Sunday, December 29, 2024

Meski Jenuh Tidak Pantas Diucapkan

Sedikit lagi waktu berganti hari, suara musik pelan yang tidak kukenal cukup menenangkan, menemaniku rehat sejenak di tengah lampu kuning kedai kopi tepi pantai, sudah tidak ada matahari yang bisa dipandang. Coretan demi coretan tentang mikroglia dan radikal bebas telah kubaca dan kuwarnai membuatku jenuh. Dalam rehatku, teringat kabar bahagia yang datang kemarin dari seorang sahabat. Katanya, bulan depan ia akan pergi ke perantauan, mungkin mengejar mimpi yang entah sejak kapan ia temukan, juga mencari mimpi lainnya yang mungkin tak ada di kota ini. I feel so happy for him, but sad at the same time. Perasaan ini sungguh akrab, mungkin seperti tahun 2020 dan 2023 lalu. In fact, sadness can be an important emotion that helps me process my feelings and move on.

Pikiranku juga kembali ke masa saat hariku banyak dihabiskan di kereta rel listrik, waktu yang kuhabiskan paling banyak melihat manusia, waktu paling banyak kuhabiskan menerka-nerka isi pikiran manusia. Meski substansinya telah terlupakan, tapi rasanya seperti baru terjadi kemarin. Sungguh menyenangkan bisa melewati itu dan merasa bertumbuh di perantauan.


Memoriku sudah melompat lompat, mungkin kebanyakan gula. Atau mungkin setiap orang memang punya caranya masing-masing menikmati kejenuhan, meski jenuh itu seperti tidak pantas kuucapkan di tengah tugas yang menumpuk.


Seperti sahabatku yang minggu lalu belum tahu kejutan apa yang ia lewati kemarin, tidak ada pula yang tahu pasti apa yang terjadi besok. Maka hiduplah untuk hari ini.

Tuesday, July 16, 2019

Kalkulasi Alam

Semua berawal dari kegelisahan di suatu malam, ditemani redup lampu kedai khas eropa timur dan iringan musik musisi lokal, sekali lagi menyadarkan diri saya dari jelmaan yang bukan diri saya. Malam itu, saya menikmati waktu rehat di ibukota, keluar rumah sambil bertekad mengerjakan cicilan borang yang wajib diselesaikan selama menjalani program pemerintah yang sedang saya tekuni saat ini. Namun ternyata alam punya caranya sendiri membawa saya kembali pada masa lalu. Jika bukan karena portal yang sedang bermasalah, mungkin saya masih berenang dalam arus kenyamanan, gemerlap kota serta kekhawatiran akan putusnya rantai undangan dan momen penting orang-orang terkasih. Tanpa sadar sedikit lagi menenggelamkan.

Ketika dulu masih menggantungkan sepenuh jiwa raga pada keluarga, saya merasa tidak punya apa-apa. Sampai pada satu titik, tersadarkan bahwa ternyata kita semua terlahir bersama satuan yang membuat kita berkecukupan.

“Dari mereka saya belajar bahwa dengan berbagi, manusia mencukupkan dirinya”,

Benar saja. Adalah waktu, substansi dari setiap insan yang tidak dapat dikurang, pun ditambah, tapi bisa dibagi. Sungguh kalkulasi alam yang indah. Kutipan dari tulisan salah satu sejawat ini menampar saya untuk ribuan kalinya. Sejenak berhenti bernapas, merasa malu tidak lain kepada diri sendiri. Menyesal akan pilihan hidup lain yang tidak berani saya ambil di masa lalu, dan mungkin tidak pula berani saya ambil di masa depan.

Lalu pertanyaan yang terlintas saat ini, sudah berapa banyak waktu yang kita bagi kepada yang benar-benar membutuhkan? Sudahkah kita menjadi versi terbaik diri kita di masa kini? Apakah hari yang terlewatkan di perantauan atas nama tugas negara, sudah cukup memenuhi harapan dan janji kita atas sumpah kemanusiaan yang sudah kita lafaskan? Ah, bulir-bulir sudah sampai pelupuk mata. Semoga nurani kita bisa menjawab.

Saturday, February 9, 2019

Palpitasi

Tidak semua pengunjung kedai kopi adalah penikmat kopi, apalagi pemuja senja. Memberikan pilihan lain seolah kehilangan identitasnya, atau mungkin sekedar memanjakan. Seperti aku yang bukan penikmat kopi, tapi memesan segelas kopi pada suatu senja. Rasanya benar-benar pahit, bahkan setelah ditambah gula dan krim. Hanya butuh waktu sesaat sampai kafein mulai menggerogoti, membiarkan jantungku seperti hendak meledak.

Mungkin benar-benar pengaruh kopi sore itu. Atau mungkin juga bukan? Sepertinya pikiran dan perasaan yang berkecamuk turut andil di dalamnya. Menyusup melalui kulit, otot, tulang-tulang, sampai ke sel-sel inti tubuh, meningkatkan kontraksi dan irama jantung.

Ibarat komputer yang sedang kacau, situsku dipenuhi serangga-serangga kecil perusak sistem. Rasanya muak melihat terlalu banyak kebaikan yang bersisian dengan keegoisan pun kebodohan. Dadaku sesak membayangkan sakitnya sepasang manusia yang kelak hidup bersama tanpa saling cinta. Perasaanku hancur melihat penyesalan seorang ibu yang merasa telah menghancurkan hidup anaknya sendiri. Bagian terburuknya, hanya bisa diam tidak bisa berbuat apa-apa.

Entah apa yang baru saja terjadi. Langkah kaki yang menggiringku duduk menikmati kopi pahit, ternyata ikut membawaku melanglang buana memikirkan hal yang bukan menjadi urusanku, yang bahkan belum tentu benar adanya. Mempertanyakan segala aspek kehidupan dengan otak-otakku yang mungil.

Bersama hari yang semakin gelap, kubersihkan semua yang ada di atas meja sebelum berjalan meninggalkan kedai. Masih memikirkan hal yang sama, membawa jantung yang sama namun masih dengan irama yang berbeda dari biasanya. Berharap keresahan yang satu ini bisa kutitipkan pada awan dan langit yang akan kujumpai pada penerbangan esok hari.

Saturday, December 15, 2018

Versi Terbaik 2018

Dulu,
Dulu sekali, tidak pernah terbayang sedikit pun akan berdiri seperti hari ini.
Sampai tiba waktunya dihantam batu besar dengan begitu kerasnya.
Menyadarkan bahwa Tuhan punya rencana lain.

Dulu pun,
Ketika memasuki gerbang kehidupan yang baru, semesta seolah membuka mata, hati dan telinga.
Bahwa bertahan dengan niat yang tidak baik hanya akan membawa diri sendiri ke dalam liang kehancuran.
Bahwa sendiri tidak akan pernah bisa.
Bahwa uluran tangan lain lah yang mampu membangkitkan di masa-masa tersulit sekali pun.

Untuk itu, kita hari ini dan kita yang akan datang bukan lah siapa-siapa tanpa mereka.
Guru-guru kehidupan yang bertebaran di sekitar kita.
Yang senantiasa mengasihi dalam diam.

Terima kasih
Terima kasih
Terima kasih
Meski benar bahwa ucapan terima kasih tidak akan pernah cukup untuk membalas semua kasih itu.

Thursday, February 8, 2018

Saya Memanggilnya Mama

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama memeluk saya sambil membisikkan doa-doa di sela rambut saya

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama memegang kepala saya sambil berkata, "Panas badanmu, nak"

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama memasakkan saya makanan, walau sekedar mi instan dan telur daun bawang kecap

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama meminta saya menginap bersamanya

Saya sudah lupa kapan terakhir kali saya pamit pulang saat rutin berkunjung ke rumahnya

Saya sudah lupa.

Saya melupakan banyak hal, dan seiring berjalannya waktu mama pun melupakan banyak hal. Demensia mulai menggerogoti mama. Penyakit tua menyebalkan!

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama menyibukkan diri di dapur, meski sadar tenaganya tak sekuat dulu

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama minta ditemani wudhu untuk solat, meski ia sudah solat

Saya sudah lupa kapan terakhir kali mama menyuruh saya makan berulang kali, meski seisi rumah sudah makan dan tidak tersisa apapun di meja makan

Saya sudah lupa kapan terakhir kali pulang tanpa pamit, supaya mama tak lagi menahan saya untuk tetap tinggal

Sampai pada akhirnya, ia tak lagi sibuk di dapur, tak lagi minta ditemani wudhu, tak lagi menyuruh makan, tak lagi menahan pulang, tak lagi mengingat saya, tak lagi mengingat cucu-cucunya...

Tak ada lagi senyum polos yang biasa ia berikan ketika cucu-cucunya bertanya, "kita kenalja, mak?"

Tak ada lagi yang berulang kali menanyakan, "dari manako?", "sama siapako?", atau paling sering "mauko kemana?" saat melihat orang datang dan pergi silih berganti

Saya mungkin sudah lupa kapan tepatnya semua kenangan itu terjadi. Tapi raut wajah, gerak dan suaranya masih terekam jelas dalam memori. Membungkus hangat tubuh ketika ingatan itu hadir di waktu-waktu tak terduga

Ah, mama. Belum sehari neni sudah rindu. Kemarin sore mama meninggal dunia. Nenek dari ibu saya menutup di usia 86 tahun. Iya, saya memanggilnya mama.

Maafkan cucumu yang satu ini memilih menghindari jangkauanmu daripada menelan mentah-mentah saat anak mantumu memanggil "bu dokter", meski sadar ada doa-doa yang terselip disana

Maafkan cucumu yang satu ini tak ada di sampingmu di sisa-sisa harimu, meski jadwal koas sedang tak sesibuk biasanya

Maafkan cucumu yang satu ini masih mengurus sekolah sana sini, sampai-sampai tak bisa mengantarmu ke tempat peristirahatan terakhirmu hari ini

Ah, mama. Sungguh neni rindu. Efek setengah kaplet asam mefenamat yang semalam sy telan pasti sudah hilang. Karena nyeri di kepala karena cucuran air mata sepertinya mulai terasa kembali.

Sekali lagi, maafkan cucumu yang satu ini. Semoga kau tenang disana, ma.

Mama, neni rindu.

Wednesday, January 10, 2018

Lets Talk!

HAPPY NEW YEAR 2018!

Tidak seperti tulisan selayaknya postingan tahun baru yang membahas momen satu tahun ke belakang, tulisan kali ini akan merunut lebih jauh ke belakang.

Berawal dari pemilihan umum wakil rakyat yang pertama kali dilakukan dengan aturan penetapan melalui suara terbanyak. Saat itu tahun 2009. Berbagai latar belakang hadir sebagai calon yang merasa layak dipilih oleh rakyat, menghabiskan begitu banyak rupiah saat perekonomian negara belum sepenuhnya stabil, mungkin dengan harapan bisa menaikkan sedikit derajatnya di mata masyarakat. Ironisnya, akhir pesta rakyat ini diiringi oleh banyaknya calon yang tidak bisa menerima kekalahan sebagai suatu kenyataan.

Kemudian saya teringat di tahun kedua saya di jenjang pre medical. Pada salah satu sesi perkuliahan dalam blok neuropsikiatri, dosen saya berkata bahwa kelak di tahun 2020, mental disorder bisa menjadi salah satu penyebab kematian terbanyak di Indonesia, bahkan seluruh dunia. Awalnya sedikit membingungkan, tapi perlahan saya mulai mengerti. Pada akhirnya, beliau menjadi orang pertama yang membuka mata saya lebar-lebar tentang pentingnya kesehatan jiwa.

Ada suatu masa ketika sedang belajar tentang psikiatri, saat itu tahun pertama saya dipanggil dokter muda, saya merasa bahwa semua orang punya masalah kejiwaan. Pemikiran liar saya bahkan menerawang, bagaimana seandainya kita yang merasa waras ini justru gila yang sebenarnya dan mereka yang kita anggap sakit adalah yang sebenar-benarnya waras. Benar, kita semua punya masalah. Tapi tidak serta merta membuat kita dengan mudah mendiagnosis diri sendiri. Hanya karena tidak bisa tidur selama beberapa hari, bukan berarti insomnia. Hanya karena gemas melihat barang berantakan, bukan berarti OCD. Hanya karena mood yang gampang berubah, bukan berarti bipolar. Saya bertemu dengan orang-orang kuat yang berjuang melawan sisi lain dari diri mereka sendiri. Berjuang untuk hidup mereka masing-masing, bahkan hidup orang di sekitarnya. Bagi mereka, insomnia maupun OCD dan bipolar tidak sesederhana itu. Gangguan jiwa yang butuh terapi tidak sesederhana itu.

Kehadiran netflix series 13 Reasons Why dan berita kematian seorang idol Korea Selatan di penghujung tahun kemarin sedikit banyak mempengaruhi stigma generasi muda tentang mental disorder. Menghadirkan pertanyaan baru ketika terlalu banyak alasan seseorang untuk mengakhiri hidupnya, sementara tidak ada satu pun alasan untuk bertahan. Bahkan eksistensi orang terdekat pun tidak bisa menjadi sebuah jaminan. Jeritan hati dan teriakan minta tolong yang mereka keluarkan justru tersampaikan saat yang tersisa hanya ingatan tentang mereka.

Funny when you are dead how people start listening.

Rentetan memori dan peristiwa inilah yang menjadi alasan kenapa tulisan ini hadir. Mungkin memang sekarang saatnya semua orang sadar bahwa Gangguan Jiwa itu ADA dan NYATA. Mereka yang mempunyai gangguan jiwa bukan berarti aneh. Mencari pertolongan ke psikiater bukan berarti gila. They just need help. Sama seperti orang sakit pada umumnya. Sama seperti kita, ketika merasa pusing berputar lalu mencari pertolongan ke neurolog. Sama seperti kita, ketika merasa demam berhari-hari lalu mencari pertolongan ke internis. Sama seperti kita, ketika merasa sedih lalu mencari keluarga, teman, sahabat, pacar atau bahkan media sosial hanya untuk sekedar berbagi kegelisahan. They just need help. Just like us.

High hopes. When you let it go, go out and start again.

Seiring berjalannya waktu, semoga mata hati dan pikiran kita lebih terbuka dengan keadaan di sekitar. Meluangkan waktu untuk sekedar berbicara. Mencari uluran tangan untuk saling menggenggam. Berpegang teguh pada satu hal yang bisa membuat kita bertahan dari sekian banyak keburukan yang mungkin terjadi. Berpegang teguh pada satu hal bernama harapan. Dan yang paling utama, melibatkan Tuhan di setiap langkah yang kita ambil.

Well. If people who struggling with depression only need ONE reason to keep alive, be that one!
And let's talk!

Sincerely,

Nn

Saturday, October 21, 2017

Begitu Salah Begitu Benar

Tuhan punya lebih dari bermilyar-milyar rahasia. Tidak terhingga. Dan di antara sekian banyak hari yang ada, hari ini dipilihNya sebagai salah satu hari perenungan. Dalam perjalanan menuju hotel tempat pernikahan seorang teman berlangsung, bersama supir taksi online yang berkali-kali terabaikan saat ia mulai membuka topik.

Silang menyilang obrolan yang semakin pendek mengisyaratkan kelelahan, pun kejenuhan. Namun jarak menuntut tak ingin disalahkan. Lalu apa yang salah dari pesan singkat yang semakin jarang? Apa yang salah dari groupchat yang isinya hanya rentetan stiker oleh orang yang berbeda-beda? Apa yang salah dari hubungan yang hanya ditopang oleh kuota internet dan kekuatan jaringan? Ya, semua terasa salah. Sepertinya kita jauh dari kata tuntas ketika berbicara tentang komunikasi.

Tidak ada lagi objek tawa.

Tidak ada lagi marah.

Tidak ada lagi gelisah.

Sunyi sekali.

Ternyata, 3 bulan adalah waktu yang singkat namun cukup untuk benar-benar melihat sebuah perubahan.

Mungkin benar saya yang salah karena terlalu gengsi memulai obrolan, terlalu sibuk mengamati dunia orang lain, terlalu submisiv ketika bertemu dominan, terlalu datar, tidak humoris, tidak kreatif, seolah tidak punya gairah hidup sehingga tidak layak masuk hitungan dan tidak layak dijadikan prioritas. Atau mungkin perasaan saya saja yang lagi lagi salah, hanya mendramatisir keadaan. Jika memang bagitu adanya, sungguh sulit menjadi diri sendiri. Kali ini, semua terasa benar.

Saya jadi teringat tulisan Sapardi Djoko dalam bukunya Hujan Bulan Juni, ketika intensitas dan kualitas obrolan Sarwono bersama Pingkan menjadi berkurang. Sekuat tenaga disingkirkan pemikiran bodohnya, dan memilih untuk terus saling percaya. Sesederhana itu.

Saturday, May 13, 2017

Tanya Hati

Banyak yang bilang politik itu kotor, manipulatif, penuh dosa. Dengan alasan itu pula sebelum masuk kuliah dulu, saya sudah menjauhkan Ilmu Politik dari list fakultas/jurusan yang akan saya pilih. Tanpa sadar dan dengan bodohnya, memilih kedokteran yang justru menempatkan salah satu kaki di neraka. Setidaknya sekarang saya tidak lagi anti politik. Saya senang ketika diajak diskusi tentang pandangan politik, baik yang terjadi di Indonesia maupun dunia. Saya percaya politik sama pentingnya dengan ilmu lain yang diajarkan di perkuliahan dulu (dan kini). Atau, mungkin sesederhana saya yang tidak bisa membayangkan tatanan negara tanpa politik. Apapun itu, dengan keterbatasan ilmu dan preferensi terhadap politik, ketika menyangkut pertukaran opini saya akan tetap menimbrung. Walau lebih sering terpancing daripada membuka topik. Lebih sering sok tahu daripada benar-benar tahu.

Salah satu hal yang tidak saya senangi, ketika saya berbuat salah, akan ada orang-orang yang justru lebih senang mengungkit kesalahan-kesalahan saya yang lain, bahkan kesalahan yang sudah lama berlalu. Saya tahu mereka tidak sepenuhnya berniat membuat saya merasa tidak dimaafkan, melainkan sekedar membuat saya semakin menyesali perbuatan saya, memaksa saya untuk tidak lagi berbuat salah atau setidaknya tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sebagaimana kesalahan untuk dijadikan sebuah pelajaran. Seperti halnya dengan pilkada ini. Berbicara tentang pesta demokrasi ibukota beberapa waktu lalu, yakin dan percaya saya bukan satu-satunya yang berujung kesal, bukan satu-satunya yang senang beropini tapi justru jatuh sampai ke titik terjenuh. Bagaimana tidak, masalah yang berawal jauh sebelum pilkada ini sudah berlarut-larut hingga beberapa waktu ke depan, bahkan mengungkit tragedi Mei 1998, mengungkit luka lama dan ketakutan yang tersimpan jauh dalam lubuk hati segelintir orang tertentu yang merasakan sendiri tragedi tersebut. Lagi-lagi kembali ke masa lalu, mengingatkan kita untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.

Baiklah, sejarah memang penting menjadi self reminder bagi kita terhadap penyesalan maupun rasa syukur terhadap masa lalu. Sejarah membuat kita belajar tentang kehidupan, baik dari diri kita maupun orang lain. Ibarat sudah terlanjur basah, mari kita sedikit merunut ke masa lalu. Kisah ini dimulai oleh oknum-oknum yang menggunakan Agama sebagai senjata politik. Kemudian oknum oposisi terpancing membela/melawan, yang dianggap oleh banyak orang sebagai perlawanan terhadap sebuah Agama. Ada dua kata kunci yang bisa saya ambil; Agama dan Politik. Karena keduanya bukan keahlian saya, maka saya tidak punya hak menyampaikan apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan. Tapi terlepas dari keterbatasan ilmu, saya meyakini pekerjaan paling mulia adalah dakwah, menyiarkan Islam. Saya percaya ada banyak cara dalam menyiarkan Islam tanpa harus memaki secara terang-terangan orang lain, apalagi orang asing, sebagai kaum kafir. Pun saya percaya ada banyak momen yang bisa digunakan untuk menyebarkan Islam tanpa perlu dikait-kaitkan dengan politik tak sehat. Tapi penyimpangan-penyimpangan terhadap penyebaran suatu ajaran tetap tidak bisa dijadikan alasan untuk menyinggung sebuah Agama yang sama sekali tidak kita yakini/ketahui, dengan atau tanpa niat menjatuhkan. Ini berlaku untuk semua keyakinan yang diakui, beda lagi ceritanya yang tidak diakui secara hukum. Sekali ini, maafkan jika saya salah.

Saya adalah muslim dan akan memilih yang juga muslim sebagai pemimpin saya. Jika diberi kemerdekaan, tentunya. Setidaknya itu yang agama saya perintahkan. Saya cukup beruntung lahir dan dibesarkan di sekeliling orang-orang yang sebagian besar mempunyai keyakinan yang sama. Meskipun dengan taraf keyakinan yang berbeda-beda. Tapi keberuntungan itu tidak lantas memaksa saya memeluk Islam. Ada proses yang perlu dilalui sampai saya yakin bahwa Islam adalah ajaran yang paling benar. Intermezo.

Hasil akhir dari kisah ini adalah beberapa “kubu” yang saling menebar benih-benih kebencian. Benih-benih yang tidak sehat untuk hati dan pikiran. Saya sudah selesai dengan kebhinekaan, sudah selesai dengan unity in diversity dan slogan pemersatu bangsa lainnya ketika kita tetap saling menyerang tiada henti. Yang satu memaki kafir, yang lain memaki intoleran. Yang satu diam memilih netral dan dianggap apati terhadap negara, yang lain lagi merasa sebagai minoritas seolah olah menjadi satu-satunya korban. Yang sana menghargai hukum, yang sini baru merasa hukum tidak adil. Tanpa sadar sudah banyak orang yang merasakan hilangnya keadilan negeri ini jauh sebelum kisah ini dimulai. Pada akhirnya, sarkasme yang dilontarkan bukan lagi untuk menyampaikan opini tapi terkesan mengikuti tren yang ada, seolah-olah kita adalah yang paling benar. Lalu yang mana sesungguhnya yang paling benar?

Akhir kata, saya jadi teringat obrolan dengan teman saya ketika kami sama-sama mencari kebenaran tentang satu hal dan sama-sama menemui jalan buntu, pada akhirnya ia hanya berkata “cuma hati kita yang bisa menjawab”.

Tuesday, March 28, 2017

Tentang Maret dan Feminisme

Tanggal 8 Maret diperingati sebagai International Woman's Day. Tahun ini WHO sendiri mengangkat tema "End Female Genital Mutilation", tapi tulisan kali ini tidak akan membahas itu. Seperti beberapa tahun terakhir ini, tema sosial yang paling panas dibicarakan tidak jauh seputar feminisme. Bukan hanya kaum perempuan sendiri, tapi para lelaki pun banyak meluapkan keresahannya tentang bagaimana seharusnya perempuan diberi kebebasan dalam memilih jalan hidupnya sendiri. Persoalan hidup dimana, berteman dengan siapa, belajar apa, menikah kapan hingga memutuskan hidup sendiri tetap merupakan pilihan hidup yang juga bebas dimiliki perempuan. Kampanye sudah dilakukan dimana-mana. Via media elektronik, media massa, film, radio bahkan membuat aksi berani dengan turun langsung ke lapangan. Tapi ada satu hal yang menarik dari isu ini. Adalah perspektif perempuan terhadap dirinya sendiri.

Berangkat dari batasan Feminisme menurut KBBI adalah gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria. Belakangan ini saya menghabiskan kuota internet dengan menonton salah satu youtube channel milik WNI asal manado-halmahera yang menikah dengan WNA. Di salah satu videonya, dia banyak bercuap tentang pilihannya untuk tetap bekerja di samping mengurus sesuatu yang menjadi tanggung jawab utamanya-keluarga. Sampai pada kesimpulan bahwa rumah tangga adalah sebuah tim, dan tim membutuhkan kerjasama untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan butuhkan. Mungkin seperti itulah gambaran feminisme. Cerita macam ini sudah sering terdengar atau bahkan berada sangat dekat dengan kehidupan kita. Tapi di comment section ada ada saja segelintir orang yang menganggap bahwa pilihan istri untuk bekerja sementara suami sudah berpenghasilan lebih dari cukup adalah kebodohan, bahwa kodrat seorang perempuan adalah menjadi full-time wife/mom. Lucunya, yang beranggapan seperti itu sebagian besar justru berasal dari kaum perempuan. Lalu kemana feminisme?

Kemudian ada Beauty and The Beast yang rilis bulan ini. Film yang mengangkat isu feminisme justru tidak detail menceritakan perjuangan seorang perempuan dalam menuntut kesetaraan. Twistnya ketika Belle diminta menikah dengan Gaston tapi ia menolak dan lebih memilih si buruk rupa, dianggap sebagai salah satu bentuk feminisme. Tapi penikmat disney versi animasi pasti sudah tahu ini, dan sangat tepat sasaran ketika isu tersebut belum mewabah. Sementara di era sekarang, feminisme tidak hanya berotasi pada penolakan perjodohan ala siti nurbaya atau keberanian perempuan menikah dengan laki-laki pilihan hatinya. Belle seperti menjadi simbol bahwa perempuan lebih banyak mengikuti kata hati dibanding logika. Lalu kemana feminisme? Pada akhirnya, saya tidak menemukan faedah dari film ini. Tidak ada pesan yang benar-benar bisa saya ambil selain "biar jelek asal tajir". Pun kebaikan hati ala prince charming tokoh disney tidak sepenuhnya digambarkan melalui si buruk rupa. Sampai sampai di salah satu scene terbaik (versi saya) Belle harus teriak, "Well you should learn to control your temper!!".

Saya adalah korban genderisasi. Korban dari sekelompok orang yang mempunyai prinsip bahwa pemimpin haruslah datang dari kaum laki-laki. Meski dalam skala yang lebih kecil, cukup membuat saya mengerti rasanya diblackmail dengan alasan "kamu adalah perempuan". But I am not going to play the victim. Hal itu tidak menjadikan saya sebagai pendukung feminisme sepenuhnya. Yang membuat saya geram adalah pelaku blackmail yang (lagi-lagi) datangnya juga dari kaum perempuan sendiri. Belum lagi dengan maraknya pemerkosaan, isu yang mencuat bukan cara berpikir pria, melainkan perilaku berpakaian wanita. Puncaknya ketika Aceh memaksa perempuan memakai pakaian tertutup dan Paris yang memaksa perempuan melepas burkininya. Ayolah, please stop telling woman how to wear! Berhenti mengatur cara bersikap seorang wanita, berhenti membuat lolucon "karena wanita ingin dimengerti" atau "karena perempuan selalu benar" dan berhenti memperlakukan perempuan sebagai objek. Ujung dari semua ini, marilah kita memperlakukan orang lain-perempuan atau laki-laki, selayaknya manusia ingin diperlakukan.

Pada tulisan yang tidak jelas alurnya ini, akhirnya saya sadar bahwa pejuang feminisme harus bekerja ekstra. Di samping mengubah perspektif tentang perempuan di mata laki-laki, juga berjuang memperluas wawasan sesama kaum perempuan. Perempuan seharusnya lebih percaya akan dirinya sendiri dan ketika waktunya tiba tidak lagi menggantungkan hidupnya pada manusia lain, melainkan hanya pada Allah SWT.

Kabarnya tahun ini juga akan rilis film Kartini dan Wonder Woman, semoga ada angin segar yang bisa menjernihkan perspektif kita tentang perempuan dan laki-laki yang sebenarnya.

Sincerely,
Nn.

Source: insight, kbbi, youtube, magdalene, who, google

Tuesday, February 28, 2017

Reply 2000s

Di suatu sore yang mendung, kala matahari dan hujan sedang malu-malunya, tiba-tiba mami menelpon. Saat itu saya baru saja lepas dinas di satu Rumah Sakit dan sedang berkeliaran di Rumah Sakit lain. Mami menyampaikan bahwa salah seorang sahabatnya sedang sakit, kebetulan dirawat di Rumah Sakit tempat saya berada sore itu. Pada akhirnya, kami putuskan untuk menjenguk bersama setelah jam pulang kantor.

Setibanya di kamar perawatan, disambut ibu-ibu kompleks rumah tempat saya tinggal dan sedikit berbasa-basi, mereka lalu kembali sibuk berbagi cerita. Rupanya, mereka sedang bernostalgia tentang bagaimana kehidupan di kompleks jaman dulu. Wajar saja, sejak mami memutuskan kerja kantoran dan beberapa penghuni kompleks pindah rumah, mereka jadi jarang bertemu apalagi berkumpul, seperti sore itu. Entah baru saja atau sudah sejak awal, tapi ibu-ibu banyak membahas tentang anak-anak mereka. Termasuk kami, anak-anak kompleks yang kebetulan ada di kamar. Kami duduk mendengarkan cerita sambil sesekali ikut tertawa dan mengenang sendiri masa-masa kecil kami. Selama ibu-ibu bercerita, terlihat jelas ada kebahagiaan yang memancar dari mata mereka, bahkan yang sedang sakit pun tidak pernah kehilangan senyum.

Tidak lama setelah itu, keluarga kami mendapat undangan reuni warga Gunung Sari, nama kawasan rumah nenek, yang pada akhirnya dihadiri oleh mami dan bapak. Rumah itu pernah ditinggali mami bersama 7 saudaranya saat pertama kali pindah ke kota. Bapak pun pernah tinggal disana di awal pernikahan mereka. Sedikit banyak, kami mengenal para tetangga yang pernah bermukim di kawasan tersebut. Sepulang dari reuni tersebut, mami dan bapak banyak bercerita tentang bagaimana pertemuan dengan orang-orang di masa lalu. Mereka bernostalgia tentang sulitnya kehidupan mereka di jaman dulu. Semisal memetik buah sayur di kebun yang tidak diketahui pemiliknya, saling menjaga rumah ketika ada tetangga seisi rumah yang sedang mudik hingga berbagi makanan pada momen-momen tertentu. Selama mereka bercerita, lagi-lagi terasa aura kebahagaiaan dari suara mereka yang menggebu-gebu. Maka di akhir malam sesi curhat itu, saya putuskan akan menulis tentang ini.

Intermezo. Persahabatan ibu-ibu kompleks dan kerukunan warga Gunung Sari sungguh mengingatkan tentang salah satu drama, Reply series. Satu kata untuk Reply, Hangat. Drama yang mengangkat tema romansa dan keluarga ini berhasil membuat saya jatuh hati pada setiap seri dan episodenya. Membuat kenangan-kenangan yang sudah lama tenggelam kembali menguap ke atas permukaan.

"Anak kompleks yang aslinya besar di kompleks pasti besarnya lebih kusam dibanding anak yang numpang lewat tinggal sebentar di kompleks", kata salah seorang ibu. Teringat, dulunya saya sering ikut kakak atau adik, yang keduanya lelaki, ketika mereka berkelana ke rumah-rumah tetangga untuk sekedar mencari teman bermain atau mencari makanan. Menumpang main kelereng, layangan, yoyo, playstation, tamiya atau mobil-mobilan remote control sebelum bapak akhirnya membelikan mainan yang sama untuk kami. Atau ketika teman lain sedang bermain Boneka Barby yang katanya asli dan hanya dijual di toko resmi. Walau kadang tidak diajak, saya tetap ikutan dan dengan percaya diri membawa boneka saya yang murah meriah dan dibeli di sekolah. Mami bukan tipikal ibu yang baik-baik saja ketika rumah berantakan, dan bapak bukan tipikal ayah yang akan memanjakan anak-anaknya dengan berbagai mainan. Mungkin itulah kenapa kami bersaudara lebih suka bermain di rumah para tetangga, bahkan di tengah hujan maupun teriknya matahari. Pada akhirnya, kami benar-benar tumbuh menjadi anak yang tidak takut cuaca dan tidak takut kusam tentunya. Walau di usia sekarang baru kami sadari bahwa perawatan tubuh juga tidak kalah penting.

Dengan keterbatasan mainan, ini bukan berarti mami dan bapak pelit. Mereka tetap membelikan kami mainan sekadarnya dengan jenis dan jumlah yang masih dalam batas wajar. Suatu hal yang saat ini justru sangat saya syukuri, karena saat ini saya sadari bahwa metode pendidikan yang mereka pakai sejak dulu semata-mata untuk menjadikan kami, anak-anaknya, manusia yang bisa sedikit menghargai hasil kerja orang lain.

Sejak dulu, akhir pekan adalah waktu yang paling dinanti-nantikan. Bukan hanya karena libur sekolah tapi kami sekeluarga juga akan berkumpul di Gunung Sari. Apalagi salah satu rumah tetangga mempunyai segudang permainan. Anak pemilik rumah memang senang mengumpulkan mainan terutama mainan berseri seperti bonus mainan di salah satu restoran makan yang populer kala itu. Pemilik rumah juga bermurah hati sering menyiapkan cemilan saat waktu bermain tiba. Tidak lupa pula rutinitas menginap, entah di rumah nenek atau di rumah tetangga. Senang sekali rasanya ketika kami semua berkumpul di minggu pagi, sambil menunggu mbok-mbok jamu datang lalu kami merengek minta dibelikan. Kemudiaan saat sore hari kami ke lapangan basket di SMK sekitar atau lapangan tennis luas samping rumah nenek. Entah untuk sekedar menggelinding bola, mengibaskan raket, main petak umpet, taplak gunung, kelereng, layangan, gasing, gobak sodor, gebok, lompat tali, ular naga, ular tangga, ludo, halma, monopoli, bekelan, benteng dan lain sebagainya. Kemudian pulang menjelang magrib dalam keadaan kotor, berkeringat, berlumpur, bau atau paling parah dalam kedaan penuh air got. Sungguh masa-masa indah, bebas dan membahagiakan.

Kini waktu telah memaksa kami untuk melangkah maju dan membiarkan masing-masing tumbuh tanpa saling memberi kabar. Itulah kenangan, memori-memori masa kecil yang tidak akan pernah bisa diulang kembali. Meski yang tersisa dari kenangan itu adalah serpihan ingatan, tapi mereka selalu punya tempat tersendiri dan tersimpan di satu sudut ruang kecil bernama hati. Memori yang akan memberikan kehangatan dan kerinduan setiap kali ia hadir. Entah untuk dikenang, untuk dijadikan pelajaran, dan untuk didongengkan kepada siapapun di masa depan.

Selalu ada harapan untuk bertemu orang-orang di masa lalu. Seperti memutar roll film, bersama kami tonton sambil tertawa dan saling menatap memancarkan aura kebahagiaan. Untuk generasi 90s, Reply 2000s.

Sincerely,
Neni.

Sunday, January 22, 2017

Sinis Boleh, Lupa Diri Jangan

Sarkasme, itulah fenomena yang sedang terjadi di, well, hampir seluruh Indonesia. Ibarat ekosistem, dari hulu dan pada akhirnya sampai ke hilir juga. Sarkasme yang dengan mudah dilontarkan dengan maksud menyudutkan salah satu pihak tapi berujung pada kebodohan diri sendiri yang ditampakkan secara gamblang. Niat menjatuhkan satu orang, tetapi justru menjatuhkan negara. Hingga lupa diri bahwa kita adalah bangsa yang satu, tumpah darah yang satu.

Teringat masa-masa basic sekitar 4 tahun yang lalu, salah satu (sebut saja) pemateri pernah berkata, "hancurnya suatu bangsa dikarenakan kemiskinan akibat maraknya kaum-kaum kapitalis". Saat itu saya merenung sejenak lalu saat diberi kesempatan saya berkata, "Menurut saya, hancurnya suatu bangsa dan negara bukanlah karena kemiskinan tetapi justru karena kebodohan". Saya ingat salah satu teman saya menimpali, tapi sayang sekali memori saya tidak begitu bagus, pun arah diskusi sudah terlupakan..

Anyway tidak berapa lama, saya menonton film "?". Saya suka sekali percakapan dengan Romo di gereja. Tentang umat kristiani yang menolak seorang Muslim saat ingin mengambil peran sebagai Jesus dalam drama paskah. Yang kemudian menyerah setelah Romo berkata, "Tidak pernah terjadi suatu agama runtuh oleh karena sebuah drama, yang terjadi adalah agama runtuh karena kebodohan"

Kemudian, saat baru-baru saja Sir Obama terpilih sebagai Presiden USA, Pak Jokowi terpilih sebagai 01 Republik Indonesia dan Pak Basuki alias Ahok terangkat menjadi Gubernur DKI Jakarta, tanpa sengaja saya membaca sebuah postingan tentang kelegaan seorang Ibu yang anaknya lahir di tanah Indonesia. Dalam postingan itu, seorang ibu berpesan kepada anaknya untuk bercita-cita setinggi apapun yang ia mau karena ia tahu saat itu, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia, apapun suku agama dan ras yang ia punya, segalanya menjadi mungkin. Kulit hitam bisa memimpin dunia, rakyat biasa bisa menjadi presiden, tionghoa bisa jadi gubernur, dan lain sebagainya. Lucunya, mata saya berkaca-kaca dan hati pun terasa hangat. Begitulah indahnya perdamaian.

Namun kembali ke kondisi sekarang ini, semuanya seperti berbalik arah. Rasisme dan perdebatan yang tidak sehat merajalela, persahabatan menjadi permusuhan, perdamaian menjadi peperangan, segalanya menjadi tidak seimbang. Ketika keyakinan saya diusik, di satu sisi saya harus membela mati-matian tapi di sisi lain ada kegelisahan dan keresahan disana. Tidak ada lagi kehangatan, yang ada hanya keraguan. Menyisakan doa-doa, semoga Indonesia akan baik-baik saja. Dan jangan menyalahkan pilkada, mari sama-sama refleksi diri. Tidak perlu menjadi bodoh dan menjadi awal penyebab hancurnya negara kita sendiri. Tidak perlu melupakan bhineka tunggal ika. Tidak perlu menjelaskan apa yang sudah kamu perbuat untuk negara dan agamamu, cause the one who likes you wouldnt need it and the one who dislike you wouldnt believe it. Haters gonna hate, rite? Mari sama-sama lebih bijak memilih kata-kata, lebih bijak membela dan lebih bijak melawan. After all, mari sama-sama berbuat yang terbaik untuk Indonesia.

Sincerely, yang ilmu amalnya receh.
Nn.

Monday, October 3, 2016

Meminta Maaf, Wujud Kemenangan Melawan Arogansi

Suatu ketika dari dunia tanpa batas..
"Jangan meremukkan hati yang diserahkan kepadamu dengan sukarela. Kau tak pernah tahu sulitnya membuka diri yang pernah terluka", kata seorang dari dunia itu. Kalimatnya secara tiba-tiba mengingatkanku pada hatimu yang (mungkin) pernah ku lukai. Jika ini belum terlambat, izinkan ku meminta maaf.

Maaf karena tidak membalas pesan-pesan singkat darimu, hingga kau lelah membanjiri kotak pesanku dengan kata-kata yang sekedar menanyakan kabar. Atau membalasnya dengan cara yang tidak seharusnya kulakukan. Tanpa tahu apakah sulit bagimu menekan tombol 'kirim' pada waktu itu. Betapa baiknya kau, dan betapa bodohnya aku.

Maaf karena tidak memberimu sedikit waktu, tidak membiarkanku terbiasa dengan caramu, tidak mengangkat panggilanmu saat teman-temanku hampir tak berjarak denganku. Terlalu malas menjelaskan kepada mereka ketika ditanya, "Siapa yang menelpon?". Tanpa tahu apakah sulit bagimu mencari-cari waktu untuk sekedar mendengar suaraku.

Maaf karena tidak berterima kasih saat kau nyanyikan lagu dan memainkan keyboard lalu mengirimnya melalui pesan suara di blackberryku kala itu. Tanpa tahu apakah lagu itu benar-benar kau nyanyikan untukku atau kau kirimkan pula kepada perempuan lain? Tapi suaramu bagus, sungguh! Tidak seperti suaraku yang sulit dijelaskan.

Maaf karena mengabaikanmu ketika kau coba temui berkali-kali. Atau mengabaikan isyarat yang kau berikan melalui beberapa orang yang sama-sama kita kenali. Tanpa tahu apakah ada tembok yang telah coba kau runtuhkan.

Maaf karena memasang afek datar saat kutahu lagi-lagi kau melakukan sesuatu untukku. Tanpa tahu apakah ada perjuangan panjang yang sudah kau lalui untuk sekedar menyelamatkanku dari keteledoranku sendiri.

Dan maaf tidak bisa menyampaikan langsung padamu, karena waktu yang telah berlalu membawa kita kembali pada titik keasingan satu sama lain. Pada akhirnya, tanpa sadar kau mengajarkanku cara menghargai tanpa benar benar memberi harga.

Mengingat sedikit kata Adhitya Mulya dalam Sabtu Bersama Bapak. Meminta maaf adalah salah satu wujud kemenangan melawan arogansi, kan? Tulus, aku berdoa untuk kebahagiaanmu.

Kita hanya hidup di dunia yang berbeda, dengan kearogansianku kala itu memasuki duniamu atau membiarkanmu masuk ke dalam duniaku.

Sincerely,
To love and to be loved unconditionally.

Friday, April 29, 2016

Doa Di Suatu Akhir Malam

Suatu malam, terlibat dalam lingkaran pemikiran tentang bagaimana seharusnya pengambil keputusan menentukan sebuah kebijakan.

Hanya menyampaikan sedikit ide dan menuangkan isi kepala yang justru menguras hati dan cukup banyak ATP. Hingga air mata tak bisa terbendung, karena kompleksnya suatu runtutan pertempuran.

Di akhir malam itu, aku hanya bisa berdoa. Semoga ini bukanlah suatu pembenaran atas keyakinan dan tenggelamnya seseorang dalam dunia retorika atau gugurnya kaum dalam perang silat lidah. Semoga tidak ada konsep yang terbalik bahkan setelah dihempas lalu dipungut atau diputar sedemikian rupa.

Semoga tiada orang lain yang diagungkan seperti tuhan hingga harus mengorbankan insan yang terlanjur terdorong berenang di lautan buaya demi sebuah sayembara revolusi diri. Semoga tidak ada yang bermaksud mengikat tangan manusia yang berusaha meruntuhkan tembok besar yang sedang dibangun disekitarnya.

Karena jika iya, maka selama ini aku hanya memandang cermin retak yang bahkan puing-puing kacanya sudah jatuh dan tak akan bisa disusun kembali. Dan karena pertanggung-jawaban tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Semoga.

Jangan lupa bahagia.
Nn.

Monday, February 29, 2016

Kaki Kelana

Langkah kecil dari sebuah revolusi diri
Bukan driver dengan makna sesungguhnya tapi dalam artian yang berbeda
Sepenuhnya bukan tentang berlibur dan membuang waktu
Lebih dari itu,
Mengasingkan diri, mengenal orang dan teman baru
Tukang becak, mahasiswa, kernek bus, supir angkut
Pramuniaga hingga turis asing dengan segala keberanian
Kesemuanya bersama cerita mereka
Mengajarkan lebih banyak ilmu
Mengingatkan pahit, asin dan manisnya hidup
Tidak henti-hentinya menyadarkan bahwa duniaku masih teramat sangat kecil
Bahwa Indonesia menakjubkan dengan menerima persamaan dan perbedaan
Bahwa Tuhan menciptakan dan mengatur semesta dengan begitu megahnya
Bahwa langkah besar berawal dari sebuah langkah kecil.

Pada perhentian sementara, kupejamkan mata erat dan menyimpan doaku rapat
Menjaganya hanya antara aku dan Dia
Harapan-harapan yang akan kuingat kelak kali berikutnya kupijakkan kaki kelana

Sincerely,
Oleh Februari yang satuannya terus berlalu.

Saturday, January 30, 2016

Tahun Baru, Perasaan Baru, Awal Perjalanan Baru

Pagi pertama di rumah separuh batu separuh kayu khas orange. Dari balkon atas, semilir angin tiada henti menghempas wajah. Di depan rumah yang kunamakan posko ini, lapangan bola luas membentang. Tak jauh dari sana, rumah ibadah beratap hijau berdinding semen setengah jadi berdiri kokoh. Tak jauh dari sana pula, mobil putih dengan sirine di bagian atas senantiasa terparkir di pusat kesehatan desa. Selebihnya rumah-rumah warga dengan berbagai bentuk, warna dan ukuran menghiasi pinggir jalanan utama. Perjalanan lainnya berawal dari sini.

Siti, semoga tak salah mengingat nama. Seorang wanita paruh baya yang kutemui saat berjalan dari desa ke desa. Dari kejauhan, wanita itu terlihat tertatih-tatih menuruni bukit sambil menjinjing keranjang ukuran sedang. "Mau kemana, nek?", tanyaku ketika ia sampai di jalanan utama. Setelah bertukar cerita, ternyata ia dalam perjalanan menuju rumah sakit di kota yang jaraknya lebih dari 15 km dari rumah yang ia tinggali. Padahal ia juga belum lama tiba di rumah. Perjalanan itu ia tempuh dengan berjalan kaki. Tua, sendiri, jalan kaki. "Dulu terbiasa hanya jalan kaki ke kota, kalau sekarang sudah bisa menumpang kalau ada mobil di pusat kecamatan", jawabnya dengan bahasa daerah ketika kutanyakan keseriusannya.

Pada akhirnya, observasi rumah warga yang belum selesai berujung jalan kaki sepanjang kurang lebih 2 km ke posko. Jalan sepanjang 2 km yang sekali lagi menampar wajah, mengingatkan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Jalan sepanjang 2 km yang mengajarkan untuk selalu ikhlas tak peduli apapun itu. Jalan sepanjang 2 km yang menuntun untuk selalu bekerja keras dan melakukan yang terbaik tak peduli kapanpun itu. Jalan sepanjang 2 km yang kembali menyadarkan bahwa waktu yang paling tepat adalah sekarang.

Kuliah kerja nyata ini mungkin lebih tepat disebut palarian pribadi atau bahkan liburan panjang. Liburan berkualitas dibumbui tridarma pendidikan, penelitian dan pengabdian. Pelarian dari rumitnya hiruk pikuk kota kelahiran, setidaknya selama sebulan lebih di atas gunung bernama Sinoa.

Liburan ini mungkin tidak sebanding dengan wisata ke luar kota atau bahkan keliling dunia. Tidak sebanding dengan perjalanan kompetisi, seminar, workshop atau presentasi delegasi kampus atau negara. Tidak sebanding dengan tugas mahasiswa mata kuliah pemasaran internasional alias pemintal khas Rhenald Kashali apalagi jalan-jalan ala backpacker. Tapi 34 hari rasanya cukup mengajarkan banyak ilmu hidup yang tidak bisa dihargai dengan apapun.

Terima kasih untuk 34 harinya. Sebentar lagi pulang, sebentar lagi jadi orang baru di tahun baru dengan perasaan baru. Bertemu dengan awal perjalanan yang baru lagi. Semoga.

Sedikit mengutip bab The Land of Ice and Fire (Islandia) dalam buku JS Khairen, "Kita pergi jauh untuk menyadari rumah kita yang sebenarnya". Rumah, kekasih hati, tempat kembali.

To love and to be loved unconditionally,
Nn

Friday, December 25, 2015

Waktu Adalah Waktu Dan Ia Bekerja Sebagaimana Mestinya

Jauh dari rutinitas biasanya, dari dosen, manekin, preparat, rumah sakit, puskesmas, modul, laporan, surat hingga skripsi. Juga jauh dari kuliah, rapat, observasi, pleno, arisan hingga reuni. Hanya disini, duduk di sebuah ruangan berdominasi cokelat-putih ukuran 5x6 yang sebagiannya dilapisi wallpaper corak rumput dengan warna lebih gelap dan sebagiannya lagi polos tanpa corak. Sebuah hotel kecil di tengan kota kecil pula yang jaraknya butuh sekitar 60 menit dari sebuah bandara kecil yang bahkan sulit disebut bandar udara.

Perjalanan panjang namun singkat ini membuat saya merenungkan banyak hal. Bahwa saya belum cukup tangguh untuk menjadi self-driver alias supir bagi hidup saya sendiri. Perjalanan akhir tahun yang mengantarkan saya mengenal lebih dekat dengan sebuah kata bernama "keluarga". The big family with the big problems.

Ketika saya menginjak usia 21 tahun, sudah banyak perubahan yang terjadi dalam hidup saya. Terlalu sibuk mencoba banyak hal dan menjadi orang lain untuk mengenal diri saya yang sebenar-benarnya, terlalu sibuk membuktikan bahwa dunia saya masih teramat sangat kecil, dan di saat yang bersamaan tanpa sadar melupakan banyak momen bersama orang-orang yang seharusnya lebih saya kenal.

Merunut sedikit ke belakang, terkadang saya kesal ketika tanpa sengaja duduk depan TV dan menemukan sinetron khas ala Indonesia. Namanya juga sinetron. Alur cerita yang terlalu dramatis dan dibuat-buat. Tapi pada beberapa titik kehidupan saya menyadari satu hal, bahwa sinetron hanyalah cerminan kenyataan. Si antagonis dengan kejahatannya menghalalkan segala cara dan si protagonis yang tidak berdaya. Nyatanya kehidupan saya sangat dekat dengan keduanya. Lebih ironis, film dan drama romantis khas ala barat dan asia yang terkesan alami justru sangat jauh dari kenyataan.

Pada akhirnya, perjalanan ini menyadarkan bahwa 21 tahun seharusnya sudah cukup bagi saya. Cukup dewasa untuk mencari sendiri kebahagiaan dengan mengorbankan diri sendiri demi orang lain. Meski terlalu takut untuk benar-benar menjadi dewasa dan meninggalkan banyak hal menyenangkan. Tapi apa mau dikata ketika konspirasi alam dan semesta yang menuntut. Karena waktu adalah waktu dan ia bekerja sebagaimana mestinya.

From blessed to love,
Nn

Wednesday, April 1, 2015

Suatu Hari

Suatu hari.
Iya. Suatu hari.
Suatu hari akan kubagi rahasiaku ketika aku benar-benar siap untuk membaginya, seperti kamu yang sudah membagi rahasia tentang sejarah ayah dan ibumu.
Suatu hari akan kuceritakan kejamnya seorang gadis di masa lalu, yang mungkin akan membuatmu jijik karena kekejamannya.
Suatu hari akan kudongengkan kisah remaja 18 tahun yang mengalami jungkir balik dalam kehidupannya.
Suatu hari akan kucurahkan rasa terpendam di hari-hari belum-bisa-dibilang-dewasa-dan-bukan-remaja-lagi 20 tahun yang begitu bodohnya membiarkan sekian orang mematahkan hatinya.
Suatu hari akan kulirihkan penyesalan karena berurai air mata untuk seseorang yang bahkan tak pernah memikirkanku.
Suatu hari.
Iya. Suatu hari.

Pernah kudengar seorang teman berkata dan memaki dirinya sendiri dengan kebodohan.
Tapi apa yang lebih bodoh dari tetap bertahan walau tak pernah dijadikan prioritas?
Apa yang lebih bodoh dari jatuh berkali-kali dan berdiri lagi walau tak ada yang mengulurkan tangan?
Apa yang lebih bodoh dari terus menerus mengorbankan perasaan di atas akal?
Dan apa yang lebih bodoh dari menyia-nyiakan orang yang sebenar-benarnya peduli padamu?
Seolah tak pernah belajar bahwa terlalu baik itu beda tipis dengan terlalu bodoh.

Untuk Februari yang menyedihkan dan Maret yang membahagiakan, tanpa bermaksud memilih kasih pada satuan waktu.
Selamat datang, April dan seterusnya. Lembaran kisahku masih terus kuukir hingga suatu hari menjadi buku yang bisa kudongengkan pada siapapun yang ingin didongengkan.
Iya, suatu hari.

Hopeffully,
To love and to be loved unconditionally.

Wednesday, February 18, 2015

Ini Hanya Belokan, Bukan Jalan Buntu

Puluhan menit kutatap wajah yang ada di hadapanku. Ada wajah yang tak terbaca disana. Urat kekecewaan, syukur luar biasa dan bingung yang bercampur menjadi satu kesatuan. Sejak lama perasaan seperti ini terkubur. Namun hari ini bersama kegelapan pukul 01.40 waktu setempat, ia bangkit dan hadir kembali.

Bung Karno pernah bilang, ada suatu masa ketika kau hanya ingin sendiri saja bersama angin menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata. Tapi, pernahkah kau merasa sangat ingin menangis lalu tak bisa meneteskan air mata?...

Karena itu, di suatu sore ku putuskan untuk berlari. Kukenakan setelan kombinasi tosca dan putih ternyamanku dengan harapan bisa memutari lapangan sebanyak mungkin dengan waktu selama mungkin tanpa khawatir perasaanku terusik oleh ketidaknyamanan. Benakku sudah memutuskan untuk fokus hanya pada satu hal, mengumpulkan semua kegundahan di bawah langit sore itu dan membuangnya disana. Kuhabiskan 30 menit 5 putaran penuh tanpa henti dan tibalah akhir dari sebuah “pelarian”.

Sepanjang 30 menit itu, kurenungkan semua yang perlu kurenungkan. Mengingat pengalaman luar biasa menyenangkan yang terjadi selama beberapa hari sebelumnya. Belajar tentang banyak hal. Aku belajar tentang waktu yang akan terus berjalan sebagaimana mestinya. Bahwa tak ada waktu yang paling tepat selain waktu yang kita ciptakan sendiri. Aku belajar memaknai kata demi kata, membantuku memahami setiap detail kehidupan. Belajar mencari tahu apa yang benar-benar aku inginkan. Belajar sedikit tentang jagad raya dan alam semesta yang menyembah Tuhan dengan caranya masing-masing. Aku belajar mencintai Tuhan dan membuktikan sendiri dengan mata hatiku bahwa Tuhan itu ADA dan ESA.

Sepanjang 30 menit itu, kusimpulkan semua yang perlu kusimpulkan. Ironis. Ketika tempatku belajar bukanlah sekolah, perguruan tinggi apalagi tempat ibadah. Melainkan hanyalah sebuah bangunan tua yang didominasi hijau dan hitam. Ya, bukankah belajar bisa dimana saja? Dan lebih ironis, ketika pembuktian-pembuktian sebelumku justru tidak disertai aksi nyata. Lalu untuk apa pembuktian ini?, tanyaku dalam hati. Akankah aku berakhir seperti itu pula? Entah.

Sepanjang 5 putaran penuh itu, kulepaskan semua yang perlu kulepaskan. Menguraikan kebisingan alam pikiranku sendiri. Sebab entah mengapa benakku masih merasa asing dengan istilah diskriminasi atau pengkhianatan ketika di sekelilingku, atau bahkan diriku sendiri, penuh dengan ketidakadilan. Bak orang suci atau neonatus. Mungkin daripada mengutuk diri dengan ketidaksiapan dan usaha yang sama sekali jauh dari kata maksimal, akan lebih mudah mempercayai keberuntungan dan kesempatan yang lebih berpihak pada orang lain.

Sepanjang 5 putaran penuh itu, kuhabiskan seluruh kemampuanku. Menggunakan hampir semua cadangan energi yang kupunya untuk menguras hati yang terlalu lelah bekerja. Menyatu dengan angin yang menghempas wajah dengan lembutnya. Di bawah konspirasi semesta bersama langit yang begitu indah sore itu.

Dan inilah akhir dari pelarian. Mengingatkanku bahwa ini bukan kegagalan pertama dan terakhir, bahwa kegagalan bisa singgah dimana saja dan kepada siapa saja. Terima kasih kepada yang senantiasa mendampingi dan membimbing. Terima kasih yang telah mengingatkan, bahwa semakin kita belajar semakin kita tahu bahwa kita tidak tahu apa-apa. Terima kasih kepada yang lagi-lagi menyadarkan bahwa seorang aku bukanlah apa-apa dan siapa-siapa. Terima kasih yang telah mengingatkan untuk bertanya pada diri sendiri, apakah aku manusia ataukah hanya seonggok daging yang berjalan.

Sore itu, ketika 30 menit 5 putaran penuhku habis, kutitipkan keresahanku pada tanah tempatku berpijak, dan meninggalkannya tepat di garis finish pelarianku. Kutinggalkan lapangan dengan keyakinan bahwa Tuhan sedang tersenyum di atas sana dan berkata, “Santailah, sayang. Ini hanya belokan, bukan jalan buntu”

Monday, December 8, 2014

Potongan Kebab Di Antara Sisa Hujan

Dulu aku suka hujan. Tapi dulu pun aku pernah tak suka hujan. Tidak penting. Karena tidak semua hujan mengingatkanku padamu. Hanya hujan seperti hari ini. Hujan yang mengingatkanku pada potongan kebab yang kau berikan padaku.

Apa kabar kamu disana? Mungkin kau tak pernah tahu potongan kebab itu adalah kebab pertama dan terakhir seumur hidupku. Kebab yang kau berikan sambil menemaniku menunggu di tengah hujan yang tak terlalu deras kala itu. Cita-citaku sederhana. Suatu hari dengan pribadi yang berbeda, kita bertemu lagi dan berbagi kebab di antara sisa hujan yang hinggap di dedaunan atau pinggiran kaca.

Apa kabar kamu disana? Mungkin kau tak pernah ingat kalimat terakhir yang kau ucapkan padaku di hari kelulusan kita. Kau duduk disana dan aku berdiri tak terlalu jauh darimu. Kau memanggil namaku, kemudian aku menoleh dan kau tak mengucapkan apapun setelahnya. Hanya namaku yang tergantung, seperti kisahku yang tergantung oleh diriku sendiri. Ya, hanya olehku sendiri. Karena sejak awal memang hanya ada aku yang sepenuhnya melihatmu dengan rasaku. Bersama diamku.

Apa kabar kamu disana? Kau dengan cita-citamu yang tinggi. Sementara aku dengan diriku yang masih ingat tanggal kelahiranmu, tanggal yang sekaligus menjadi angka kesukaanmu. Aku dengan tulisanku yang bodoh, tidak terangkai dan berantakan. Yang mungkin tidak akan pernah kau baca, atau mungkin kelak akan kau baca sambil tertawa. Aku dengan pikiranku yang tak tahu banyak tentangmu, selain hal-hal kecil yang bahkan tidak penting bagimu. Aku yang terlalu berani menatapmu padahal sepenuhnya sadar kau memiliki dia di sisimu kala itu. Atau aku yang terlalu pengecut dan hanya bisa melihat punggungmu ketika kau menawarkan tumpangan pulang untukku. Berbahaya perempuan pulang sendirian malam-malam, katamu.

Apa kabar kamu disana? Mungkin kau tak ingat tiga pertemuan kita setelah hari kelulusan. Kau datang tiba-tiba bagai angin kencang yang menghantam wajahku dari depan, kau lewat dan membuatku melompat kegirangan di belakangmu seperti anak kecil tanpa kau sadari. Atau hari berikutnya, juga membuat mataku berbinar-binar mencari sosokmu yang kudengar ada di tempat yang sama denganku, tempat pertama kali aku mengenalmu. Lagi-lagi secara tiba-tiba. Atau di hari reuni kita bersama mereka, yang membayar rasa rinduku untuk sementara akan kenangan-kenangan indah yang aku lalui, dengan atau tanpamu.
 
Apa kabar kamu disana? Semoga keinginanmu tercapai, semua keinginan yang pernah kau ceritakan padaku tanpa sadar di sela-sela waktu kita yang hampir tak berjarak, serta obsesimu untuk menikah dini dengan perempuan pilihanmu. Dan polosnya aku yang tertawa saja kala kau meminta bantuanku mencarikan perempuan baik untukmu. Tapi tulus, doaku menyertaimu. Doa yang aku panjatkan di sela-sala hariku ketika mengingatmu. Seperti hari ini. Doa yang aku panjatkan setiap tahun di hari ulang tahunmu, yang sudah dua tahun lebih kulalui tanpamu. Tidak sesulit yang kau pikirkan, rasanya hampir sama seperti hari-hari yang kulalui sebelum bertemu denganmu.

Apa kabar kamu disana? Semoga kau sehat selalu. Doakan aku yang masih terus belajar tentang kehidupan, setelah fase terbalik duniaku. Karena kemudian kusadari setiap aku keluar dari zona nyamanku, akan selalu ada zona yang lebih luas setelahnya. Sekali lagi menyadarkanku bahwa duniaku masih terlalu sempit. Walau cita-citaku sederhana. Suatu hari dengan pribadi yang berbeda, kita bertemu lagi dan berbagi kebab di antara sisa hujan yang hinggap di dedaunan atau pinggiran kaca. Bercerita tentang dunia kita masing-masing.

Seperti lilin yang bahkan tak habis jika kau bakar dengan apimu.
From blessed to love

Monday, July 28, 2014

You Know You're Being Older

You know you're being older..ketika momen tahunan tak lagi sama rasanya. Termasuk lebaran.

You know you're being older..ketika orang-orang yang kau kasihi pun tak lagi sama.

Dialah yang terbiasa kucium jemari kasarnya..
Seterbiasa ia menyadari panas demam di tubuh mungilku.
Seterbiasa ia meniupkan doa-doa tulusnya di sela rambut kepalaku.
Seterbiasa ia memaksaku makan setiap kali datang berkunjung.
Seterbiasa ia memintaku setiap saat menginap di rumah hangatnya.
Seterbiasa ia mengisi harinya di dapur dan ruang belakang.

Ia yang kini meskipun ada di hadapan mataku tetapi masih sangat aku rindukan.

Kini..

Jemari kasarnya masih terbiasa kucium, tetapi hangat darahku tak lagi ia sadari.
Doa-doanya tak lagi terasa di sela rambutku, tetapi pelukannya mengantarkanku mengucap doa dalam hati.
Ia masih memaksaku makan setiap kali kunjunganku, tetapi mengulangnya berkali-kali seolah ia belum melakukannya.
Tak ada lagi pintanya agar aku menginap di rumahnya yang penuh kenangan.
Mata dan ingatannya yang kini rabun seolah memaksanya untuk duduk, diam, menerawang dan sekali-sekali bertanya, "itu siapa?"

Ia lah nenek..
Kini ia tua rentah. Pikun sepikun ia yang tak lagi mengingat nama dan wajah cucu tertuanya.

Tapi mata itu masih sama. Teduh. Hanya saja tak terbaca.
Mata itu bisa saja berkata bahwa ia bahagia, melihat anak cucunya masih bisa berkumpul di hari yang istimewa. Berbagi canda hangat.
Tapi mata itu juga bisa berkata bahwa ia gundah, sebab tak lagi mengenali semua wajah-wajah yang dulu jelas dalam memorinya.

Doaku untukmu selalu terucap bersama mata yang perlahan menutup, lalu membawa doa itu ke dalam. Menyimpannya rapat dalam sebuah ruangan kecil di hati. Untuk nenek yang terkasih, yang selalu kupanggil 'mamak'.

You know you're being older..bersama waktu yang tak pernah meminta izin kita untuk terus berjalan dan berputar.

Jul 29, 2014 9:32:07 AM