuran air mata sepertinya mulai terasa kembali.

Sekali lagi, maafkan cucumu yang satu ini. Semoga kau tenang disana, ma.

Mama, neni rindu.

Wednesday, January 10, 2018

Lets Talk!

HAPPY NEW YEAR 2018!

Tidak seperti tulisan selayaknya postingan tahun baru yang membahas momen satu tahun ke belakang, tulisan kali ini akan merunut lebih jauh ke belakang.

Berawal dari pemilihan umum wakil rakyat yang pertama kali dilakukan dengan aturan penetapan melalui suara terbanyak. Saat itu tahun 2009. Berbagai latar belakang hadir sebagai calon yang merasa layak dipilih oleh rakyat, menghabiskan begitu banyak rupiah saat perekonomian negara belum sepenuhnya stabil, mungkin dengan harapan bisa menaikkan sedikit derajatnya di mata masyarakat. Ironisnya, akhir pesta rakyat ini diiringi oleh banyaknya calon yang tidak bisa menerima kekalahan sebagai suatu kenyataan.

Kemudian saya teringat di tahun kedua saya di jenjang pre medical. Pada salah satu sesi perkuliahan dalam blok neuropsikiatri, dosen saya berkata bahwa kelak di tahun 2020, mental disorder bisa menjadi salah satu penyebab kematian terbanyak di Indonesia, bahkan seluruh dunia. Awalnya sedikit membingungkan, tapi perlahan saya mulai mengerti. Pada akhirnya, beliau menjadi orang pertama yang membuka mata saya lebar-lebar tentang pentingnya kesehatan jiwa.

Ada suatu masa ketika sedang belajar tentang psikiatri, saat itu tahun pertama saya dipanggil dokter muda, saya merasa bahwa semua orang punya masalah kejiwaan. Pemikiran liar saya bahkan menerawang, bagaimana seandainya kita yang merasa waras ini justru gila yang sebenarnya dan mereka yang kita anggap sakit adalah yang sebenar-benarnya waras. Benar, kita semua punya masalah. Tapi tidak serta merta membuat kita dengan mudah mendiagnosis diri sendiri. Hanya karena tidak bisa tidur selama beberapa hari, bukan berarti insomnia. Hanya karena gemas melihat barang berantakan, bukan berarti OCD. Hanya karena mood yang gampang berubah, bukan berarti bipolar. Saya bertemu dengan orang-orang kuat yang berjuang melawan sisi lain dari diri mereka sendiri. Berjuang untuk hidup mereka masing-masing, bahkan hidup orang di sekitarnya. Bagi mereka, insomnia maupun OCD dan bipolar tidak sesederhana itu. Gangguan jiwa yang butuh terapi tidak sesederhana itu.

Kehadiran netflix series 13 Reasons Why dan berita kematian seorang idol Korea Selatan di penghujung tahun kemarin sedikit banyak mempengaruhi stigma generasi muda tentang mental disorder. Menghadirkan pertanyaan baru ketika terlalu banyak alasan seseorang untuk mengakhiri hidupnya, sementara tidak ada satu pun alasan untuk bertahan. Bahkan eksistensi orang terdekat pun tidak bisa menjadi sebuah jaminan. Jeritan hati dan teriakan minta tolong yang mereka keluarkan justru tersampaikan saat yang tersisa hanya ingatan tentang mereka.

Funny when you are dead how people start listening.

Rentetan memori dan peristiwa inilah yang menjadi alasan kenapa tulisan ini hadir. Mungkin memang sekarang saatnya semua orang sadar bahwa Gangguan Jiwa itu ADA dan NYATA. Mereka yang mempunyai gangguan jiwa bukan berarti aneh. Mencari pertolongan ke psikiater bukan berarti gila. They just need help. Sama seperti orang sakit pada umumnya. Sama seperti kita, ketika merasa pusing berputar lalu mencari pertolongan ke neurolog. Sama seperti kita, ketika merasa demam berhari-hari lalu mencari pertolongan ke internis. Sama seperti kita, ketika merasa sedih lalu mencari keluarga, teman, sahabat, pacar atau bahkan media sosial hanya untuk sekedar berbagi kegelisahan. They just need help. Just like us.

High hopes. When you let it go, go out and start again.

Seiring berjalannya waktu, semoga mata hati dan pikiran kita lebih terbuka dengan keadaan di sekitar. Meluangkan waktu untuk sekedar berbicara. Mencari uluran tangan untuk saling menggenggam. Berpegang teguh pada satu hal yang bisa membuat kita bertahan dari sekian banyak keburukan yang mungkin terjadi. Berpegang teguh pada satu hal bernama harapan. Dan yang paling utama, melibatkan Tuhan di setiap langkah yang kita ambil.

Well. If people who struggling with depression only need ONE reason to keep alive, be that one!
And let's talk!

Sincerely,

Nn

Saturday, October 21, 2017

Begitu Salah Begitu Benar

Tuhan punya lebih dari bermilyar-milyar rahasia. Tidak terhingga. Dan di antara sekian banyak hari yang ada, hari ini dipilihNya sebagai salah satu hari perenungan. Dalam perjalanan menuju hotel tempat pernikahan seorang teman berlangsung, bersama supir taksi online yang berkali-kali terabaikan saat ia mulai membuka topik.

Silang menyilang obrolan yang semakin pendek mengisyaratkan kelelahan, pun kejenuhan. Namun jarak menuntut tak ingin disalahkan. Lalu apa yang salah dari pesan singkat yang semakin jarang? Apa yang salah dari groupchat yang isinya hanya rentetan stiker oleh orang yang berbeda-beda? Apa yang salah dari hubungan yang hanya ditopang oleh kuota internet dan kekuatan jaringan? Ya, semua terasa salah. Sepertinya kita jauh dari kata tuntas ketika berbicara tentang komunikasi.

Tidak ada lagi objek tawa.

Tidak ada lagi marah.

Tidak ada lagi gelisah.

Sunyi sekali.

Ternyata, 3 bulan adalah waktu yang singkat namun cukup untuk benar-benar melihat sebuah perubahan.

Mungkin benar saya yang salah karena terlalu gengsi memulai obrolan, terlalu sibuk mengamati dunia orang lain, terlalu submisiv ketika bertemu dominan, terlalu datar, tidak humoris, tidak kreatif, seolah tidak punya gairah hidup sehingga tidak layak masuk hitungan dan tidak layak dijadikan prioritas. Atau mungkin perasaan saya saja yang lagi lagi salah, hanya mendramatisir keadaan. Jika memang bagitu adanya, sungguh sulit menjadi diri sendiri. Kali ini, semua terasa benar.

Saya jadi teringat tulisan Sapardi Djoko dalam bukunya Hujan Bulan Juni, ketika intensitas dan kualitas obrolan Sarwono bersama Pingkan menjadi berkurang. Sekuat tenaga disingkirkan pemikiran bodohnya, dan memilih untuk terus saling percaya. Sesederhana itu.

Saturday, May 13, 2017

Tanya Hati

Banyak yang bilang politik itu kotor, manipulatif, penuh dosa. Dengan alasan itu pula sebelum masuk kuliah dulu, saya sudah menjauhkan Ilmu Politik dari list fakultas/jurusan yang akan saya pilih. Tanpa sadar dan dengan bodohnya, memilih kedokteran yang justru menempatkan salah satu kaki di neraka. Setidaknya sekarang saya tidak lagi anti politik. Saya senang ketika diajak diskusi tentang pandangan politik, baik yang terjadi di Indonesia maupun dunia. Saya percaya politik sama pentingnya dengan ilmu lain yang diajarkan di perkuliahan dulu (dan kini). Atau, mungkin sesederhana saya yang tidak bisa membayangkan tatanan negara tanpa politik. Apapun itu, dengan keterbatasan ilmu dan preferensi terhadap politik, ketika menyangkut pertukaran opini saya akan tetap menimbrung. Walau lebih sering terpancing daripada membuka topik. Lebih sering sok tahu daripada benar-benar tahu.

Salah satu hal yang tidak saya senangi, ketika saya berbuat salah, akan ada orang-orang yang justru lebih senang mengungkit kesalahan-kesalahan saya yang lain, bahkan kesalahan yang sudah lama berlalu. Saya tahu mereka tidak sepenuhnya berniat membuat saya merasa tidak dimaafkan, melainkan sekedar membuat saya semakin menyesali perbuatan saya, memaksa saya untuk tidak lagi berbuat salah atau setidaknya tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sebagaimana kesalahan untuk dijadikan sebuah pelajaran. Seperti halnya dengan pilkada ini. Berbicara tentang pesta demokrasi ibukota beberapa waktu lalu, yakin dan percaya saya bukan satu-satunya yang berujung kesal, bukan satu-satunya yang senang beropini tapi justru jatuh sampai ke titik terjenuh. Bagaimana tidak, masalah yang berawal jauh sebelum pilkada ini sudah berlarut-larut hingga beberapa waktu ke depan, bahkan mengungkit tragedi Mei 1998, mengungkit luka lama dan ketakutan yang tersimpan jauh dalam lubuk hati segelintir orang tertentu yang merasakan sendiri tragedi tersebut. Lagi-lagi kembali ke masa lalu, mengingatkan kita untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.

Baiklah, sejarah memang penting menjadi self reminder bagi kita terhadap penyesalan maupun rasa syukur terhadap masa lalu. Sejarah membuat kita belajar tentang kehidupan, baik dari diri kita maupun orang lain. Ibarat sudah terlanjur basah, mari kita sedikit merunut ke masa lalu. Kisah ini dimulai oleh oknum-oknum yang menggunakan Agama sebagai senjata politik. Kemudian oknum oposisi terpancing membela/melawan, yang dianggap oleh banyak orang sebagai perlawanan terhadap sebuah Agama. Ada dua kata kunci yang bisa saya ambil; Agama dan Politik. Karena keduanya bukan keahlian saya, maka saya tidak punya hak menyampaikan apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan. Tapi terlepas dari keterbatasan ilmu, saya meyakini pekerjaan paling mulia adalah dakwah, menyiarkan Islam. Saya percaya ada banyak cara dalam menyiarkan Islam tanpa harus memaki secara terang-terangan orang lain, apalagi orang asing, sebagai kaum kafir. Pun saya percaya ada banyak momen yang bisa digunakan untuk menyebarkan Islam tanpa perlu dikait-kaitkan dengan politik tak sehat. Tapi penyimpangan-penyimpangan terhadap penyebaran suatu ajaran tetap tidak bisa dijadikan alasan untuk menyinggung sebuah Agama yang sama sekali tidak kita yakini/ketahui, dengan atau tanpa niat menjatuhkan. Ini berlaku untuk semua keyakinan yang diakui, beda lagi ceritanya yang tidak diakui secara hukum. Sekali ini, maafkan jika saya salah.

Saya adalah muslim dan akan memilih yang juga muslim sebagai pemimpin saya. Jika diberi kemerdekaan, tentunya. Setidaknya itu yang agama saya perintahkan. Saya cukup beruntung lahir dan dibesarkan di sekeliling orang-orang yang sebagian besar mempunyai keyakinan yang sama. Meskipun dengan taraf keyakinan yang berbeda-beda. Tapi keberuntungan itu tidak lantas memaksa saya memeluk Islam. Ada proses yang perlu dilalui sampai saya yakin bahwa Islam adalah ajaran yang paling benar. Intermezo.

Hasil akhir dari kisah ini adalah beberapa “kubu” yang saling menebar benih-benih kebencian. Benih-benih yang tidak sehat untuk hati dan pikiran. Saya sudah selesai dengan kebhinekaan, sudah selesai dengan unity in diversity dan slogan pemersatu bangsa lainnya ketika kita tetap saling menyerang tiada henti. Yang satu memaki kafir, yang lain memaki intoleran. Yang satu diam memilih netral dan dianggap apati terhadap negara, yang lain lagi merasa sebagai minoritas seolah olah menjadi satu-satunya korban. Yang sana menghargai hukum, yang sini baru merasa hukum tidak adil. Tanpa sadar sudah banyak orang yang merasakan hilangnya keadilan negeri ini jauh sebelum kisah ini dimulai. Pada akhirnya, sarkasme yang dilontarkan bukan lagi untuk menyampaikan opini tapi terkesan mengikuti tren yang ada, seolah-olah kita adalah yang paling benar. Lalu yang mana sesungguhnya yang paling benar?

Akhir kata, saya jadi teringat obrolan dengan teman saya ketika kami sama-sama mencari kebenaran tentang satu hal dan sama-sama menemui jalan buntu, pada akhirnya ia hanya berkata “cuma hati kita yang bisa menjawab”.

Tuesday, March 28, 2017

Tentang Maret dan Feminisme

Tanggal 8 Maret diperingati sebagai International Woman's Day. Tahun ini WHO sendiri mengangkat tema "End Female Genital Mutilation", tapi tulisan kali ini tidak akan membahas itu. Seperti beberapa tahun terakhir ini, tema sosial yang paling panas dibicarakan tidak jauh seputar feminisme. Bukan hanya kaum perempuan sendiri, tapi para lelaki pun banyak meluapkan keresahannya tentang bagaimana seharusnya perempuan diberi kebebasan dalam memilih jalan hidupnya sendiri. Persoalan hidup dimana, berteman dengan siapa, belajar apa, menikah kapan hingga memutuskan hidup sendiri tetap merupakan pilihan hidup yang juga bebas dimiliki perempuan. Kampanye sudah dilakukan dimana-mana. Via media elektronik, media massa, film, radio bahkan membuat aksi berani dengan turun langsung ke lapangan. Tapi ada satu hal yang menarik dari isu ini. Adalah perspektif perempuan terhadap dirinya sendiri.

Berangkat dari batasan Feminisme menurut KBBI adalah gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria. Belakangan ini saya menghabiskan kuota internet dengan menonton salah satu youtube channel milik WNI asal manado-halmahera yang menikah dengan WNA. Di salah satu videonya, dia banyak bercuap tentang pilihannya untuk tetap bekerja di samping mengurus sesuatu yang menjadi tanggung jawab utamanya-keluarga. Sampai pada kesimpulan bahwa rumah tangga adalah sebuah tim, dan tim membutuhkan kerjasama untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan butuhkan. Mungkin seperti itulah gambaran feminisme. Cerita macam ini sudah sering terdengar atau bahkan berada sangat dekat dengan kehidupan kita. Tapi di comment section ada ada saja segelintir orang yang menganggap bahwa pilihan istri untuk bekerja sementara suami sudah berpenghasilan lebih dari cukup adalah kebodohan, bahwa kodrat seorang perempuan adalah menjadi full-time wife/mom. Lucunya, yang beranggapan seperti itu sebagian besar justru berasal dari kaum perempuan. Lalu kemana feminisme?

Kemudian ada Beauty and The Beast yang rilis bulan ini. Film yang mengangkat isu feminisme justru tidak detail menceritakan perjuangan seorang perempuan dalam menuntut kesetaraan. Twistnya ketika Belle diminta menikah dengan Gaston tapi ia menolak dan lebih memilih si buruk rupa, dianggap sebagai salah satu bentuk feminisme. Tapi penikmat disney versi animasi pasti sudah tahu ini, dan sangat tepat sasaran ketika isu tersebut belum mewabah. Sementara di era sekarang, feminisme tidak hanya berotasi pada penolakan perjodohan ala siti nurbaya atau keberanian perempuan menikah dengan laki-laki pilihan hatinya. Belle seperti menjadi simbol bahwa perempuan lebih banyak mengikuti kata hati dibanding logika. Lalu kemana feminisme? Pada akhirnya, saya tidak menemukan faedah dari film ini. Tidak ada pesan yang benar-benar bisa saya ambil selain "biar jelek asal tajir". Pun kebaikan hati ala prince charming tokoh disney tidak sepenuhnya digambarkan melalui si buruk rupa. Sampai sampai di salah satu scene terbaik (versi saya) Belle harus teriak, "Well you should learn to control your temper!!".

Saya adalah korban genderisasi. Korban dari sekelompok orang yang mempunyai prinsip bahwa pemimpin haruslah datang dari kaum laki-laki. Meski dalam skala yang lebih kecil, cukup membuat saya mengerti rasanya diblackmail dengan alasan "kamu adalah perempuan". But I am not going to play the victim. Hal itu tidak menjadikan saya sebagai pendukung feminisme sepenuhnya. Yang membuat saya geram adalah pelaku blackmail yang (lagi-lagi) datangnya juga dari kaum perempuan sendiri. Belum lagi dengan maraknya pemerkosaan, isu yang mencuat bukan cara berpikir pria, melainkan perilaku berpakaian wanita. Puncaknya ketika Aceh memaksa perempuan memakai pakaian tertutup dan Paris yang memaksa perempuan melepas burkininya. Ayolah, please stop telling woman how to wear! Berhenti mengatur cara bersikap seorang wanita, berhenti membuat lolucon "karena wanita ingin dimengerti" atau "karena perempuan selalu benar" dan berhenti memperlakukan perempuan sebagai objek. Ujung dari semua ini, marilah kita memperlakukan orang lain-perempuan atau laki-laki, selayaknya manusia ingin diperlakukan.

Pada tulisan yang tidak jelas alurnya ini, akhirnya saya sadar bahwa pejuang feminisme harus bekerja ekstra. Di samping mengubah perspektif tentang perempuan di mata laki-laki, juga berjuang memperluas wawasan sesama kaum perempuan. Perempuan seharusnya lebih percaya akan dirinya sendiri dan ketika waktunya tiba tidak lagi menggantungkan hidupnya pada manusia lain, melainkan hanya pada Allah SWT.

Kabarnya tahun ini juga akan rilis film Kartini dan Wonder Woman, semoga ada angin segar yang bisa menjernihkan perspektif kita tentang perempuan dan laki-laki yang sebenarnya.

Sincerely,
Nn.

Source: insight, kbbi, youtube, magdalene, who, google

Tuesday, February 28, 2017

Reply 2000s

Di suatu sore yang mendung, kala matahari dan hujan sedang malu-malunya, tiba-tiba mami menelpon. Saat itu saya baru saja lepas dinas di satu Rumah Sakit dan sedang berkeliaran di Rumah Sakit lain. Mami menyampaikan bahwa salah seorang sahabatnya sedang sakit, kebetulan dirawat di Rumah Sakit tempat saya berada sore itu. Pada akhirnya, kami putuskan untuk menjenguk bersama setelah jam pulang kantor.

Setibanya di kamar perawatan, disambut ibu-ibu kompleks rumah tempat saya tinggal dan sedikit berbasa-basi, mereka lalu kembali sibuk berbagi cerita. Rupanya, mereka sedang bernostalgia tentang bagaimana kehidupan di kompleks jaman dulu. Wajar saja, sejak mami memutuskan kerja kantoran dan beberapa penghuni kompleks pindah rumah, mereka jadi jarang bertemu apalagi berkumpul, seperti sore itu. Entah baru saja atau sudah sejak awal, tapi ibu-ibu banyak membahas tentang anak-anak mereka. Termasuk kami, anak-anak kompleks yang kebetulan ada di kamar. Kami duduk mendengarkan cerita sambil sesekali ikut tertawa dan mengenang sendiri masa-masa kecil kami. Selama ibu-ibu bercerita, terlihat jelas ada kebahagiaan yang memancar dari mata mereka, bahkan yang sedang sakit pun tidak pernah kehilangan senyum.

Tidak lama setelah itu, keluarga kami mendapat undangan reuni warga Gunung Sari, nama kawasan rumah nenek, yang pada akhirnya dihadiri oleh mami dan bapak. Rumah itu pernah ditinggali mami bersama 7 saudaranya saat pertama kali pindah ke kota. Bapak pun pernah tinggal disana di awal pernikahan mereka. Sedikit banyak, kami mengenal para tetangga yang pernah bermukim di kawasan tersebut. Sepulang dari reuni tersebut, mami dan bapak banyak bercerita tentang bagaimana pertemuan dengan orang-orang di masa lalu. Mereka bernostalgia tentang sulitnya kehidupan mereka di jaman dulu. Semisal memetik buah sayur di kebun yang tidak diketahui pemiliknya, saling menjaga rumah ketika ada tetangga seisi rumah yang sedang mudik hingga berbagi makanan pada momen-momen tertentu. Selama mereka bercerita, lagi-lagi terasa aura kebahagaiaan dari suara mereka yang menggebu-gebu. Maka di akhir malam sesi curhat itu, saya putuskan akan menulis tentang ini.

Intermezo. Persahabatan ibu-ibu kompleks dan kerukunan warga Gunung Sari sungguh mengingatkan tentang salah satu drama, Reply series. Satu kata untuk Reply, Hangat. Drama yang mengangkat tema romansa dan keluarga ini berhasil membuat saya jatuh hati pada setiap seri dan episodenya. Membuat kenangan-kenangan yang sudah lama tenggelam kembali menguap ke atas permukaan.

"Anak kompleks yang aslinya besar di kompleks pasti besarnya lebih kusam dibanding anak yang numpang lewat tinggal sebentar di kompleks", kata salah seorang ibu. Teringat, dulunya saya sering ikut kakak atau adik, yang keduanya lelaki, ketika mereka berkelana ke rumah-rumah tetangga untuk sekedar mencari teman bermain atau mencari makanan. Menumpang main kelereng, layangan, yoyo, playstation, tamiya atau mobil-mobilan remote control sebelum bapak akhirnya membelikan mainan yang sama untuk kami. Atau ketika teman lain sedang bermain Boneka Barby yang katanya asli dan hanya dijual di toko resmi. Walau kadang tidak diajak, saya tetap ikutan dan dengan percaya diri membawa boneka saya yang murah meriah dan dibeli di sekolah. Mami bukan tipikal ibu yang baik-baik saja ketika rumah berantakan, dan bapak bukan tipikal ayah yang akan memanjakan anak-anaknya dengan berbagai mainan. Mungkin itulah kenapa kami bersaudara lebih suka bermain di rumah para tetangga, bahkan di tengah hujan maupun teriknya matahari. Pada akhirnya, kami benar-benar tumbuh menjadi anak yang tidak takut cuaca dan tidak takut kusam tentunya. Walau di usia sekarang baru kami sadari bahwa perawatan tubuh juga tidak kalah penting.

Dengan keterbatasan mainan, ini bukan berarti mami dan bapak pelit. Mereka tetap membelikan kami mainan sekadarnya dengan jenis dan jumlah yang masih dalam batas wajar. Suatu hal yang saat ini justru sangat saya syukuri, karena saat ini saya sadari bahwa metode pendidikan yang mereka pakai sejak dulu semata-mata untuk menjadikan kami, anak-anaknya, manusia yang bisa sedikit menghargai hasil kerja orang lain.

Sejak dulu, akhir pekan adalah waktu yang paling dinanti-nantikan. Bukan hanya karena libur sekolah tapi kami sekeluarga juga akan berkumpul di Gunung Sari. Apalagi salah satu rumah tetangga mempunyai segudang permainan. Anak pemilik rumah memang senang mengumpulkan mainan terutama mainan berseri seperti bonus mainan di salah satu restoran makan yang populer kala itu. Pemilik rumah juga bermurah hati sering menyiapkan cemilan saat waktu bermain tiba. Tidak lupa pula rutinitas menginap, entah di rumah nenek atau di rumah tetangga. Senang sekali rasanya ketika kami semua berkumpul di minggu pagi, sambil menunggu mbok-mbok jamu datang lalu kami merengek minta dibelikan. Kemudiaan saat sore hari kami ke lapangan basket di SMK sekitar atau lapangan tennis luas samping rumah nenek. Entah untuk sekedar menggelinding bola, mengibaskan raket, main petak umpet, taplak gunung, kelereng, layangan, gasing, gobak sodor, gebok, lompat tali, ular naga, ular tangga, ludo, halma, monopoli, bekelan, benteng dan lain sebagainya. Kemudian pulang menjelang magrib dalam keadaan kotor, berkeringat, berlumpur, bau atau paling parah dalam kedaan penuh air got. Sungguh masa-masa indah, bebas dan membahagiakan.

Kini waktu telah memaksa kami untuk melangkah maju dan membiarkan masing-masing tumbuh tanpa saling memberi kabar. Itulah kenangan, memori-memori masa kecil yang tidak akan pernah bisa diulang kembali. Meski yang tersisa dari kenangan itu adalah serpihan ingatan, tapi mereka selalu punya tempat tersendiri dan tersimpan di satu sudut ruang kecil bernama hati. Memori yang akan memberikan kehangatan dan kerinduan setiap kali ia hadir. Entah untuk dikenang, untuk dijadikan pelajaran, dan untuk didongengkan kepada siapapun di masa depan.

Selalu ada harapan untuk bertemu orang-orang di masa lalu. Seperti memutar roll film, bersama kami tonton sambil tertawa dan saling menatap memancarkan aura kebahagiaan. Untuk generasi 90s, Reply 2000s.

Sincerely,
Neni.